Berita

Ilustrasi kapal berlayar di Selat Hormuz (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube True Globe)

Bisnis

Bukan Sekadar Minyak, Jalur Selat Hormuz Juga Penentu Nasib Industri Plastik Asia

SABTU, 04 APRIL 2026 | 08:11 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Industri petrokimia di Asia kini menempati posisi paling berisiko akibat potensi gangguan logistik energi di Selat Hormuz. 

Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pasokan dari Timur Tengah menjadikan sektor ini sangat sensitif terhadap gejolak geopolitik di kawasan tersebut.

Para analis dari Oxford Economics menyoroti bahwa sektor petrokimia memiliki karakteristik kerentanan yang berbeda dibandingkan industri manufaktur lainnya.


"Industri petrokimia memiliki ketergantungan yang unik dibanding sektor lain. Tidak hanya membutuhkan energi seperti minyak mentah, LPG, dan LNG, sektor ini juga menggunakan bahan-bahan tersebut sebagai bahan baku utama (feedstock) dalam proses produksi," papar mereka, dikutip dari Dow Jones Newswires.

Artinya, gangguan di Selat Hormuz tidak hanya akan memadamkan tungku pembakaran pabrik, tetapi juga menghentikan ketersediaan bahan mentah untuk membuat plastik, serat sintetis, hingga bahan kimia industri.

Tingkat risiko yang dihadapi setiap negara di Asia bervariasi tergantung pada struktur energi domestik mereka.

Jepang dan Korea Selatan menjadi negara yang paling terpapar risiko karena kedua negara ini sangat mengandalkan impor nafta dan LNG. Minimnya alternatif substitusi di dalam negeri membuat industri mereka sangat rapuh terhadap lonjakan harga maupun hambatan distribusi fisik.

Sedangkan China terfragmentasi. Negara ini memiliki lapisan pelindung karena sebagian besar industri kimianya berbasis batu bara. Namun, kawasan industri petrokimia di wilayah pesisir tetap dalam bahaya besar karena mereka masih sangat bergantung pada pasokan nafta, LPG, dan LNG dari jalur laut.

Untuk memahami skala ancamannya, berikut adalah fakta tambahan mengenai Selat Hormuz bagi industri Asia.

1.  Arus Logistik Global: Sekitar 20-30 persen dari total perdagangan minyak dunia melewati selat sempit ini setiap harinya. Bagi banyak negara Asia, angka ketergantungan ini bisa melonjak hingga 70 persen. 

2.  Ketergantungan Nafta: Timur Tengah adalah pemasok nafta (bahan baku utama etilena) terbesar ke Asia. Gangguan pengiriman selama satu minggu saja dapat menyebabkan penghentian operasional pabrik cracker di Singapura, Taiwan, dan Korea Selatan.

3.  Efek Domino Rantai Pasok: Karena petrokimia adalah hulu dari banyak industri, hambatan di Selat Hormuz akan memicu kenaikan harga pada barang konsumen, kemasan makanan, hingga komponen otomotif di seluruh dunia.

Setiap gangguan di Selat Hormuz tidak sekadar menaikkan harga BBM di SPBU, tetapi berpotensi melumpuhkan rantai pasok industri kimia secara luas di Asia. 

Seperti yang dilaporkan oleh Dow Jones Newswires, stabilitas jalur ini adalah urat nadi ekonomi manufaktur di kawasan tersebut.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Membaca Manuver Gibran Terima Mahasiswa Pendemo

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:23

Bamus Betawi Siapkan Program Strategis Menuju Lima Abad Jakarta

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:18

BEM Bersatu Ungkap Tiyo Ardianto Dekat dengan Jaringan PDIP dan Eks Timses Ganjar

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:08

Nasabah BRImo Bisa Beli Reksa Dana USD Batavia

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:04

BEM Bersatu: Mobil Tiyo Ardianto Diduga Milik Besan Andhika Perkasa

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:01

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:30

Haikal Hassan Dianugerahi Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University Korsel

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:14

Rp35 Triliun Anggaran MBG Berubah Jadi Sampah

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:00

Kemensos Genjot Sentra Terpadu jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:57

Pola Kenaikan Tidak Biasa Kekayaan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:43

Selengkapnya