Berita

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).(Foto: Dok RMOL)

Publika

Manuver Politik PBNU Kecentilan

SENIN, 06 APRIL 2026 | 03:03 WIB

TERDENGAR kabar di berbagai pemberitaan soal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan saran pada Kedutaan Besar Iran dan Amerika Serikat (AS) agar perang segera berhenti dan dilanjutkan dengan perundingan damai. 

Saya kok jadi bingung, Iran yang duluan diserang oleh AS dan Israel, kemudian Iran membalas serangan-serangan AS dan Israel itu secara presisi dan membuat terperangah dunia dengan kemajuan persenjataannya, kok kemudian Iran disuruh berhenti perang dan memilih jalur damai? Apa itu tidak salah alamat?

Apalagi yang menyuruh damai ini PBNU, Ketuanya KH Yahya Cholil yang sebelumnya selalu percaya diri dan pernah mendatangi Israel.


Termasuk mengadakan pertemuan khusus dengan para pejabat Israel, salah satunya PM Benjamin Netanyahu yang akhirnya dicemooh oleh jutaan Netizen, tak terkecuali warga Nahdliyin.

Ini aneh sekali. Ketum PBNU idealnya dahulu itu mendatangi tokoh-tokoh Islam dunia, seperti almarhum Ali Khamenei di Iran, bukannya malah mengunjungi Israel dan mengadakan pertemuan tertutup dengan Netanyahu.

Permintaan PBNU pada Iran agar selekasnya damai, itu ibarat ada satu orang yang tidak bersalah apa-apa, lalu tiba-tiba dikeroyok oleh dua orang bertubuh besar. 

Satu orang yang dikeroyok itu bangkit melawan, balas memukuli dua orang yang pertama memukulinya. Namun tiba-tiba datang orang peyot yang minta orang tersebut berhenti membalas dan menyuruhnya damai saja. 

Apa hal tersebut benar dan adil? 

Jangankan PBNU yang menginginkan Iran segera mengakhiri perang dan menempuh jalan damai, Presiden Prabowo Subianto dan Donald Trump saja tidak digubris (tak dihiraukan) oleh Iran, apalagi PBNU. 

Sebab bagi Iran, yang pertama kali bikin gara-gara melanggar hukum internasional, dengan menyerbu Iran tanpa pemberitahuan apapun (tidak ada deklarasi perang sebelumnya) dan membunuh Pemimpin Tertinggi Iran bersama keluarganya itu AS dan Israel. 

Maka AS dan Israel lah yang harusnya pertamakali mengakhiri perang dengan menarik semua pasukannya dari medan perang, kemudian menjamin tidak ada lagi serangan dari AS dan Israel terhadap Iran. Jadi bukan malah dibalik, Iran yang diminta mengakhiri perang.

Oleh sebab itu semua, saya katakan manuver politik PBNU itu salah dan kecentilan! 

Sebagai warga Nahdliyin saya malah menganjurkan, sebaiknya PBNU lebih fokus saja untuk melakukan evaluasi total terhadap organisasinya sendiri. 

Ketum PBNU yang banyak menstimulus terjadinya konflik internal di tubuh NU, sampai-sampai pernah mau dimakzulkan oleh Rais Aamnya, harus rajin tafakur di masjid biar jadi orang yang bijak dan tidak ceroboh lagi. 

Mayoritas umat Islam di negeri ini sedang menyemangati Iran agar menang melawan AS dan Israel, masak PBNU malah minta Iran segera mengakhiri perang, ya pasti kalian akan kami soraki: Huuuuu.

PBNU harus bisa mengoordinir kader-kader Nahdliyin yang potensial di bidangnya masing-masing, yang jika negara membutuhkannya, PBNU sudah siap menyodorkan orang-orangnya. 

Manuver-manuver politik centil, gaya-gayaan seperti mendatangi Benjamin Netanyahu yang terbukti sebagai dajjal modern sebagaimana Donald Trump itu jangan pernah diulangi lagi. 

Sebab semua orang juga tahu, Yahya Cholil bukanlah Gus Dur yang populer dengan kepiawaian manuver politiknya, yang diimbangi dengan pengetahuan sejarah dan keislamannya yang luas. Wallahu a'lamu bishawab.

Saiful Huda Ems
Warga Nahdliyin Alumnus Ponpes Tebuireng Jombang (1985-1991)

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ijazah Gibran Jadi Bom Waktu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 02:03

Danantara Gelontorkan Rp4,4 Triliun untuk Masuk Bisnis Migas AS

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:31

PIP dan KIP Kuliah Tak Boleh Lagi Salah Sasaran

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:21

Jangan Korbankan Konektivitas Antar Pulau Gegara Kebijakan Panik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:09

Inilah Beda FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:34

Ahmad Doli Soroti Dugaan Bullying Bocah SD di Pemalang: Mukanya Lucu-lucu, tapi Berstatus Pembunuh

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:21

Gibran Tak Punya Ijazah SMA, Said Didu: Pemakzulan Bisa Lewat Proses Politik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:04

Danantara Penetrasi ke Ekosistem Aviasi Timur Tengah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:43

34 JPU Disiapkan Hadapi Sidang TPPU Febrie Adriansyah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:20

Juara Setelah 35 Tahun Menunggu

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:01

Selengkapnya