Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Wall Street Hijau: Nasdaq Terbang Tinggi

SABTU, 18 APRIL 2026 | 08:03 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Indeks saham utama di Wall Street terus menguat dan mencetak rekor baru setelah sentimen pasar membaik menyusul perkembangan geopolitik terbaru pasca dibukanya kembali Selat Hormuz.

Dikutip dari Reuters, Sabtu 18 April 2026, pada penutupan Jumat indeks Nasdaq mencatat kenaikan 1,52 persen dan menjadi rekor penutupan tertinggi untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, sekaligus memperpanjang reli menjadi 13 hari -- yang terpanjang sejak 1992. 

Sementara itu, S&P 500 naik 1,20 persen dan juga mencetak rekor baru, sedangkan Dow Jones melonjak 1,79 persen ke level tertinggi sejak akhir Februari. Dalam sepekan, ketiga indeks ini mencatat kenaikan signifikan, dengan Nasdaq memimpin penguatan.


Sentimen positif ini dipicu oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, yang menyebut jalur pelayaran komersial melalui Selat Hormuz telah kembali terbuka. Selain itu, Presiden AS Donald Trump juga mengindikasikan kemungkinan dimulainya pembicaraan damai dengan Iran dalam waktu dekat. 

Dari sisi sektor, saham-saham konsumsi non-esensial menjadi pendorong utama kenaikan pasar, dengan perusahaan kapal pesiar seperti Royal Caribbean dan Carnival Corporation mencatat lonjakan tajam. Sektor industri juga menguat, didukung oleh kenaikan saham maskapai seperti United Airlines. Di sisi lain, sektor energi menjadi satu-satunya yang tertekan, dengan saham Exxon Mobil dan Chevron mencatat penurunan.

Saham berkapitalisasi kecil juga menunjukkan performa kuat. Indeks Russell 2000 naik 2,1 persen dan mencetak rekor penutupan baru. Hal ini menunjukkan bahwa optimisme pasar tidak hanya terbatas pada saham-saham besar, tetapi juga merata ke perusahaan yang lebih kecil.

Namun, tidak semua saham bergerak positif. Saham Netflix anjlok hampir 10 persen setelah proyeksi pendapatan yang mengecewakan serta kabar mundurnya salah satu pendiri, Reed Hastings. Selain itu, Alcoa juga melemah setelah melaporkan kinerja keuangan di bawah ekspektasi akibat tingginya biaya dan lemahnya permintaan.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya