Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Harga Emas dan Perak Kompak Menguat di Penutupan Pekan

SABTU, 18 APRIL 2026 | 08:47 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Performa harga emas menunjukkan penguatan signifikan pada penutupan pekan ini. 

Laporan Reuters menyebutkan bahwa di pasar spot, harga emas melonjak 1,5 persen ke level 4.861,32 Dolar AS per ons pada penutupan perdagangan Jumat 17 April 2026. Angka ini adalah kenaikan total lebih dari 2 persen sepanjang pekan. 

Sejalan dengan itu, kontrak berjangka emas AS juga ditutup menguat 1,5 persen pada harga 4.879,60 Dolar AS.


Dominasi tren positif ini didorong oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Iran melalui media sosial X yang menjamin bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz akan tetap berjalan normal sesuai koordinasi otoritas maritim setempat. 

Kepastian pembukaan jalur strategis ini langsung menekan harga minyak dunia, yang pada gilirannya meredakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi. Kondisi ini diperkuat oleh optimisme Presiden AS Donald Trump yang meyakini bahwa kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik Iran akan segera tercapai.

Analis senior dari Zaner Metals, Peter Grant, menilai bahwa normalisasi di Selat Hormuz adalah katalis utama yang menghidupkan kembali ekspektasi penurunan suku bunga. Mengingat emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, pelonggaran kebijakan moneter menjadikannya jauh lebih menarik.

Grant bahkan memprediksi harga emas memiliki momentum kuat untuk segera menembus angka psikologis 5.000 Dolar AS per ons.

Sentimen bullish ini juga menjalar ke logam mulia lainnya. Perak mencatatkan lonjakan harian sebesar 4,2 persen ke level 81,71 Dolar AS per ons, mengakumulasi kenaikan mingguan lebih dari 7 persen. 

Sementara itu, Platinum dan Palladium kompak menguat sebesar 1,6 persen, masing-masing berada di posisi 2.118,30 Dolar AS dan 1.576,15 Dolar AS, yang menjaga keduanya tetap berada dalam jalur kenaikan mingguan yang solid.

Di sisi lain, pasar fisik di India saat ini tengah mengalami hambatan karena bank-bank menghentikan pesanan impor akibat kendala birokrasi di bea cukai.

Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

UPDATE

IPC TPK Catat Pertumbuhan Positif pada Awal Triwulan II 2026

Selasa, 19 Mei 2026 | 16:10

Rekayasa Lalin di Harmoni Berlaku hingga September Imbas Proyek MRT Jakarta

Selasa, 19 Mei 2026 | 16:01

Membaca Ulang Tantangan Klaim Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:59

Belum Ada Update Nasib 5 WNI yang Ditahan Israel

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:58

Cadangan Beras RI Tembus 5,37 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:52

Optimisme Pemerintah Jangan Sekadar Lip Service

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:50

KSAD Tegaskan Pembubaran Nobar ‘Pesta Babi’ Atas Permintaan Pemda

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:45

Beras RI Berlimpah, Zulfikar Suhardi Harap Harga Tetap Terjangkau

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:26

Prabowo Dijadwalkan Hadir di DPR Bahas RAPBN 2027

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:26

Dosen Lintas Kampus Kolaborasi Dorong Perlindungan Kerja

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:15

Selengkapnya