Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Emas Tergelincir di Tengah Redanya Ketegangan Timur Tengah

KAMIS, 16 APRIL 2026 | 07:35 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam satu bulan, harga emas akhirnya mendarat di zona merah pada penutupan perdagangan Rabu 15 April 2026. 

Pelaku pasar kini mulai mengalihkan fokus dari ketegangan geopolitik menuju realitas kebijakan suku bunga yang ketat.

Laporan Reuters menyebutkan, emas spot dan berjangka kompak melemah setelah reli panjang. 


Analis menilai penurunan ini merupakan dampak wajar dari investor yang mulai mencairkan keuntungan (profit-taking).

Emas spot turun 0,9 persen ke level 4.798,89 Dolar AS per ons. Sedangkan emas berjangka AS terkoreksi 0,5 persen ke posisi 4.823,60 Dolar AS per ons.

Ada fenomena menarik di pasar saat ini. Menurut Jim Wyckoff dari Kitco Metals, emas mulai kehilangan pola tradisionalnya sebagai aset aman (safe-haven). 

Logam kuning kini justru cenderung menguat saat minat risiko pasar tinggi dan melemah saat pasar khawatir, menandakan bahwa proyeksi inflasi dan kebijakan moneter lebih mendominasi ketimbang ketakutan akan perang.

Dua faktor utama yang menekan daya tarik emas hari ini adalah sinyal damai, di mana Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa konflik Iran-Israel mendekati akhir, ditambah upaya diplomatik Pakistan di Teheran yang meredam kekhawatiran pasar.

Presiden Chicago Fed, Austan Goolsbee, memperingatkan bahwa jika harga minyak tetap tinggi akibat konflik, penurunan suku bunga bisa tertunda hingga 2027. Saat ini, peluang pemangkasan bunga di 2026 menyusut hingga tersisa 32 persen.

Suku bunga tinggi adalah musuh alami emas. Hal ini meningkatkan opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil, sehingga investor cenderung beralih ke instrumen lain.

Di saat emas merosot, logam industri dan pasar energi bergerak variative. Perak turun tipis 0,2 persen menjadi 79,40 Dolar AS. Platinum naik 0,8 persen menjadi 2.119,52 Dolar AS. Sedangkan Paladium merosot 1,1 persen menjadi 1.570,10 Dolar AS.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Merawat Tradisi Intelektual Mahasiswa Lewat Peluncuran Buku Pergerakan

Senin, 06 Juli 2026 | 03:59

Demokrasi Liberal dan Benteng Oligarki

Senin, 06 Juli 2026 | 03:43

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

Senin, 06 Juli 2026 | 03:20

Polresta Bandara Soetta Bongkar Home Industry Vape Isi Ganja Beromzet Miliaran

Senin, 06 Juli 2026 | 02:59

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

Senin, 06 Juli 2026 | 02:35

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

Senin, 06 Juli 2026 | 02:12

Nyali Semesta: Ali Khamenei dan Puncak Kepemimpinan Transendental

Senin, 06 Juli 2026 | 01:57

UMKM dan Budaya Minangkabau Bergaung di Malaysia

Senin, 06 Juli 2026 | 01:40

Jaksa telah Berubah Menjadi Pengacara Jokowi

Senin, 06 Juli 2026 | 01:20

Aiptu Sumaryanto jadi Korban Ketiga yang Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59

Selengkapnya