Berita

Ilustrasi (Gambar: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Indeks DXY Menguat Ditopang Ketegangan Geopolitik dan Lonjakan Minyak

SENIN, 30 MARET 2026 | 11:28 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Indeks Dolar AS (DXY) menunjukkan kinerja solid dengan bertahan di atas level 100 pada perdagangan Senin, 30 Maret 2026.

Pergerakan ini sekaligus memperpanjang tren penguatan selama empat sesi berturut-turut, seiring meningkatnya minat investor terhadap aset aman (safe haven). Ketidakpastian konflik di Timur Tengah yang telah memasuki pekan kelima tanpa kejelasan menjadi faktor utama yang menopang penguatan dolar AS.

Penguatan dolar kali ini juga dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik, terutama setelah pernyataan Donald Trump terkait kemungkinan mengambil alih minyak Iran serta menguasai pusat ekspor utama di Pulau Kharg.


Di pasar valuta asing, euro berada di level 1,1512 dolar AS dan berpotensi mencatat pelemahan bulanan sekitar 2,5 persen. Sementara itu, poundsterling berada di 1,32585 dolar AS dengan potensi penurunan sekitar 1,7 persen sepanjang Maret.

Mata uang lainnya juga mengalami tekanan. Dolar Australia melemah 0,3 persen ke level 0,6851 dolar AS dan menuju penurunan bulanan sekitar 3,8 persen. Adapun dolar Selandia Baru turun 0,4 persen ke 0,57275 dolar AS, dengan pelemahan bulanan sekitar 4,4 persen.

Lonjakan harga minyak akibat konflik tersebut turut mendorong ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat. Pelaku pasar kini mulai berspekulasi bahwa Federal Reserve berpotensi menaikkan suku bunga tahun ini—berbalik dari ekspektasi sebelumnya yang cenderung longgar (dovish).

Tekanan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi menjadi faktor pendukung penguatan dolar AS lebih lanjut.

Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah data ketenagakerjaan penting dari Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pekan ini.

Fokus utama pasar mencakup laporan JOLTS dan data ADP private payrolls. Selain itu, laporan nonfarm payrolls periode Maret dijadwalkan rilis pada Jumat mendatang. Namun, pasar keuangan AS akan tutup pada hari tersebut karena bertepatan dengan libur Good Friday, sehingga likuiditas perdagangan diperkirakan terbatas saat data utama dirilis.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

Sekjen MPR akan Evaluasi Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:17

UMKM Binaan Pertamina Catat Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 18:12

40 Ormas Tolak Berkas Kasus Ade Armando Cs Dilimpahkan ke Polda Metro

Senin, 11 Mei 2026 | 18:10

Bos PSI Jatim Bagus Panuntun "Puasa Bicara" Setelah 10 Jam Digarap KPK

Senin, 11 Mei 2026 | 18:09

MPR Minta Maaf soal Juri Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar Bikin Gaduh

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

PTC Bukukan Laba Rp152,9 Miliar di Tengah Fluktuasi Industri

Senin, 11 Mei 2026 | 17:43

Warga Sitaro Minta Proses Hukum Bupati Chyntia Kalangin Berjalan Adil

Senin, 11 Mei 2026 | 17:42

Bus Terguling di Tol Sergai, Empat Penumpang Tewas

Senin, 11 Mei 2026 | 17:33

Keberanian Siswi Koreksi Juri LCC Patut Diapresiasi

Senin, 11 Mei 2026 | 17:17

Bank Mandiri Pertegas Komitmen Akselerasi UMKM Naik Kelas di Ajang Inabuyer 2026

Senin, 11 Mei 2026 | 17:14

Selengkapnya