Berita

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Fox News)

Dunia

Trump Klaim Menang, Usulkan Tarif Kapal di Selat Hormuz

SELASA, 07 APRIL 2026 | 07:17 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengklaim kemenangan dalam konflik melawan Iran. 

Dalam pernyataan terbarunya, ia juga mengemukakan ide kontroversial: mengenakan biaya tol bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Trump menyebut bahwa posisi AS sebagai “pemenang” memberinya legitimasi untuk menentukan aturan di jalur laut strategis tersebut.


“Bagaimana jika kita yang memungut biaya? Saya lebih suka itu. Kita adalah pemenangnya. Kita menang,” ujarnya kepada wartawan, dikutip dari Al Jazeera, Selasa 7 April 2026. 

Gagasan ini muncul di tengah situasi yang masih memanas. Meski Trump berulang kali menyatakan Iran telah kalah secara militer, kondisi di lapangan masih menunjukkan ketegangan tinggi. Serangan drone dan rudal dari pihak Iran dilaporkan masih berlangsung, sementara aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terus mengalami gangguan.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati kawasan ini. Karena itu, setiap perubahan kebijakan di wilayah tersebut berpotensi berdampak besar pada ekonomi global.

Komentar terbaru Trump juga disertai tekanan terhadap Teheran. Ia mengeluarkan ultimatum yang disebut sebagai “terakhir”, menuntut Iran membuka kembali jalur pelayaran dan menyetujui syarat dari Washington. Jika tidak, ia mengancam akan memperluas serangan hingga ke infrastruktur sipil seperti jembatan dan pembangkit listrik.

Trump menegaskan bahwa kesepakatan apa pun harus menjamin kelancaran arus minyak dunia. “Kita harus mencapai kesepakatan yang bisa saya terima, dan bagian dari itu adalah lalu lintas minyak yang bebas,” katanya.

Di sisi lain, Iran justru mengisyaratkan pendekatan berbeda. Sejumlah pejabatnya menyatakan bahwa kondisi di Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang. Mereka bahkan mendorong pembentukan pengaturan baru yang melibatkan negara-negara di sekitar selat untuk mengelola jalur tersebut sekaligus melindungi kepentingan Iran.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya