BUKAN hanya mengejutkan dan sama sekali tak menyangka. Itulah perlawanan militeristik Iran terhadap kekuatan AS dan Israel, di samping perlawanan secara ekonomi: melalui blokade Selat Hormuz. Sebuah perlawanan Iran yang mengakibatkan mayoritas teritorial Israel bagai neraka. Hancur total teritorialnya.
Juga, perlawanan Iran yang mengakibatkan 15 pangkalan militer AS di negara-negara Arab musnah. Tak bisa difungsikan lagi. Dan satu lagi, perlawanan Iran yang mengakibatkan krisis energi global, yang pada akhirnya menjadi malapetaka ekonomi dunia, terutama negara-negara yang bersekutu dengan AS dan Israel. Maka, sikap politik pro-kontra terhadap kedua negara agresor menjadi penentu nasibnya.
Perlu disadari, kemusnahan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Arabia membuat sejumlah negara Arab kini tak lagi punya bemper penangkis jika negaranya dibombardir negara lain, katakanlah Iran. Data geopolitik bicara, saat ini kekuatan negara-negara Teluk khususnya, hanya mengandalkan kekuatan militer dirinya sendiri, tanpa backup penuh kekuatan AS, apalagi kekuatan militer Israel.
Dan kita bisa mencatat, kekuatan negara-negara Arab saat ini cukup rapuh jika Iran menghajarnya, apalagi personal militer AS telah ditarik usai pangkalan-pangkalan militernya dibombardir. Untuk itu, jangan coba-coba menantang Iran. Diplomasi yang perlu dibangun Dunia Arab adalah bagaimana menurunkan tensi permusuhan dengan Iran. Istilah kata, jangan membangunkan macan tidur. Atau dan hal ini yang lebih rasional--Saudi Arabia dan negara-negara Teluk lainnya lebih mengarah ke Trump dan Netanyahu untuk menurunkan egoismenya.
Realitas Topografi Kekuatan Saat Ini
Jika para pemimpin negara-negara Arab berfikir jernih atas kondisi topografi kekuatan di Timur Tengah, apa guna mempertahankan aliansinya bersama AS? Senada arahnya, apa urgensinya mempertahankan sikap politik harmoninya dengan Israel karena memang negeri Zionis kini--secara obyektif tak berdaya lagi kekuatan militernya pasca-dihancurleburkan Iran? Fokus Israel kini bagaimana menyelamatkan negara dan rakyatnya dari bombardir Iran.
Sementara itu, aliansi yang dibangun selama ini tak lepas dari konsekuensi finansial (semacam upeti) kepada AS. Memang tidak langsung dalam bentuk upeti. Tapi, terwujud dalam bentuk pembelian senjata dalam skala besar, investasi ekonomi dan biaya langsung pasukan AS di kawasan Arabia.
Nilainya cukup fantastik. Sebagai ilustrasi faktual, kontribusi biaya pasukan. Pada 2020, terdapat laporan, Arab Saudi harus membayar 500 juta Dolar AS (sekitar Rp6,7-7 triliun). Komitmen investasi ke AS mencapai 600 juta Dolar AS (setara Rp9,964 triliun) yang berlangsung selama 4 tahun. Dan pada 2025-2026, terjadi kesepakatan penjualan senjata terbesar: mencapai 142 miliar Dolar AS (setara Rp2.358 triliun).
Nilai investasi dari Arab Saudi saja cukup fantastik. Tercatat, proyek pembangunan Pusat Data dan Infrastruktur Energi senilai 20 miliar Dolar AS. Kolaborasi Teknologi mencapai 80 miliar Dolar AS. Ekspor Turbin Gas GE Vernova mencapai 14,2 miliar Dolar AS. Pembelian Pesawat Boeing 737-8 senilai 4,8 miliar Dolar AS. Dan pembangunan Pabrik Infus di Michigan senilai 5,8 miliar Dolar AS.
Luar biasa besar tingkat investasi Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya di Bumi Paman Sam. Selama perjanjian itu tak dirobek, negara-negara Arab, terutama negara-negara Teluk hanyalah menjadi “sapi perahan”. Sungguh aneh, sebagai “penyumbang” ekonomi terbesar bagi kepentingan ekonomi AS, tapi justru tunduk pada kemauan Paman Sam itu. Seharusnya, negara-negara Arab yang pegang peranan untuk memerintahkan AS, apa yang dikehendaki. Para pemimpin negara-negara Arab harusnya menjadi the boss, bukan budak.
Berangkat dari data investasi negara-negara Teluk ke AS, maka kita bisa bayangkan, jika Dunia Arab menghentikan petro dolarnya yang mengalir deras ke AS, negeri Paman Sam dihadapkan bayang-bayang collapse. Semakin cepat kehancuran AS jika Dunia Arab menarik seluruh deposito dan atau investasinya. Inilah peta kekuatan Dunia Arab yang belum pernah didayagunakan. Peta kekuatan Arab ini sejatinya bisa dijadikan bargaining position. Agar posisinya tidak selalu di bawah ketiak AS. Minimal, posisinya sejajar. Sama-sama punya kekuatan tawar.
Untuk itu, sudah seharusnya Dunia Arab, terutama Saudi Arabia dan negara-negara Teluk lainnya mengubah politik ketergantungannya, tidak lagi kepada AS ataupun Israel. Untuk memperkuat perubahan sikap politiknya, negara-negara Arab perlu melihat perubahan sikap politik negara-negara Eropa. Kini, mereka menolak kemauan AS untuk mengirimkan sejumlah kapal perang dan pasukannya ke Selat Hormuz atau angkatan perang udaranya untuk terlibat dalam perang dengan Iran. Negara-negara anggota NATO secara eksplisit menolak perintah AS.
Negara-negara Eropa selama ini merupakan sekutu utama AS, bahkan Israel. Tapi, mencermati kekuatan Iran yang super dahsyat, negara-negara Eropa berpikir: tak mau menjadi sasaran kemarahan Iran. Eropa juga berfikir rasional. Di balik kekuatan Iran, juga terdapat penopang kekuatan militer dan persenjataannya yang jauh lebih mengerikan. Itulah komitmen politik Rusia, China dan Korea Utara, bahkan Pakistan yang semua memiliki senjata nuklir dengan jelajah ribuan km. Artinya, jika mitra Iran ini terlibat dan meluncurkan senjata-senjata nuklirnya, daratan Eropa akan lenyap dalam ukuran menit.
Itulah sebabnya, negara-negara Eropa tak mau ambil risiko lebih besar. Sekedar ilustrasi kecil, Inggris yang sempat memberi kesempatan landasannya untuk kapal-kapal perang AS, langsung dibombardir AS. Pangkalan militer AS di Inggris (RAF Lascelles, Yorkshire Utara). Serangan ini peringatan untuk pangkalan militer AS lainnya di Inggris seperti RAF Mildenhall (Suffolk), RAF Croughton (Northamptonshire) dan RAF Menwith Hill (Yorkshire Utara).
Mencermati hubungan Eropa-AS dan atau Israel yang tidak mesra lagi, maka sudah saatnya negara-negara Arab mereview kelanjutan hubungan mesranya. Akan jauh lebih aman dan nyaman jika negara-negara Arab membuka hubungan mesra baru dengan Iran Plus, yakni Rusia, China, Korea Selatan dan Pakistan dalam bentuk aliansi Baru. Lupakan AS dan Israel. Karena, aliansi baru dengan Iran Plus jauh lebih prospektif untuk kepentingan negara-negara Arab itu sendiri.
Makna Strategis Balance of Power
Pergeseran peta kekuatan global itu di satu sisi akan menumbuhkan kesadaran baru bagi AS dan bahkan Israel. Kedua negara ini akan muncul penilaian introspektif bahwa dirinya bukan lagi sang super power yang ditakuti. Tak ada lagi algojo dunia. Di sisi lain, keberadaan aliansi baru Dunia Arab-Iran Plus akan tampil sebagai balance of power (kekuatan pengimbang).
Kita perlu mencatat, keberadaan balance of power menjadi faktor strategis untuk mencegah hegemoni dunia di bawah satu kekuatan tunggal, katakanlah AS dan sekutu utamanya: Israel. Pengikisan hegemoni sungguh penting bagi kepentingan keamanan dan atau ketertiban dunia. Meski suatu saat muncul ketegangan, namun tidak akan sampai meletus konflik militeristik di antara dua kekuatan global.
Hal ini dapat kita cermati pada implikasi politik Perang Dingin AS versus Uni Soviet yang cukup lama berlangsung, dari 1947 hingga 1991. Segenting apapun tensi permusuhannya, kedua negara besar itu berhasil menahan diri untuk “beradu” secara diametral. Dan kala itu, sejak Perang Dingin masih berjalan, tak ada cerita gerakan militer yang secara terbuka melibatkan kedua negara besar dalam konflik negara tertentu. Inilah makna krusial keberadaan balance of power.
Untuk itu, negara-negara Arab perlu melakukan reorientasi pandangan dan sikap politik globalnya. Agar dirinya tidak menjadi santapan AS dan sekutu utamanya (Israel). Juga, tidak menjadi sumber kemarahan Iran dan sekutunya. Berarti, reorientasi politik menuju aliansi baru bersama Iran Plus akan menyelamatkan kepentingan nasionalnya.
Akhirnya, kita perlu menggaris-bawahi, munculnya balance of power akan berperan penting untuk membangun kembali tatanan dunia yang lebih dingin. Jika muncul ketegangan, tidak akan seeksplosif itu kondisinya. Dan jika pemandangan baru ini terjadi, AS pun akan kehilangan pangsa pasar utamanya yang selama ini memperdaya dunia karena motif bisnis senjata. Forget it. Yang jauh lebih penting, dunia akan menampak dalam wajah damai. Inilah puncak interaksi internasional yang dibutuhkan semua elemen manusia yang sehat.
Agus Wahid
Analis politik dan kebijakan publik