Berita

Banjir menggenangi sejumlah wilayah di Provinsi Kalimatan Selatan, pasca hujan dengan intensitas tinggi pada Rabu 15 April 2026. (Foto: BPBD Provinsi Kalimantan Selatan)

Nusantara

BNPB Catat 23 Bencana dalam Dua Hari

KAMIS, 16 APRIL 2026 | 17:28 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 23 kejadian bencana dalam kurun waktu dua hari ini.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menjelaskan, jumlah kejadian bencana tersebut terjadi di wilayah Indonesia dalam periode Rabu hingga Kamis, 15-16 April 2025 per pukul 07.00 WIB.

"Terdapat delapan kejadian menonjol yang berdampak signifikan dan perlu mendapatkan perhatian," ujar Abdul Muhari kepada RMOL, Kamis 16 April 2026.


Khusus kejadian menonjol atau serius, Abdul Muhari mengatakan, awalnya terjadi dari sejumlah kejadian baru di beberapa wilayah Provinsi Jawa Barat.

Abdul Muhari mengurai, ada banjir di Kabupaten Bandung terjadi di Kecamatan Majalaya (Desa Bojong) dan Kecamatan Bojongsoang (Desa Bojongsoang, Bojongsari, dan Tegalluar). 

"Peristiwa ini berdampak pada 95 KK atau 250 jiwa. Hingga saat ini, ketinggian muka air (TMA) di Kecamatan Bojongsoang masih 10-150 cm," paparnya.

Kemudian wilayah bencana serius kedua, lanjut Abdul Muhari, terjadi banjir di wikayah Jawa Tengah yaitu Kabupaten Sukoharjo pada Selasa 14 April 2026 akibat hujan intensitas tinggi dan luapan beberapa sungai, di antaranya Kali Jenes dan Kali Pepe.

Bencana ini melanda 19 desa yang berada di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Baki, Grogol, Kartasura, Gatak, dan Mojolaban. 

Sebanyak satu jiwa meninggal dunia, 1.211 KK atau 3.792 jiwa terdampak, serta 178 jiwa mengungsi. 

"Kondisi terkini menunjukkan banjir berangsur surut dengan TMA (tinggi muka air) 10-40 cm," katanya.

Selanjutnya, terjadi banjir di Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur, yang pada Senin 13 April melanda Kecamatan Socah (Desa Bilaporah), dan berdampak pada 220 KK dengan jumlah rumah terdampak yang sama.

Sedangkan di Provinsi Kalimantan Selatan, banjir Kabupaten Hulu Sungai Tengah terjadi pada Rabu 15 April 2026 yang melanda Kecamatan Haruyan di enam desa, yaitu Desa Hapulang, Mangunang, Mangunang Seberang, Haruyan, Haruyan Seberang, dan Lokbuntar. Bencana ini berdampak pada 866 KK atau 2.876 jiwa dan saat ini dilaporkan berangsur surut," sambungnya menyebutkan.

Selain kejadian baru, Abdul Muhari juga mengatakan pemutakhiran data pada beberapa kejadian bencana yang masih dalam penanganan, seperti kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau pada sembilan kabupaten dan dua kota, meliputi Kabupaten Siak, Bengkalis, Kampar, Pelalawan, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Kepulauan Meranti, Rokan Hilir, Kuantan Singingi, serta Kota Pekanbaru dan Dumai. 

"Hingga kemarin, luas lahan terbakar tercatat mencapai 3.457,73 hektare. Status siaga darurat telah ditetapkan sejak 13 Februari 2026 hingga 30 November 2026. BNPB melakukan pendampingan di antaranya operasi modifikasi cuaca (OMC)," ucapnya.

Banjir di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, juga dilaporkan Abdul Muhari dalam pengkinian data yang melanda 11 desa dan 3 kelurahan yang ada di enam kecamatan, yaitu Kecamatan Bojongsoang, Baleendah, Dayeuhkolot, Rancaekek, Solokanjeruk, dan Majalaya. 

"Total dampak mencapai satu korban meninggal dunia dan 10.200 KK atau 29.445 jiwa terdampak. Beberapa wilayah telah berangsur surut dengan TMA 10–160 cm," jelas dia untuk kejadian serius ketujuh.

Terakhir, Abdul Muhari mencatat kejadian serius banjir di Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, yang terjadi sejak Selasa 14 April 2026 melanda 14 kelurahan di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Laweyan, Pasar Kliwon, Serengan, dan Jebres. 

"Peristiwa ini berdampak pada 1.083 KK. Sebagian besar wilayah telah surut, dengan sisa genangan 10–30 cm dan warga mulai melakukan pembersihan," ungkapnya.

Mengingat kejadian-kejadian itu, Abdul Muhari menegaskan bahwa potensi bencana hidrometeorologi basah masih tinggi di sejumlah wilayah Indonesia, seiring dengan kondisi cuaca yang dinamis. 

"Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, khususnya yang berada di daerah rawan bencana, dengan memantau informasi resmi dari pemerintah dan segera melakukan langkah evakuasi apabila terjadi peningkatan potensi bahaya," demikian Abdul Muhari.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya