Berita

Plastik sampah (Foto: Babbe)

Bisnis

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

SABTU, 04 APRIL 2026 | 14:49 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Lonjakan harga bahan baku mulai terasa di berbagai sektor, namun menurut pengamat ekonomi dan pasar modal Ferry Latuhihin, ada satu indikator yang justru lebih “diam-diam mematikan” dibanding kenaikan BBM, yaitu harga plastik.

Dalam perbincangannya di sebuah podcast bersama Awalil Rizky, Ferry menyoroti bahwa kenaikan harga bahan baku seperti plastik bahkan telah menembus lebih dari 100 persen di sejumlah sektor. Ia menilai fenomena ini sebagai dampak langsung dari lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik, termasuk perang yang melibatkan Iran.

Kenaikan harga plastik bukanlah fenomena terpisah. Sebagian besar produk plastik berasal dari minyak bumi dan gas alam, sehingga ketika harga energi melonjak, biaya produksi plastik ikut terdongkrak.


Data menunjukkan harga minyak dunia telah naik lebih dari 40 persen sejak konflik memanas, yang kemudian mendorong kenaikan harga bahan baku plastik secara signifikan.  Bahkan di pasar domestik, harga plastik dilaporkan melonjak hingga mendekati dua kali lipat di beberapa wilayah. 

Gangguan distribusi global, termasuk jalur strategis seperti Selat Hormuz, juga memperparah situasi, karena kawasan Timur Tengah merupakan pemasok utama bahan baku petrokimia dunia.

Menurut Ferry, publik sering kali terlalu fokus pada harga BBM, padahal dampak terbesar justru datang dari sektor non-subsidi seperti industri.

Ia mengingatkan bahwa BBM mungkin masih ditahan lewat subsidi, tapi industri tidak. Plastik, bahan baku, itu naik dan pasti diteruskan ke harga barang. 

Plastik digunakan hampir di seluruh rantai produksi, mulai dari kemasan makanan, botol minuman, hingga kebutuhan logistik. Artinya, kenaikan harga plastik akan merambat ke berbagai produk sehari-hari.

Para ahli juga memperingatkan bahwa kenaikan biaya plastik berpotensi memicu kenaikan harga pangan dalam beberapa bulan ke depan.

Dampak paling nyata dirasakan oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM). Kenaikan harga plastik yang mencapai 30–50 persen di tingkat pasar mulai menekan margin keuntungan mereka. 

Banyak pelaku usaha terpaksa memilih antara menaikkan harga jual atau menanggung penurunan keuntungan—keduanya sama-sama berisiko di tengah daya beli masyarakat yang melemah.

Bagi lonjakan harga plastik adalah sinyal awal dari gelombang inflasi yang lebih besar.

Jika biaya produksi terus meningkat dan diteruskan ke konsumen, maka tekanan inflasi tidak terhindarkan. Bahkan, ia mengingatkan potensi inflasi bisa menembus dua digit jika kondisi ini berlanjut.

Dalam konteks ini, kenaikan harga plastik menjadi semacam “early warning system”, yaitu indikator bahwa tekanan ekonomi sudah mulai merembet dari sektor energi ke seluruh lini ekonomi.

Pemerintah sendiri mengakui bahwa kenaikan harga plastik di Indonesia dipicu konflik Iran dengan Amerika Serikat yang mengganggu pasokan bahan baku dari Timur Tengah.

Namun, seperti ditekankan Ferry, masalahnya bukan hanya pada faktor global. Kerentanan Indonesia sebagai negara importir energi membuat dampak tersebut terasa lebih dalam.

Lonjakan harga plastik bukan sekadar isu industri, melainkan cerminan tekanan ekonomi yang lebih luas.

Jika harga minyak adalah “virus”, maka kenaikan harga bahan baku seperti plastik adalah gejala yang mulai terlihat di permukaan, menandakan bahwa dampaknya sudah menyebar ke seluruh tubuh ekonomi.

Dan ketika plastik, komponen kecil dalam kehidupan sehari-hari, ikut melonjak drastis, itu berarti tekanan ekonomi sudah tidak lagi bisa dianggap sepele.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Duel Panas Timnas Indonesia Vs Malaysia, Ini Rekor Statistiknya

Minggu, 27 September 2026 | 02:22

Tak Peduli Teman, Prabowo Tegas Sikat Pencuri Duit Negara

Minggu, 27 September 2026 | 02:02

Di Balik Kemudahan QRIS, Merchant Tetap Wajib Terima Tunai

Minggu, 27 September 2026 | 01:46

Gugatan Denny Indrayana Cs Untungkan Seluruh Parpol di DPR

Minggu, 27 September 2026 | 01:20

Pemerintah Jangan Pukul Rata Evaluasi IUP

Minggu, 27 September 2026 | 01:07

Emas Rahmat Bawa Indonesia Lompat ke Posisi 14

Minggu, 27 September 2026 | 00:35

Kowani Apresiasi Penegasan Menteri Hukum soal SK Kepengurusan

Minggu, 27 September 2026 | 00:17

Rahmat Erwin Abdullah Persembahkan Emas Kedua Indonesia

Minggu, 27 September 2026 | 00:05

Bhayangkari Salurkan 6 Ribu Paket Sembako untuk Warga Aceh

Sabtu, 26 September 2026 | 23:49

Wamenag Protes Keras Pembebasan Bersyarat Bechi Pemerkosa Santriwati

Sabtu, 26 September 2026 | 23:20

Selengkapnya