Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Publika

Skenario Mengepung Iran Sedang Berjalan

SENIN, 30 MARET 2026 | 12:45 WIB

SAMBIL Israel terus menyerang Iran via udara, Amerika Serikat sedang menyiapkan pengepungan besar-besaran ke Republik Islam ini. 

Amerika sedang mengirim sejumlah kapal induk dan puluhan ribu tentara mendekat ke Iran. Ini bukan sebuah parade dan latihan perang, tapi bentuk serius dari rencana penyerangan besr-besaran kepada Iran.

Tentara Angkatan Darat Israel sendiri sudah merangsek dan melakukan serangan darat di Lebanon. 


Dengan alasan menyerbu dan memburu kelompok afiliasi Iran, yang tujuan utamanya adalah mengirimkan tentaranya untuk menyerbu Iran via darat. 

Ini artinya, pengepungan dan serangan ke Iran nantinya tidak hanya melalui udara, tapi juga melalui darat. Kombinasi udara, darat dan laut.

Inggris menyediakan landasan pacu bagi pesawat-pesawat tempur Amerika untuk menyerang Iran. 

Sementara Prancis, dengan alasan membuka blokade dan menyelamatkan kapal-kapal tankernya, sedang mengerahkan kapal perangnya merapat ke Selat Hormuz. Kapal-kapal Orancis tentu akan siap membalas jika diserang oleh Iran.

Kenapa Inggris dan Prancis pada akhirnya bergabung, meski secara terbatas? 

Pertama, karena penutupan Selat Hormuz telah mengganggu ketahanan energi di Eropa, khususnya gas. 

Kedua, Inggris dan Prancis punya mitra strategis berkaitan dengan kebutuhan energi dari negara-negara teluk yang terganggu dengan adanya perang di Iran ini. 

Di satu sisi, kedua negara ini menyesalkan penyerangan Amerika dan Israel ke Iran yang mengakibatkan pasokan energi negara-negara Teluk ke Eropa terganggu. 

Di sisi lain, kedua negara ini terpaksa ambil bagian dalam membuka blokade Selat hormuz. Apalagi, di Selat Hormuz ada kabel-kabel optik yang jika terputus akan dapat mengguncang perekonomian Eropa.

Selain keterlibatan Inggris dan Prancis, negara-negara Teluk telah menyatakan kehilangan kesabaran untuk bertindak. Mereka merasa punya hak mempertahankan wilayahnya. 

Ini artinya, negara-negara Teluk bersiap untuk ikut menyerang Iran dengan alasan mempertahankan diri.

Bagaimana posisi Rusia dab China? Dua negara ini tak pernah terlibat langsung dalam perang yang menimpa negara yang menjadi koleganya. 

Dua negara ini selalu mengambil posisi di belakang layar dengan mensuplai teknologi perang maupun intelijen. Pada akhirnya, Iran harus menghadapi sendiri persekutuan Amerika, Israel, Inggris, Perancis dan negera-negara teluk.

Dari sisi kekuatan, Iran tidak sebanding dengab sekutu lawan dalam jumlah personel, ketersediaan alutsista maupun anggaran. 

Meski begitu, perlawanan Iran akan cukup sengit dan butuh waktu cukup panjang. Perlawanan ini dipredikai akan menguras logistik dan mengorbankan banyak nyawa. 

Diperkirakan perang akan terjadi paling cepat 18 bulan, menewaskan 15.000 tentara lawan, dan menelan biaya 3 miliar dolar AS. Sebuah angka kematian dan logistik yang sangat besar.

Dunia akan ikut menanggung dampak perang ini yaitu krisis energi. Sejumlah negara yang tidak memiliki ketahanan energi, juga keterbatasan fiskal seperti Indonesia, akan mengalami goncangan yang dahsyat. 

Penyerbuan Iran oleh Amerika dan sekutu akan mengakibatkan petaka tidak saja dialami oleh Iran, tapi juga negara-negara Teluk yang terganggu ekspor minyaknya, termasuk India hingga Indonesia serta sejumlah negara Asia yang kehabisan stok energi. 

Semakin lama durasi perang, maka selama itulah Selat Hormuz akan terganggu. Gangguan terhadap selat hormuz adalah petaka global.

Selama 18 bulan, jika durasi waktu perang yang diprediksi ini akurat, maka krisis energi yang bermetamorfosis menjadi krisis moneter dan ekonomi akan melanda banyak negara. 

Di antaranya akan berujung pada tumbangnya sejumlah pemimpin negara yang tak mampu mengatasi krisis.

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Suap ke Pejabat ATR/BPN Berawal PT Summarecon Agung Tbk Caplok Lahan Warga

Selasa, 29 September 2026 | 14:21

Prabowo Panggil Mendikti Saintek hingga Kepala BNN, Bahas Pengentasan Narkoba

Selasa, 29 September 2026 | 14:18

BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 29 September 2026 | 14:11

Pimpinan DPR Setuju Komisi XIII Periksa Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 14:00

Tangis Mahathir Mohamad Pecah Saat Mengantar Istri ke Peristirahatan Terakhir

Selasa, 29 September 2026 | 13:52

Prabowo-Megawati Bakal Bertemu Lagi, Dasco: Nasi Gorengnya Belum Keluar

Selasa, 29 September 2026 | 13:51

Sistem Pemungutan Pajak Digital Luar Negeri sudah Beroperasi

Selasa, 29 September 2026 | 13:48

Bitcoin Masih Stabil Meski Harga Minyak Naik Tajam

Selasa, 29 September 2026 | 13:45

Pekan Ini DPR Bertemu Parpol Non-Parlemen Bahas RUU Pemilu

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

KRI Sriwijaya-100 Bakal Dimodifikasi Dukung Penanganan Bencana

Selasa, 29 September 2026 | 13:36

Selengkapnya