Berita

Ilustrasi

Politik

Industri Plastik Putar Otak Tinggalkan Timur Tengah, Waktu Kirim Bisa Lebih Lama

JUMAT, 03 APRIL 2026 | 20:51 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pelaku industri petrokimia dalam negeri mulai mencari alternatif pasokan bahan baku plastik di tengah terganggunya suplai dari Timur Tengah. 

“Kita sudah mulai mencari alternatif pasokan untuk bahan baku tersebut sehingga ada beberapa yang sudah mulai, ada titik terang lah mendapatkan pasokan selain dari Middle East," kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS) Fajar Budiono kepada RMOL pada Sabtu, 3 April 2026.

Ia mengatakan alternatif tersebut didapat dari kawasan lain, di antaranya Afrika, Asia Tengah, hingga Amerika.


"Bisa dari Afrika, bisa dari Asia Tengah, bisa dari Amerika. Tergantung nanti mereka punya networking atau punya kecocokan stake yang mana," tuturnya.

Meski demikian, ia mengatakan upaya tersebut memiliki tantangan karena waktu pengiriman yang jauh lebih panjang.

"Kalau dari Middle East hanya 10-15 hari, kalau dari luar Middle East bisa paling cepat 50 hari,” ujar Fajar.

Menurutnya, kondisi ini juga terjadi secara global, di mana negara-negara produsen lebih memprioritaskan kebutuhan domestik sehingga pasokan di pasar internasional terasa terbatas.

“Dan ini seluruh negara juga melakukan hal yang sama. Mereka sekarang melakukan pengamanan untuk mensuplai local demand dulu sehingga seolah-olah barang di pasaran tidak ada,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso juga mengatakan pemerintah tengah bergerak mencari sumber bahan baku alternatif dari berbagai negara, termasuk Afrika dan India, guna menjaga stabilitas pasokan dalam negeri.

"Beberapa hari ini kan memang banyak atau keluhan masyarakat harga plastik naik. Jadi ini bagian dari dampak dari perang. Kita itu, bahan baku plastik itu salah satunya adalah nafta. Nafta itu kita impor dari Timur Tengah,"katanya.

Namun, ia mengakui pergeseran pasokan tersebut memerlukan waktu agar kondisi harga kembali normal.

"Kita sekarang mencari alternatif pengganti atau alternatif dari negara lain. Dan kita sudah melakukan misalnya afrika, india dan amerika. Memang ini butuh waktu, karena kan tiba-tiba dari timur tengah trus pindah ke negara lain," tandasnya.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:57

IHSG, Selat Malaka dan Ujian Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:41

MKD Diminta Bersikap Tegas Sikapi Laporan Dugaan KDRT Anggota Dewan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:20

Singapura, Dino Patti Djalal dan Opini Sesat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:45

Bareskrim Tahan WN Taiwan Manajer Kapal Pengangkut 1 Ton Ketamin

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:26

Haji Isam dan Kutukan Demokrasi Mahal

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:50

Kinerja Sektor Hukum Era Prabowo-Gibran Makin Bertaring

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:24

Temui Mendikdasmen, DPR Minta Gerakan Lawan Bullying Diperkuat Lintas Sektor

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:09

Balas Singapura! Bahlil Bakal Bangun PLTN di Batam

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:18

Pelabuhan Sabang Didorong jadi Hub Internasional yang Ramah Lingkungan

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:17

Selengkapnya