Berita

Ilustrasi pabrik baja di Iran dirudal Israel (Tangkapan layar RMOL dari siaran YouTube Times Now)

Global

Serangan Israel Lumpuhkan Dua Pabrik Baja Iran, Produksi Terhenti hingga Setahun

JUMAT, 03 APRIL 2026 | 08:04 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dua pabrik baja terbesar di Iran dilaporkan berhenti beroperasi setelah menjadi target serangan udara yang dikaitkan dengan kerja sama Amerika Serikat dan Israel. 

Salah satu fasilitas terdampak adalah milik Perusahaan Baja Khuzestan di wilayah barat daya Iran. Seorang pejabat perusahaan, Mehran Pakbin, mengungkapkan bahwa kerusakan yang terjadi tidak ringan dan membutuhkan waktu lama untuk pemulihan.

"Perkiraan awal kami adalah bahwa memulai kembali unit-unit ini akan memakan waktu setidaknya enam bulan dan hingga satu tahun," ujarnya, dikutip dari BBC, Jumat 3 April 2026.


Sementara itu, Perusahaan Baja Mobarakeh di wilayah tengah Iran juga mengonfirmasi bahwa jalur produksinya telah sepenuhnya dihentikan akibat intensitas serangan yang tinggi. Penutupan dua fasilitas besar ini menjadi pukulan telak, mengingat Iran merupakan produsen baja terbesar ke-10 di dunia dan mengandalkan sektor ini untuk kebutuhan domestik sekaligus ekspor.

Serangan ini diyakini pertama kali dilakukan oleh Israel dengan dukungan AS pada akhir pekan lalu. Jika benar, dampaknya tidak hanya terbatas pada sektor industri, tetapi juga berpotensi meluas ke perekonomian nasional Iran secara keseluruhan. Gangguan produksi baja dapat memicu masalah rantai pasokan, terutama di sektor konstruksi dan manufaktur yang sudah lama tertekan oleh sanksi Barat.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh Israel melakukan serangan terhadap berbagai infrastruktur penting. Ia menyatakan bahwa target tidak hanya pabrik baja, tetapi juga pembangkit listrik dan fasilitas nuklir sipil. Iran juga mengklaim serangan tersebut dilakukan dengan koordinasi bersama AS.

Di sisi lain, media Israel menyebut bahwa serangan ini bisa menyebabkan kerugian hingga miliaran dolar bagi Iran, serta mengaitkan pabrik-pabrik tersebut dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Sebagai respons, pihak IRGC dikabarkan menargetkan fasilitas industri yang terkait dengan AS di kawasan Teluk.

Konflik yang semakin meluas ini juga berdampak pada sektor lain. Beberapa fasilitas kesehatan dan farmasi dilaporkan ikut menjadi sasaran, termasuk pusat penelitian medis di Teheran. Pemerintah Iran menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Tidak hanya itu, infrastruktur sipil juga terkena dampak. Sebuah jembatan penting yang menghubungkan Teheran dan Karaj dilaporkan hancur akibat serangan udara. Presiden AS Donald Trump, bahkan menyinggung insiden tersebut dalam pernyataannya dengan nada ancaman bahwa serangan lanjutan masih mungkin terjadi.

Situasi semakin sulit dipantau karena Iran mengalami gangguan internet besar-besaran selama lebih dari sebulan, membuat verifikasi informasi di lapangan menjadi terbatas.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya