Berita

Seskab Teddy Indra Wijaya (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Politik

"Inflasi Pengamat” Disorot, Jamiluddin Singgung Menteri Tak Sesuai Bidang

SELASA, 14 APRIL 2026 | 12:44 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pernyataan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang menyoroti adanya fenomena “inflasi pengamat”, menjadi sorotan pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga.

Pasalnya, Seskab Teddy menyebut fenomena itu muncul akibat semakin banyak pihak yang menyampaikan opini di ruang publik tanpa didukung latar belakang keahlian dan data yang memadai.

Jamiluddin menilai, pandangan tersebut ada benarnya jika hanya dilihat dari latar belakang pendidikan. Ia mengakui, terdapat pengamat yang menyampaikan opini pada bidang yang tidak sesuai dengan keahlian akademiknya.


Namun demikian, ia menegaskan bahwa keahlian seseorang tidak semata ditentukan oleh latar belakang pendidikan formal. Pengalaman kerja dan keterlibatan langsung dalam suatu bidang juga dapat membentuk kompetensi seseorang.

“Bisa saja seseorang berlatar belakang pendidikan teknik sipil namun lebih banyak bekerja di partai politik, sehingga ia sangat memahami seluk beluk politik,” kata Jamiluddin kepada wartawan, Selasa, 14 April 2026.

Jamiluddin pun mencontohkan profesi wartawan yang meskipun berlatar belakang pendidikan non-politik, namun karena ditempatkan di desk politik, akhirnya memiliki pemahaman yang mendalam di bidang tersebut.

Fenomena perbedaan antara latar belakang pendidikan dan keahlian profesional, menurutnya, merupakan hal yang umum terjadi di Indonesia. 

Ia bahkan menyinggung sejumlah pejabat publik yang tidak selalu memiliki latar belakang pendidikan sesuai bidang yang diemban, termasuk Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

“Menteri ESDM Bahlil, tidak memiliki keahlian (pendidikan di bidang) energi. Hal yang sama juga mungkin terjadi pada beberapa menteri lainnya,” kata Jamiluddin, 

Karena itu, Jamiluddin menilai seorang pengamat tetap dapat memiliki keahlian khusus selama didukung pengalaman dan kemampuan analisis yang memadai.

Ia menekankan, untuk menjadi pengamat yang kredibel dibutuhkan kombinasi kemampuan analisis, integritas, serta keahlian khusus di bidang tertentu.

“Jadi, soal integritas menjadi penting bagi pengamat. Sebab, pengamat harus mengedepankan kejujuran, objektif, dan tidak memihak,” tegasnya.

Dengan demikian, kata Jamiluddin, penilaian terhadap pengamat seharusnya tidak didasarkan pada siapa yang berbicara, melainkan pada substansi atau isi yang disampaikan.

“Kalau itu yang dijadikan acuan untuk menilai pengamat, idealnya tidak ada inflasi pengamat,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “inflasi pengamat” dalam konferensi pers di kawasan Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu, 10 April 2026. 

Ia melihat kecenderungan meningkatnya jumlah pengamat yang memberikan pandangan di luar bidang keahliannya, sehingga memicu distorsi informasi di ruang publik.

“Sekarang ini ada satu fenomena. Apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat. Jadi banyak sekali pengamat, oke,” ujar Teddy.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Golkar: Putusan MK soal Gibran jadi Pukulan Telak

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 12:00

UPDATE

Wajib Halal Oktober 2026, Kesiapan UMKM dan Literasi Konsumen Jadi Tantangan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:19

BBCA Pimpin Transaksi Saham, Nilainya Tembus Rp353 Miliar saat IHSG Menguat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:06

Tiru LPDP, Pemprov DKI Siapkan Beasiswa Luar Negeri

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:01

SBY Bercanda soal Batuk Prabowo dan Nasib Rupiah

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:54

CUAN Ramai Diperdagangkan, Nilai Transaksi Tembus Rp196 Miliar

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:47

Ketika Pelaku Tidak Ditemukan, Bagaimana Nasib Barang Bukti yang Disita?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:42

IPC TPK Buka Direct Call Penghubung RI-Tiongkok-Thailand

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:41

Saat Karhutla Membara, Mereka Malah Korupsi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:25

56 Tahun INACA dan Misi Historis Penerbangan Indonesia

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:15

BNPB: Penanggulangan Bencana Tak Terpengaruh OTT KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:15

Selengkapnya