Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Rumi yang Menyembuhkan

SENIN, 06 APRIL 2026 | 00:21 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

TUJUH abad lalu, Jalaluddin Rumi dikuburkan dengan tenang di Konya, Turki.

Ia mungkin tak pernah membayangkan puisinya kelak menjadi “obat tidur” bagi dunia yang justru semakin sulit tidur. Dunia yang lampunya terang benderang, tapi jiwanya redup seperti genset kehabisan solar.

Di tengah denting notifikasi, manusia modern berlari tanpa tahu sedang dikejar siapa dan mau ke mana. Lalu datanglah Rumi, dengan kalimat sederhana tapi menusuk, “yang kau cari, sebenarnya ada di dalam dirimu.”


Ironis. Kita sibuk keliling dunia, berkelana entah ke mana, padahal kalung mutiara itu sudah menggantung manis di leher sendiri. Tinggal diraba, bukan dicari.

Prof Nevzat Tarhan menulis buku soal penyakit manusia itu, berjudul “Terapi Rumi”. Akhir pekan ini ia datang jauh-jauh dari Turki, membedah bukunya di Universitas Paramadina Jakarta.

Nevzat yang ahli terapi hadir seperti dokter membawa resep lama untuk penyakit baru. Atau mungkin sebaliknya: penyakit lama yang kini diberi nama baru agar terdengar ilmiah.

Tapi buku karyanya ini bukan panduan terapi klinis seperti yang dibayangkan orang. Tak ada resep obat, tak ada teknik relaksasi instan, melainkan pembacaan reflektif atas puisi-puisi Jalaluddin Rumi untuk memahami luka batin manusia modern.

“Terapi Rumi” menggali kedalaman hikmah buku “Masnawi” karya Rumi dan menyajikannya sebagai alat terapi bagi kehidupan modern.

Buku ini menjembatani prinsip-prinsip tasawuf dengan pendekatan psikologi kontemporer, menghadirkan cara pandang baru tentang pertumbuhan diri dan kesehatan emosional.

Ia mengulas tema-tema utama seperti cinta, penyerahan diri, transformasi, serta perjalanan menuju pencerahan. Ia tunjuk relevansinya terhadap persoalan psikologis seperti kecemasan, depresi, relasi, hingga krisis makna hidup.

Dengan bahasa yang lebih mudah diakses, Nevzat menerjemahkan puisi Rumi menjadi panduan reflektif yang dilengkapi latihan, studi kasus, dan pertanyaan perenungan, sehingga pembaca tidak hanya memahami, tapi juga mengalami proses penyembuhan dan penemuan diri.

Dari sini saja kita sudah bisa menebak. Ini bukan buku yang menyembuhkan dengan cara menghapus masalah, tapi dengan cara mengubah cara kita memandangnya. Dan di situlah letak keganjilannya,  sekaligus keajaibannya.

Kita tahu, depresi, kesepian, kecanduan  kesemuanya kini punya istilah keren, lengkap dengan grafik dan jurnal internasional. Tapi Rumi sudah membicarakannya sejak manusia masih menulis di atas kulit domba.

Bedanya, ia tidak menyebutnya “disorder”, tapi “kerinduan”. Tidak menyebutnya “trauma”, tapi “jarak dari Tuhan”.

Untuk menyimpulkan, Nevzat menyebut ada tiga krisis besar manusia modern yakni ketimpangan, krisis iklim, dan kesepian.

Tapi diam-diam, ada krisis keempat yang lebih sunyi: manusia kehilangan arah, lalu berpura-pura tidak tersesat. Kita ini seperti orang nyasar di hutan, tapi sibuk memperbaiki sepatu, bukan mencari jalan pulang.

Lucunya, dunia modern begitu bangga pada “psikologi positif”. Empati, syukur, makna hidup kesemuanya itu dipoles, dikemas, diberi label ilmiah, lalu dijual mahal dalam seminar ber-AC dingin.

Padahal, Rumi sudah membagikannya gratis, tanpa PowerPoint, tanpa sertifikat, tanpa coffee break.

Yang lebih tragis, kita ini generasi yang bisa mengobrol dengan kecerdasan buatan, tapi kesulitan berdialog dengan hati sendiri.

Kita kini percaya algoritma lebih daripada intuisi, percaya data lebih daripada doa. Seolah-olah Tuhan harus diverifikasi dulu lewat jurnal Scopus sebelum dianggap valid.

Padahal, sebagaimana diingatkan Rumi, masalah terbesar manusia bukanlah dunia yang kacau, tapi cara pandangnya yang keruh. Kita melihat dengan mata yang lelah, menilai dengan ego yang lapar, lalu heran kenapa hidup terasa pahit.

Di titik ini, “terapi Rumi” bukan sekadar bacaan, tapi tamparan halus.

Ia tidak menyuruh kita lari dari masalah, tapi mengubah cara melihatnya. Seperti kisah orang yang mengusir lalat dengan batu yang niatnya baik, tapi caranya membunuh. Dunia kita penuh niat baik, tapi miskin kebijaksanaan.

Maka mungkin benar kata Nevzat bahwa tanpa kebijaksanaan, peradaban menjadi buta.

Kita punya teknologi untuk menjangkau Mars, tapi tidak punya ketenangan untuk duduk lima menit bersama diri sendiri. Kita tahu cara mengedit video 4K, tapi tidak tahu cara mengedit niat.

Dan di tengah semua itu, Rumi tersenyum sunyi dari kuburnya. Puisinya terus hidup, bukan hanya karena indah, tapi karena jujur. Ia tidak menawarkan solusi instan, tapi mengajak pulang. Bukan ke tempat, tapi ke diri.

Barangkali, di zaman yang serba bising ini, yang kita butuhkan bukan suara baru, melainkan keberanian untuk mendengar yang lama.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya