Berita

Dadang tewas digebuki segerombolan preman kampung di Purwakarta. (Foto: Kompas)

Publika

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

SELASA, 07 APRIL 2026 | 04:04 WIB

SELURUH Indonesia mengutuk Israel saat tiga prajurit TNI gugur di Lebanon. Preman kampung ini juga wajib kalian kutuk, karena menewaskan tuan rumah hajatan di Purwakarta.

Di sebuah desa kecil di Purwakarta yang seharusnya dipenuhi doa restu dan tawa bahagia, Sabtu sore, 4 April 2026, berubah menjadi neraka berdarah yang paling biadab dan liar. 

Dadang, ayah pengantin perempuan berusia 58 tahun, tewas digebuki habis-habisan oleh segerombolan preman kampung yang haus darah, haus miras, dan haus uang murahan. 


Nuan bayangkan betapa mengerikannya! Tenda hajatan masih berdiri gagah, aroma makanan dan bunga pengantin masih menyelimuti udara, tapi tiba-tiba jerit tangis pecah saat sang tuan rumah dikejar seperti binatang buruan keluar tenda. 

Lalu, dikeroyok delapan hingga sepuluh orang dalam keadaan mabuk berat. Mereka menghantam kepala, dada, dan tubuhnya dengan belahan bambu kasar, balok kayu, dan pukulan liar hingga darah menyembur ke tanah yang seharusnya suci untuk pernikahan anaknya sendiri.

Semua bermula dari kelakuan premanisme yang sudah busuk hingga ke tulang sumsum. 

Gerombolan parasit masyarakat itu datang memalak dengan muka tembok. Dadang, dengan hati lapang sebagai tuan rumah, sempat memberikan Rp100.000 demi menenangkan. 

Tapi nafsu binatang mereka tak pernah puas. Tak sampai sejam kemudian, mereka kembali menuntut tambahan Rp500 ribu. Katanya, untuk beli miras tambahan supaya mabuk semakin gila. 

Saat Dadang menolak tegas, iblis-iblis kampung itu langsung mengamuk. Keributan meledak, Dadang dikejar keluar tenda, dipukuli secara brutal, ditendang, dihantam dengan benda keras hingga tulang retak dan nyawanya melayang. 

Adiknya, Wahyudin, yang nekat membela pun ikut dihajar massal. Hajatan yang mestinya menjadi hari paling indah bagi anak perempuannya kini berubah jadi kuburan mimpi. 

Tamu berhamburan ketakutan, pengantin terdiam syok, dan ayah tercinta meregang nyawa di depan mata keluarganya sendiri.

Premanisme ini bukan lagi penyakit, melainkan kanker ganas menggerogoti bangsa kita! Mereka bukan manusia, tapi gerombolan pengecut berotot yang hidup dari ketakutan orang kecil. 

Datang ke hajatan bukan untuk mendoakan, tapi untuk merampok keringat tuan rumah dengan ancaman kekerasan. Tolak sedikit saja, langsung dihabisi seperti anjing liar. 

Yang lebih memuakkan, preman-preman kampung ini hanyalah versi kecil dari preman politik dan ormas rasa preman yang lebih besar. 

Mereka yang berpakaian rapi, berkoar soal rakyat, tapi diam-diam memalak proyek, memeras izin, dan mengintimidasi dengan massa bayaran demi kekuasaan dan fulus pribadi. 

Sama saja, haus kuasa murahan, haus duit, haus kekerasan barbar yang tak berperikemanusiaan. 

Muak, sangat muak melihat budaya pemalakan ini masih menggurita di mana-mana. 

Seolah preman-preman bengis ini, baik yang berkopiah maupun yang berdasi, punya hak ilahi atas darah dan air mata rakyat kecil.

Pemakaman Dadang keesokan harinya di TPU Kampung Cijelar, Desa Depok, menjadi lautan air mata yang tak tertahankan. 

Isak tangis pecah memilukan saat jenazah diturunkan ke liang lahat. Kerabat dan keluarga besar larut dalam duka yang menyayat jiwa. 

Dua anak korban nyaris pingsan. Saudara-saudara lain hampir ambruk, tangisan mereka menggema seperti ratapan yang tak pernah reda. Suasana haru dan pilu menyelimuti segalanya. 

Seorang ayah yang baik, yang hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, kini dikuburkan dalam kesedihan yang tak terperi. 

Sepupu korban, Asep Rabani, dengan suara parau penuh getar mewakili keluarga, “Kami serahkan semuanya kepada pihak berwenang. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi dan menjadi pelajaran bagi kita semua.” 

Kata-kata itu terdengar pasrah, tapi di baliknya menggelegar amarah dan kepedihan mendalam atas kehilangan yang begitu kejam.

Polisi Polres Purwakarta telah bergerak. Satreskrim mengidentifikasi semua pelaku. 

Satu di antaranya, Kendi Renaldi (34), sudah menyerahkan diri. Sisanya masih diburu seperti anjing liar yang kabur ke semak-semak. 

Tapi bagi keluarga Dadang, semua itu terasa terlambat. Nyawa ayah mereka sudah direnggut secara liar, hajatan bahagia berubah jadi trauma seumur hidup.

Tragedi barbar ini harus menjadi cambuk bagi kita semua. Premanisme, baik preman kampung yang mabuk maupun preman politik dan ormas yang sok suci, adalah musuh bersama yang harus dibasmi hingga ke akar-akarnya tanpa ampun! 

Berapa lagi ayah, ibu, dan anak tak bersalah yang harus mati digebuki preman haus darah sebelum negeri ini bangkit membersihkan diri? 

Darah Dadang menjerit meminta keadilan. Air mata keluarganya masih mengalir deras, menyayat hati siapa pun yang mendengar. 

Kutuklah premanisme ini sekeras-kerasnya, biarlah mereka hidup dalam rasa takut yang sama, karena kebiadaban mereka tak pantas mendapatkan maaf dari bangsa yang beradab. 

"Marah benar nampaknya abang ni!"

"Tanda masih ada rasa kemanusiaan, wak. Kalau hilang, macam Israel dan Amerika jadinya, preman global."

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Istana Minta Kritik terhadap BI Dijadikan Evaluasi Penguatan Komunikasi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:23

Kursi Dua Wamen Kosong, Pemerintah Belum Siapkan Pengganti

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:10

Mensesneg soal Kabar Said Iqbal Masuk Kabinet: Masih Didiskusikan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:59

Mubes V Kosgoro 1957 Digoyang Penolakan Daerah

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:52

AS Hantam Iran dengan Sanksi Baru, Jaringan Penyelundupan LPG Jadi Target

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:37

Istana Bantah Isu Menkeu dan Gubernur BI Bakal Dicopot

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:31

Prasetyo Hadi: Sinergi Pemerintah, DPR, dan BI Kunci Jaga Stabilitas Ekonomi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:20

Bank Indonesia Sudah Intervensi, Mengapa Rupiah Tetap Melemah?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:08

Menkeu Purbaya Bantah Omzet Warteg Turun Jadi Bukti Daya Beli Lesu

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:47

Daftar Komoditas Dirilis, Danantara SDI Siap Kendalikan Rezim Baru Ekspor RI

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:21

Selengkapnya