Berita

Seminar nasional yang digelar ILUNI UI dan IKA ITB di Financial Hall CIMB Niaga, Jakarta, Selasa 14 April 2026. (Foto: Istimewa)

Politik

MA dan Kejagung Beda Sikap soal Business Judgment Rule di Kasus Korupsi Korporasi

RABU, 15 APRIL 2026 | 13:52 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Perbedaan pandangan antara Mahkamah Agung (MA) dan Kejaksaan Agung (Kejagung) terkait penerapan business judgment rule (BJR) dalam kasus korupsi korporasi mencuat dalam seminar nasional bertajuk Manajemen Risiko dalam Streamlining Bisnis BUMN di Era KUHP dan KUHAP Baru yang digelar oleh ILUNI UI dan IKA ITB di Financial Hall CIMB Niaga, Jakarta, Selasa 14 April 2026.

Dalam forum tersebut, Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara Narendra Jatna menegaskan bahwa kehadiran KUHP baru membawa perubahan mendasar dalam pendekatan hukum pidana, yakni tidak hanya berfokus pada individu (in personam), tetapi juga pada aset (in rem).

Menurutnya, pendekatan ini menandakan bahwa penegakan hukum tidak hanya bertujuan memenjarakan pelaku, tetapi juga memastikan pemulihan kerugian negara melalui pengelolaan aset. Dalam konteks tersebut, ia menilai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak dapat sepenuhnya bergantung pada prinsip business judgment rule ketika berhadapan dengan hukum pidana.


"Penting kiranya BUMN mengacu pada standar internasional seperti United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), khususnya dalam hal pengendalian internal, mekanisme anti-suap, serta transparansi pengambilan keputusan," kata Narendra, dikutip Rabu 15 April 2026.

Dalam standar UNCAC dan OECD tersebut, kata Narendra, praktik korupsi tidak hanya terjadi di sektor publik, tetapi juga dapat mencakup sektor swasta.

Pandangan berbeda disampaikan oleh Hakim Agung Mahkamah Agung (MA), Achmad Setyo Pudjoharsoyo. Ia menjelaskan bahwa MA tetap mengakui business judgment rule sebagai prinsip perlindungan hukum yang sah bagi direksi dan pengurus perusahaan.

Menurutnya, BJR berfungsi sebagai dasar pembenar atau pemaaf yang dapat menghalangi terpenuhinya unsur melawan hukum atau penyalahgunaan wewenang dalam perkara pidana, selama keputusan bisnis diambil dengan itikad baik, berdasarkan informasi yang memadai, serta tanpa konflik kepentingan.

"Tanpa pengakuan yang jelas terhadap prinsip BJR, akan sulit menarik profesional untuk menduduki posisi strategis di BUMN. Hal ini karena risiko bisnis yang dikelola secara wajar tidak seharusnya dikriminalisasi," kata Setyo.

Menanggapi perbedaan tersebut, Guru Besar Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Harkristuti Harkrisnowo menilai, perlunya kesamaan persepsi antara MA dan Kejagung dalam memahami penerapan BJR.

Ia mengungkapkan bahwa dalam praktiknya masih terdapat inkonsistensi, di mana dalam beberapa kasus perusahaan dijadikan terdakwa tetapi pengurus yang dihukum, sementara dalam kasus lain justru sebaliknya. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum.

Sementara itu, Ketua ILUNI UI, Pramudya A Oktavinanda menyampaikan bahwa KUHP dan KUHAP baru sebenarnya membuka lebih banyak alternatif dalam penyelesaian perkara pidana, tidak hanya berfokus pada hukuman penjara dan denda seperti sebelumnya.

Ia berharap forum tersebut dapat mendorong kesamaan pemahaman di kalangan pemangku kepentingan dalam menjalankan bisnis yang sehat dan sesuai hukum, sehingga dapat menghindari potensi overcriminalization, terutama dalam kebijakan bisnis yang merupakan bagian dari agenda pemerintah.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Naming Rights Halte untuk Parpol Dinilai Politisasi Ruang Publik

Rabu, 15 April 2026 | 12:19

Iran Taksir Kerugian Akibat Serangan AS-Israel Capai Rp4.300 Triliun

Rabu, 15 April 2026 | 12:13

Prima Sebut Wacana PDIP Gaji Guru Rp5 Juta Ekspektasi Semu

Rabu, 15 April 2026 | 12:12

Kasus Pelecehan di FHUI Jadi Ujian Integritas Kampus

Rabu, 15 April 2026 | 12:06

Temui Dubes UEA, Waka MPR Pacu Investasi dan Transisi Energi

Rabu, 15 April 2026 | 11:52

IPC TPK Sukses Kelola 850 Ribu TEUs di Awal 2026

Rabu, 15 April 2026 | 11:41

Diduga Dianiaya Senior, Anggota Samapta Polda Kepri Tewas

Rabu, 15 April 2026 | 11:34

Auditor BPKP Ungkap Kerugian Pengadaan Chromebook Terjadi Selama 3 Tahun

Rabu, 15 April 2026 | 11:32

Soal Kasus Bea Cukai, Faizal Assegaf Ungkap Kronologi Hubungan dengan Rizal

Rabu, 15 April 2026 | 11:21

Zelensky Sindir AS Kehilangan Fokus ke Ukraina Akibat Perang Iran

Rabu, 15 April 2026 | 11:03

Selengkapnya