Berita

Presiden Prabowo Subianto (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Politik

Prabowo Gabung Board of Peace Bukan Pencitraan Diplomatik

SABTU, 04 APRIL 2026 | 06:32 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO



RMOL.Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk bergabung dalam Board of Peace (BoP) bukan sekadar pencitraan diplomatik. 

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah melihat hal itu sebagai bagian dari proses dialektika global -- di mana Indonesia menempatkan diri dalam pusaran kepentingan internasional untuk mencari posisi yang paling menguntungkan.


“Bergabungnya Prabowo dalam BoP adalah langkah untuk masuk ke arena, memahami permainan, lalu mengambil keuntungan strategis,” kata Amir.

Menariknya, analisis intelijen juga menyoroti bagaimana faktor massa dan momentum aksi menjadi bagian dari strategi besar ini. 

Dalam kerangka Sandhi Yudha dan Gerpolek (gerilya, politik, dan ekonomi), massa bukan sekadar elemen spontan, tetapi dapat menjadi instrumen tekanan maupun legitimasi politik.

Amir menilai bahwa dinamika aksi massa -- baik yang muncul secara organik maupun terkelola -- dapat digunakan untuk menciptakan momentum tertentu. 

Dalam banyak kasus, momentum ini berfungsi sebagai pengungkit kebijakan atau sebagai sinyal kepada aktor-aktor politik lain.

“Aksi massa itu bagian dari momentum. Dalam perspektif intelijen, momentum bisa diciptakan, diarahkan, atau dimanfaatkan untuk memperkuat posisi kekuasaan,” kata Amir.

Dengan kombinasi Sandhi Yudha, Gerpolek, dan Madilog, Amir memprediksi bahwa kepemimpinan Prabowo dalam lima tahun ke depan akan diwarnai oleh strategi berlapis: terbuka di permukaan, namun tertutup di dalam.

Di satu sisi, publik akan melihat aktivitas diplomasi yang intens dan keterlibatan dalam forum global. Namun di sisi lain, akan berlangsung operasi senyap yang bertujuan mengamankan kepentingan nasional, baik dari ancaman eksternal maupun dinamika internal.

Pendekatan ini, menurut Amir, menuntut kesabaran dalam membaca arah kebijakan pemerintah. 

“Apa yang terlihat belum tentu yang sebenarnya terjadi. Dalam dunia intelijen, yang paling penting justru apa yang tidak terlihat,” pungkas Amir.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Kabakom Sebut Kebijakan Ekonomi Prabowo Makin Inklusif, Upah Buruh Naik

Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:20

B50 jadi Andalan Presiden Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:44

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Diperpanjang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:26

Masuk PSN, Agrinas Palma Siapkan Model Pengelolaan Sawit Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:20

IHSG Parkir Zona Hijau, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:54

Kreativitas Jadi Kunci Koperasi Bertahan dan Berkembang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:41

Menkeu Pastikan Gaji ASN Tak Lewat Kopdes

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:34

Bahlil Dikejar Deadline DIM RUU Migas

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32

Konser Andrea Bocelli dan Peluang Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:23

AsetKu Dukung Literasi Keuangan Bersama AFPI di Jakarta Financial Festival 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:06

Selengkapnya