Berita

SPBU Pertamina. (Foto: Istimewa)

Politik

Pemerintah Pilih Menahan Gejolak Ketimbang Naikkan BBM

SELASA, 31 MARET 2026 | 14:22 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Keputusan pemerintah untuk menahan harga BBM tidak bisa dilepaskan dari pertimbangan stabilitas sosial dan ekonomi nasional.

Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah menilai pemerintah tengah berhitung cermat terhadap dampak psikologis dan ekonomi yang bisa timbul jika harga energi dinaikkan di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya stabil.

Menurut Amir, pemerintah memilih pendekatan “menahan gejolak” ketimbang mengambil langkah cepat yang berisiko memicu reaksi publik.


“BBM itu bukan sekadar komoditas ekonomi, tapi juga komoditas politik. Kenaikan harga BBM selalu berimplikasi luas, dari inflasi hingga stabilitas sosial,” kata Amir dalam keterangannya di Jakarta, Selasa 31 Maret 2026.

Amir juga menyoroti bahwa keputusan tak menaikkan BBM ini mencerminkan adanya konsolidasi kuat di lingkaran elite kekuasaan. 

Ia menyebut bahwa komunikasi antara pusat-pusat pengambilan keputusan berjalan intensif, terutama di kawasan Jalan Kertanegara dan Hambalang yang selama ini dikenal sebagai basis strategis Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, sinyal yang muncul adalah pemerintah ingin menjaga kepercayaan publik di awal masa konsolidasi pemerintahan, sekaligus meredam potensi gejolak akibat tekanan ekonomi global.

“Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal timing politik. Pemerintah tidak ingin membuka front baru di tengah berbagai isu strategis lain,” tambahnya.

Amir pun mengimbau masyarakat untuk tidak terpengaruh oleh spekulasi yang berkembang di media sosial terkait isu kenaikan BBM. 

Ia menegaskan bahwa hingga saat ini, belum ada indikasi kuat pemerintah akan mengambil langkah tersebut dalam waktu dekat.

“Untuk sementara, masyarakat tidak perlu khawatir. Harga BBM tetap seperti sekarang,” tutup Amir.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya