Berita

Direktur Riset GREAT Institute, Perdana Wahyu Santosa. (Foto: Universitas Yarsi)

Publika

Ketika Geopolitik Timur Tengah terus Mengguncang Pasar Modal

SENIN, 30 MARET 2026 | 13:20 WIB | OLEH: PERDANA WAHYU SANTOSA*

PASAR modal Indonesia kembali merasakan getaran geopolitik global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok nyaris 2 persen pada perdagangan kemarin (Kamis, 26 Maret 2026), sebuah koreksi tajam yang mencerminkan kegelisahan investor terhadap ketidakpastian negosiasi konflik Amerika Serikat (bersama Israel) dan Iran. 

Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa. Ia menunjukkan bagaimana pasar berkembang seperti Indonesia tetap rentan terhadap volatilitas eksternal, meski fundamental ekonomi domestik menunjukkan ketahanan yang memadai.

Pertanyaannya kemudian: sejauh mana guncangan eksternal ini dapat menggerogoti kepercayaan investor terhadap ekonomi domestik? Dan apakah koreksi pasar saat ini benar-benar mencerminkan kelemahan struktural, ataukah sekadar reaksi emosional yang akan segera terkoreksi?


Penurunan IHSG yang mencapai 1,89 persen dalam satu sesi perdagangan merupakan sinyal penting tentang sensitivitas pasar terhadap risiko geopolitik. Eskalasi ketegangan AS (Israel)-Iran - yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global dari Selat Hormuz - memicu sentimen risk-off di kalangan investor. Dana asing, yang secara historis cepat keluar dari pasar emerging saat ketidakpastian meningkat, mencatat arus keluar neto yang signifikan.

Namun, pembacaan mendalam atas fenomena ini memerlukan konteks yang lebih luas. 

Menurut data Bank Indonesia, cadangan devisa per Februari 2026 masih kokoh di level 145 miliar Dolar AS, cukup untuk membiayai 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. 

Inflasi terkendali di kisaran 2,5 persen year-on-year, jauh di bawah target atas BI sebesar 4 persen. Bahkan, pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 tercatat 5,1 persen, didorong oleh konsumsi domestik dan investasi infrastruktur yang solid.

Yang menarik, koreksi pasar kali ini tidak disertai pelemahan Rupiah yang dramatis. Nilai tukar bertahan di zona 15.800-15.900 per Dolar AS, menunjukkan bahwa intervensi Bank Indonesia dan daya tahan fundamental ekonomi masih bekerja efektif. Ini berbeda dengan episode krisis 2018 atau bahkan volatilitas pandemi 2020, ketika rupiah tertekan hingga menembus 16.500.

Sektor yang paling terdampak adalah energi dan komoditas—wajar mengingat sektornya paling sensitif terhadap harga minyak dan risiko supply chain. Namun, sektor perbankan dan konsumer tetap relatif stabil, mengindikasikan bahwa investor masih percaya pada daya beli domestik dan kesehatan sistem keuangan.


Sebaiknya bagaimana?

Pertama, otoritas moneter perlu memperkuat komunikasi kebijakan untuk meredam ekspektasi negatif. Bank Indonesia telah menunjukkan kredibilitas dalam menjaga stabilitas, namun transparansi mengenai strategi mitigasi risiko eksternal harus ditingkatkan. Forward guidance yang jelas akan membantu mengurangi volatilitas berlebihan.

Kedua, investor domestik - baik institusi maupun ritel - perlu melihat koreksi ini sebagai peluang akumulasi, bukan momen panik. Valuasi IHSG saat ini, dengan price-to-earnings ratio sekitar 14-15x, masih menarik dibandingkan dengan rata-rata historis. Sektor perbankan dengan kapitalisasi yang kuat dan sektor konsumer dengan basis pasar domestik yang dalam layak menjadi pilihan strategis.

Ketiga, pemerintah harus terus mendorong diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi. Ketergantungan pada ekspor komoditas membuat kita rentan terhadap shock eksternal. Penguatan industri manufaktur bernilai tambah tinggi dan ekonomi digital perlu dipercepat agar struktur ekonomi lebih resilient.


Penutup

Pasar modal adalah cermin dari sentimen dan ekspektasi, bukan selalu refleksi akurat dari realitas ekonomi. Koreksi IHSG akibat ketegangan AS-Iran mengingatkan kita bahwa Indonesia tidak kebal terhadap guncangan global. Namun, membandingkan ketahanan ekonomi kita hari ini dengan satu dekade lalu, jelas ada kemajuan signifikan dalam membangun fondasi yang kokoh.

Ketidakpastian geopolitik Timur Tengah mungkin akan berlanjut, tetapi ekonomi Indonesia memiliki modal kuat untuk melewatinya: cadangan devisa memadai, inflasi terkendali, dan konsumsi domestik yang tangguh. Investor yang cerdas akan melihat turbulensi ini bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kesempatan untuk masuk pada valuasi yang lebih menarik. Sebab pada akhirnya, pasar selalu kembali pada fundamental—dan fundamental kita, sejatinya, hingga saat ini masih sehat.


Penulis adalah Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute dan CEO SAN Scientific


Disclaimer: Artikel ini merupakan opini penulis dan tidak merepresentasikan rekomendasi investasi.


Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Prabowo Kumpulkan Ratusan Pengurus Kadin se-Indonesia di Istana

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:26

Larangan Dapur MBG Gunakan Barang Bersubsidi Sudah Tepat

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:25

Cegah Gagal Panen, Komisi IV DPR Minta Pemerintah Antisipasi Dampak El Nino

Jumat, 31 Juli 2026 | 14:03

Indonesia-Tiongkok Perkuat Kemitraan Strategis Berbasis Ekonomi Hijau

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:53

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dinilai Paling Siap, Palangka Raya jadi Percontohan Digitalisasi Perlinsos Berbasis IKD

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:33

Praperadilan Ketiga Roy Suryo, Ahli Perkuat Dalil Permohonan Ganti Rugi Rp206 Juta

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:32

Jakarta Gandeng Banten Bangun Kawasan Ketahanan Pangan Terpadu

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:27

Digitalisasi Perizinan Tutup Celah Perdagangan Satwa Liar Ilegal

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:12

IHSG Sesi I Menguat 29 Poin, Saham TINS DEWA dan BBCA Paling Memikat Investor

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:12

Selengkapnya