PT Pertamina (Persero) menyiapkan lima strategi utama dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 untuk menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengatakan RKAP 2026 disusun dengan mempertimbangkan berbagai tantangan global, termasuk volatilitas harga energi, gangguan rantai pasok, dan ketidakpastian geopolitik yang berpotensi memengaruhi sektor energi dunia.
“Di tengah berbagai tantangan, Pertamina harus tetap tumbuh sekaligus menjalankan peran strategis sebagai penopang ketahanan energi nasional,” ujar Simon.
Menurut Simon, terdapat lima fokus strategi Pertamina pada 2026. Pertama, menjaga disiplin biaya di seluruh lini bisnis. Kedua, meningkatkan keandalan dan efisiensi operasional. Ketiga, menjalankan investasi secara selektif pada proyek-proyek strategis. Keempat, membangun organisasi yang lebih adaptif terhadap perubahan. Kelima, memperkuat inovasi untuk menghadapi dinamika industri energi.
Selain menjaga ketahanan bisnis, Pertamina juga berupaya memanfaatkan peluang dari perubahan kondisi global melalui peningkatan efisiensi dan optimalisasi operasional, termasuk peningkatan utilisasi kilang dan penguatan penjualan produk energi berkualitas.
“Eksistensi Pertamina bukan hanya soal pertumbuhan, tetapi juga ketahanan, keandalan, dan kedaulatan energi nasional,” tegas Simon.
Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, menambahkan bahwa menjaga pasokan energi bagi masyarakat tetap menjadi prioritas utama perusahaan.
“Kondisi global saat ini menjadi ujian bagi ketahanan energi nasional. Karena itu, Pertamina harus bekerja lebih cepat, lebih adaptif, dan lebih optimal dalam memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi,” ujarnya.
Melalui RKAP 2026, Pertamina menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus memperkuat peran sebagai penggerak ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.