Berita

Kolase Pelabuhan Tanjung Priok dan Patimban. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Publika

Priok Vs Patimban: Ketika Kemacetan jadi Masalah Struktural

KAMIS, 16 APRIL 2026 | 04:16 WIB

DALAM diskusi logistik nasional, Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Patimban sering ditempatkan seolah berada dalam kompetisi langsung. Padahal, keduanya lebih tepat dipahami sebagai pembagian peran dalam satu sistem logistik.
 
Sekitar 80 persen kargo yang saat ini dimuat dan dibongkar di Tanjung Priok sebenarnya memiliki hinterland yang secara geografis lebih dekat ke wilayah Patimban. Secara jarak dan potensi efisiensi, ruang pergeseran itu nyata.
 
Namun kenyataannya, arus tersebut tetap terkonsentrasi di Priok. Ekosistem yang sudah terbentuk lama membuat perubahan jalur tidak mudah. Ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga keputusan bisnis yang sudah terkunci dalam satu pola distribusi.
 

 
Masalah di Pelabuhan Tanjung Priok hari ini bukan lagi sekadar kapasitas. Yang paling nyata adalah kemacetan yang bersifat sistemik dan berulang, yang sudah menjadi bagian dari struktur operasional harian.
 
Kenyataannya, kemacetan mulai meningkat sejak hari Kamis, seiring konsentrasi kegiatan bongkar muat untuk kapal-kapal yang berangkat di akhir pekan--yang menyerap sekitar 80 persen volume ekspor. Pola ini menciptakan tekanan lalu lintas yang berulang setiap minggu.
 
Rencana pembangunan akses  baru seperti Northern Access Road dari Terminal Kalibaru ke Marunda memang terlihat sebagai solusi. Namun kenyataannya, langkah ini lebih berpotensi menggeser titik kemacetan, bukan menyelesaikan akar persoalan.
 
Artinya, persoalan utama bukan berada di dalam terminal, tetapi pada sistem distribusi yang terlalu terkonsentrasi di satu pelabuhan.
 
Di sisi lain, Pelabuhan Patimban berada dalam posisi yang semakin strategis untuk mengurangi beban tersebut. Masih ada ruang kapasitas, pengembangan masih terbuka, dan kedekatannya dengan kawasan industri otomotif serta manufaktur di Jawa Barat memberi basis arus yang jelas.
 
Namun persoalannya bukan semata infrastruktur, melainkan keberanian untuk mengubah pola distribusi.
 
Jika pola ini tidak berubah, maka tekanan terhadap Priok akan terus berulang.
 
Bambang Sabekti
Praktisi kepelabuhanan dan logistik nasional
 


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya