SUSTAINABLE Development Goal (SDG) atau Sasaran Pembangunan berkelanjutan adalah konsep sentral saat ini (Roös, 2021). SDG adalah cara untuk memahami dunia dan metode untuk memecahkan masalah global (Sachs dan Schmidt-traub, 2015). Tantangan keberlanjutan menjadi semakin penting dalam strategi jangka panjang perusahaan, bagi klien mereka, dan bagi pemangku kepentingan eksternal, yang mencakup peningkatan permintaan akan sumber daya alam, ketidaksetaraan ekonomi, dan perubahan iklim (Baumann, 2009).
Bisnis harus menangani dampak lingkungan mereka tanpa mengabaikan sumber daya bumi yang terbatas dan harus berkontribusi pada ruang operasi yang aman untuk pembangunan manusia (Muñoz-Torres dkk., 2019). Masalah lingkungan saat ini membutuhkan teknologi yang lebih ramah lingkungan, namun belum jelas apakah teknologi ini saja akan cukup untuk menjamin masa depan yang berkelanjutan secara lingkungan (Kemp, 1994). Untuk itu dibutuhkan kemampuan keuangan berkelanjutan (sustainable finance) untuk membiayai operasional perusahaan.
Sustainable Finance (SF) atau Keuangan berkelanjutan didefinisikan sebagai proses mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial saat akan memutuskan untuk berinvestasi (Komisi Eropa, 2019). Dengan kata lain, Keuangan berkelanjutan mengacu pada praktik prinsip-prinsip berkelanjutan dalam keuangan dan menekankan aspek lingkungan, pembangunan, dan kelembagaan investasi untuk mendorong pembangunan berkelanjutan (Cheng dkk., 2019). Namun, seringkali sulit untuk membedakan berbagai peristilahan yang berkembang saat ini antara lain keuangan hijau, keuangan iklim (Zhang dkk., 2019), keuangan karbon, keuangan berkelanjutan, dan istilah-istilah terkait lainnya.
Keuangan dapat mendukung pencapaian sasaran pembangunan berkelanjutan (SDG) pada tiga tingkatan yakni: (i) tingkat ekonomi, mengoptimalkan kinerja keuangan dan kompensasi risiko. Orientasi keuangan pada tingkat ini mendukung gagasan memaksimalkan keuntungan organisasi dan pertumbuhan ekonomi negara (Schoenmaker dan Schramade, 2019); (ii) pada tingkat sosial, dengan mengoptimalkan dampak keputusan komersial dan keuangan terhadap masyarakat (Raworth, 2017; Schoenmaker, 2018; Schoenmaker dan Schramade, 2019); dan (iii) pada tingkat lingkungan, mengoptimalkan dampak lingkungan (Schoenmaker dan Schramade, 2019).
Ketiga tingkat tersebut saling terkait; oleh karena itu, penting untuk memilih kombinasi yang tepat dari aspek keuangan, sosial, dan lingkungan. Jawaban untuk mengatasi masalah sosial dan lingkungan adalah dengan memasukkannya ke dalam model ekonomi; namun, model-model ini terbatas pada modal dan tenaga kerja, tanpa barang dan jasa dari alam (Schoenmaker dan Schramade, 2019).
Perubahan peran keuangan menuju pendekatan yang mendukung pencapaian sasaran pembangunan berkelanjutan, ekonomi hijau rendah karbon, serta adaptasi dan mitigasi perubahan iklim terjadi sebagai bagian dari proses dengan interaksi multidimensi antara industri, teknologi, pasar, politik, budaya, dan masyarakat sipil.
Masyarakat dan pelaku ekonomi mengharapkan keuangan untuk selaras dengan transisi menuju keberlanjutan. Transisi lingkungan membutuhkan uang untuk mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, perlindungan ekosistem dan keanekaragaman hayati. Namun, hanya sedikit ahli yang fokus pada bidang keuangan berkelanjutan (Ryszawska, 2018).
Mengacu pada artikel Taksonomi dan Kecenderungan Keuangan Berkelanjutan: Analisis literatur yang komprehensif yang disusun oleh Maria del Pilar Rodriguez-Rojas et.al yang diterbitkan dalam Journal Environmental Science menyebutkan bahwa terdapat pengelompokan dalam penelitian Keuangan Berkelanjutan.
Pengelompokan tersebut terbagi dalam 5 bagian yakni: (i) disiplin dan praktik keuangan sedang mengalami pergeseran paradigma dari fokus unidimensional ke fokus multifaset yang mendukung pembangunan berkelanjutan, dari hanya memikirkan manfaat ekonomi menjadi menilai dan memperoleh manfaat sosial dan lingkungan, yang didefinisikan sebagai Keuangan Berkelanjutan; (ii) pergeseran paradigma terjadi pada tingkat multi-sektoral, dengan interaksi dari sektor industri dan teknologi, pasar, kebijakan, komunitas, masyarakat, dan akademisi; (iii) pendekatan baru terhadap Keuangan Berkelanjutan dapat mendukung pembangunan berkelanjutan dengan memecahkan masalah yang disebabkan oleh eksternalitas lingkungan dan sosial negatif; (iv) pengembangan teori dan praktik konsep Keuangan Berkelanjutan masih membutuhkan analisis lebih lanjut untuk mengevaluasi kontribusi instrumen Keuangan Berkelanjutan dalam mengurangi eksternalitas lingkungan dan sosial negatif; (v) seperti yang terlihat, masalah utama penelitian di bidang pengetahuan baru ini adalah kurangnya informasi, indikator, standar yang andal dan terpadu, serta basis data yang lengkap.
Jalur penelitian pertama yang disarankan diidentifikasi sebagai Risiko Iklim dan Adaptasi (kluster biru). Penelitian telah menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia telah mengubah iklim Bumi. Akibatnya, perhatian semakin terfokus pada bagaimana memerangi perubahan iklim dan memberikan peran yang lebih sentral pada adaptasi dalam respons internasional terhadap ancaman ini (van Aalst dkk., 2008). Argumen untuk mengalokasikan lebih banyak sumber daya keuangan dan teknis semakin menguat (Wilby dan Dessai, 2010).
Adaptasi berarti mampu mempertahankan gaya hidup saat ini dalam menghadapi perubahan tren iklim yang diharapkan serta intensitas dan frekuensi peristiwa besar yang dapat memengaruhi kondisi kehidupan masyarakat. Adaptasi terhadap perubahan iklim telah mendapat lebih banyak perhatian, terutama dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) dan di kalangan spesialis pembangunan dan penanggulangan bencana. Banyak yang mencatat peran penting pengurangan risiko bencana dalam adaptasi terhadap perubahan iklim (van Aalst dkk., 2008).
Tantangan dalam meneliti kerentanan terhadap perubahan iklim adalah mengembangkan metode yang kuat dan andal, menggabungkan berbagai metode yang mencakup persepsi risiko dan kerentanan, serta menggabungkan penelitian tata kelola tentang mekanisme yang mengukur kerentanan dan mendorong tindakan adaptif serta ketahanan (Adger, 2006).
Evaluasi ini, alih-alih menggunakan skenario model global masa depan, harus meneliti kerentanan terhadap variabilitas dan kondisi iklim ekstrem saat ini, serta strategi, kebijakan, dan metode adaptasi saat ini, berdasarkan pengalaman nyata di berbagai tingkatan. Oleh karena itu, langkah awal dalam analisis bukanlah teoritis dan berorientasi pada masa depan, tetapi empiris dan berdasarkan pengamatan nyata terhadap risiko iklim saat ini dan bagaimana masyarakat menghadapinya (van Aalst et al., 2008; Wilby dan Dessai, 2010).
Jalur penelitian kedua diidentifikasi sebagai ekonomi energi rendah karbon (kluster hijau), atau ekonomi rendah karbon. Saat ini lebih dari 80 persen konsumsi energi dunia berasal dari bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbarui seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Pembakaran bahan bakar ini menyebabkan emisi CO2, penyebab utama perubahan iklim dan dampak lingkungan serius lainnya (Jacobsson dan Lauber, 2006; W. Li dkk., 2016). Salah satu pilar ekonomi rendah karbon adalah ketergantungan yang lebih besar pada sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan. Dalam beberapa dekade mendatang, transisi menuju ekonomi energi rendah karbon akan terus menjadi dasar kebijakan energi nasional di negara-negara yang berkomitmen pada perjanjian tentang perubahan iklim (Guler, Çelebi dan Nathwani, 2018).
Meskipun banyak pemerintah mengklaim mendukung penyebaran energi terbarukan, tingkat difusi nyata teknologi baru dalam sistem energi sangat bervariasi dari satu negara ke negara lain (Jacobsson dan Lauber, 2006). Kemajuan besar sedang dicapai dalam mengembangkan teknologi canggih untuk menghadapi tantangan ini (Usman dkk., 2021; Ramzan dkk., 2022), meskipun peningkatan kinerja dan efisiensi yang lebih besar akan dibutuhkan untuk menghasilkan teknologi ini secara menguntungkan dalam skala besar (W. Li dkk., 2016). Demikian pula, memastikan ketersediaan dan aksesibilitas layanan energi di dunia yang dibatasi karbon berarti mengembangkan metode baru untuk memproduksi, hidup, dan bekerja dengan energi (Bridge dkk., 2013).
Jalur penelitian ketiga diidentifikasi sebagai Lingkungan, sosial, dan tata kelola (kluster merah). Perusahaan harus menangani dampak lingkungan mereka sambil menghormati sumber daya planet yang terbatas dan harus berkontribusi pada ruang operasi yang aman untuk pembangunan manusia (Henriques dan Sadorsky, 2010; Sachs dan Schmidt-traub, 2015). Dalam konteks ini, muncul kebutuhan akan pemahaman yang lebih besar tentang dampak bisnis terhadap keberlanjutan global untuk membantu perusahaan menciptakan nilai yang lebih berkelanjutan (Henriques dan Sadorsky, 2010).
Sektor jasa keuangan diposisikan untuk menyediakan sebagian besar pembiayaan untuk transisi ekonomi hijau (Sharma dkk., 2022). Investor institusional jangka panjang semakin menyadari potensi peningkatan dalam meminimalkan risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) melalui penciptaan portofolio "hijau" (Jain dkk., 2019; Dutta dkk., 2021), sebuah langkah yang dapat didukung dengan mendefinisikan kerangka peraturan yang mendorong investasi jangka panjang, serta laporan terintegrasi dan berkelanjutan tentang kemajuan dalam menerapkan kriteria ESG (Kudinova dkk., 2012).
Jalur penelitian keempat diidentifikasi sebagai teknologi emisi karbon rendah (kluster kuning). Dari berbagai pilihan untuk mengurangi beban lingkungan, teknologi secara luas dianggap sebagai yang paling menarik (Kemp, 1994). Teknologi akan sangat penting untuk masa depan rendah karbon. Jelas, skenario ini tidak hanya membutuhkan transformasi sistem energi untuk memenuhi target pengurangan emisi global, tetapi juga pemikiran ulang tentang sistem pengaturan suhu rumah tangga, sistem transportasi, penggunaan bahan yang lebih ramah lingkungan, pembuatan barang, dan pembuangan limbah (Kemp, 1994; Sachs, 2016).
Mencapai dekarbonisasi berbagai sistem yang ada saat ini membutuhkan teknologi baru dan lebih baik. Peneliti, ilmuwan, insinyur, dan ahli teknis memainkan peran penting dalam merancang cara untuk mendekarbonisasi sektor-sektor tertentu, terutama sektor energi, industri ekstraksi berat dan transformasi bahan baku, transportasi, dan konstruksi (Sachs, 2016).
Jalur penelitian kelima diidentifikasi sebagai Model ekonomi dan biaya sosial (kluster ungu). Dampak lingkungan dari aktivitas ekonomi saat ini, disengaja atau tidak, tidak terlihat di pasar dan oleh karena itu biayanya tidak terlihat. Biaya ini dikenal sebagai eksternalitas atau biaya eksternal. Ketika eksternalitas dihasilkan, keseimbangan pasar tidak efisien secara sosial, yaitu, biaya sosial dihasilkan, setara dengan biaya produksi ditambah biaya eksternal (Pere Riera; Bengt Kriström, 2005).
Kebijakan dan insentif pasar yang ada telah berkontribusi pada masalah ini karena memungkinkan perusahaan untuk menanggung eksternalitas sosial dan lingkungan negatif, yang sebagian besar tidak diperhitungkan dan tidak terkontrol. “Pasar yang tidak diatur tidak bertujuan untuk menyelesaikan masalah sosial”, dan oleh karena itu diperlukan kebijakan publik yang lebih baik, termasuk regulasi harga, untuk mengubah insentif yang menyimpang dari pasar yang mengabaikan eksternalitas sosial dan lingkungan (Kudinova dkk., 2012).
Dari banyak penelitian yang telah dilakukan terhadap Keuangan Berkelanjutan Nampak sebagian besar menunjuk pada upaya pencapaian Sustainable Development Goal yang telah ditetapkan sebelumnya. Kelima jalur penelitian tersebut diatas menjelaskan bagaimana sektor korporasi dapat mendukung kebijakan pemerintah mengenai perubahan iklim. Dalam hal ini pemerintah hanya melakukan orkestrasi dan penyelarasan Langkah operasional pada kelima bidang Keuangan Berkelanjutan (sustainable finance).
Mengacu pada hal tersebut masih banyak hal yang harus dilakukan oleh Pemerintah antara lain pertama melakukan kodifikasi peraturan perundangan mengenai regulasi perubahan iklim. Kedua, menetapkan time line dan sasaran strategis Sustainable Development Goals untuk menuju Ekonomi Langit Biru. Ketiga mengajak sektor korporasi untuk menjadi penggerak dari keuangan berkelanjutan. Dan keempat pemerintah diharapkan dapat membangun tatanan ekonomi baru yang dapat mengakomodir Carbon market dan Green Financing dalam ekosistem keuangan Indonesia.
Dr Dayan Hakim NS,
Dosen Tetap pada Program MM Universitas Jayabaya