Berita

Asap membumbung di atas Markas Pasukan Basij Iran di Teheran. (Foto: tangkapan layar)

Publika

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

JUMAT, 03 APRIL 2026 | 18:52 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

MENGERAS! Pihak bertikai masih saling melontarkan rudal. Eskalasi perang bertambah, bukan hanya dalam konteks wilayah tetapi juga durasi waktu. Bentuk konfrontasi berlangsung pula dalam bentuk berbalas pernyataan. Baik dalam bentuk langsung, terlebih melalui media sosial.
 
Tetapi debu narasi itu kerap kali menjadi ruang sembunyi dari makna realitas. Kebisingan informasi menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari babak perang modern.
 
Dalam kerangka sosiologis, yang terjadi bisa jadi bukan sekadar diplomasi yang memanas, melainkan apa yang disebut Baudrillard (1981) sebagai simulacra. Perang pernyataan telah menjadi suatu fakta yang lebih nyata, bahkan lebih daripada perang fisik itu sendiri.


Ancaman Hiperrealitas

Melalui perspektif kontemporer, ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah bermigrasi dari medan tempur konvensional menuju ruang digital. Hal ini selaras dengan Baudrillard (1991) yang mengatakan secara kontroversial bila Perang Teluk tidak terjadi.
 
Pada budaya masyarakat tontonan, maka perang tersebut bukan lagi soal adu amunisi, melainkan dikonstruksi melalui tampilan di layar televisi yang diatur sedemikian rupa.
 
Fenomena itu mencapai puncaknya melalui Hiperrealitas. Ketika seorang pejabat tinggi negara merilis pernyataan bernada ancaman di media sosial, efek sosio psikologisnya bersifat instan. Seketika pasar saham bergejolak, harga minyak naik, dan kecemasan massal melanda.
 
Pada situasi ini, tanda atau simbol perang telah menggantikan realitas perang. Sebagaimana dijelaskan oleh Kellner (1989), dalam masyarakat postmodern, kita lebih sering berinteraksi dengan representasi kenyataan daripada kenyataan itu sendiri.
 
Ketakutan pada cuitan status seorang pemimpin negara seringkali lebih besar dibandingkan kekhawatiran akan pergerakan mesin perang di wilayah perbatasan negara berseteru.
 
Instrumen Stabilitas Domestik

Mengapa para pemimpin memilih bertempur di level kata-kata? Hal tersebut berkaitan dengan stabilitas internal. Guy Debord (1967) dalam teorinya tentang The Society of the Spectacle -masyarakat tontonan, menjelaskan bahwa kekuasaan di era modern dipertahankan melalui aksi dramatikal yang memukau publik.
 
Bagi Iran, memelihara narasi perlawanan terhadap Amerika dan sekutunya Israel adalah perekat ideologis yang vital untuk meredam gejolak ekonomi domestik.
 
Sebaliknya, bagi pemerintah Israel atau Amerika Serikat, adanya ancaman luar yang konstan adalah alat politik yang efektif untuk menyatukan koalisi yang retak dan menjustifikasi anggaran pertahanan yang masif (Der Derian, 2009).
 
Kedua belah pihak berada dalam posisi kepentingan masing-masing. mempertahankan simbol kehormatan serta harga diri, bukan lagi berorientasi pada kalah-menang sebagai tujuan.
 
Konflik ini berfungsi sebagai sarana katarsis. Dengan mengeluarkan pernyataan yang menggelegar, seorang pemimpin seolah-olah sudah bertindak dan memuaskan dahaga nasionalisme, tanpa harus menanggung risiko kehancuran fisik jika perang terbuka meletus.
 
Kondisi ini adalah bentuk pencegahan (deterrence) yang efisien: menciptakan persepsi kekuatan tanpa perlu menggunakannya (Waltz, 2012). Membangun citra, menjaga imaji publik.
 
Media sosial berperan sebagai inkubator bagi simulakra. Di era informasi, kekuatan tidak lagi diukur hanya dari jumlah hulu ledak, tetapi dari kontrol atas narasi yang disebut Manuel Castells (2009) sebagai Communication Power.
 
Di ruang digital, perang pernyataan menjadi komoditas. Konsumsi konflik digital ini layaknya serial drama. Kita terjebak dalam apa yang disebut Slavoj Žižek (2002) sebagai gurun realitas (desert of the real), di mana kita sulit membedakan mana pergerakan militer yang substansial dan mana yang hanya sekadar manuver pencitraan (simulasi).
 
Perlu disadari dalam konstelasi geopolitik Iran vs AS-Israel, perang telah selesai di tingkat diskursus. Selama simulasi mampu memberikan keuntungan politik bagi semua pihak yang terlibat, perang fisik yang menghancurkan total justru menjadi tidak logis.
 
Para pihak yang bertikai sebenarnya sedang menari dalam sebuah koreografi simbolik nan rumit. Perang pernyataan menjadi manifestasi dari kegelisahan akan ujung dari konflik yang tidak berkesudahan dan buram.
 
Pemenang adalah pihak yang mampu mengontrol narasi dengan konsisten hingga akhir.
 
Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Bezzecchi Juara MotoGP Mandalika, Martin Kembali ke Puncak Klasemen

Minggu, 11 Oktober 2026 | 16:27

Prabowo dan El-Sisi Kecam Keras Pembangunan Permukiman Ilegal Israel

Minggu, 11 Oktober 2026 | 16:20

Gus Lilur Minta KPK Usut Dugaan Aliran Dolar di Muktamar NU

Minggu, 11 Oktober 2026 | 16:06

Quiles Juara Moto3 Mandalika, Veda Ega Finis Keenam

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:52

Koperasi Didorong Bergerak ke Sektor Produksi Hingga Keuangan

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:44

Mesir Tambah Beasiswa untuk Mahasiswa Kedokteran, Teknik, dan Sains Indonesia

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:42

20 Kapolres dan Kapolresta Pulau Jawa Dirombak Jenderal Suyudi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:33

Prabowo Bidik Penguatan Ekonomi RI-Mesir Lewat Perjanjian Dagang dan Dana Investasi Bersama

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:14

Krisman Harefa Gugat MSIG Life Insurance Indonesia Rp1 Miliar ke PN Jaksel

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:11

Muzakarah Tauhid Sufi Jadi Momentum Perkuat Persatuan Umat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 15:01

Selengkapnya