Berita

Gelombang demonstrasi besar bertajuk No King yang terjadi di Amerika Serikat pada 28 Maret 2026. (Foto: CNN)

Dunia

Aksi No Kings Jadi Vonis Rakyat untuk Trump

SENIN, 30 MARET 2026 | 09:32 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Didik Mukrianto, menyoroti gelombang demonstrasi besar yang terjadi di Amerika Serikat pada 28 Maret 2026. Aksi bertajuk #NoKings itu disebut sebagai salah satu protes terbesar dalam sejarah negara tersebut.

Jutaan warga Amerika turun ke jalan di lebih dari 3.300 titik di seluruh 50 negara bagian, mulai dari kota besar seperti New York, Los Angeles, hingga wilayah pedesaan. Bahkan, aksi solidaritas juga meluas ke Eropa, Kanada, dan sejumlah negara lainnya.

“Menurut hemat saya, ini bukan sekadar demonstrasi biasa. Ini bisa dinilai sebagai vonis rakyat terhadap presiden yang berjanji ‘Make America Great Again’ tetapi justru membuat Amerika terlihat ceroboh, kejam, dan semakin terisolasi di panggung global,” ujarnya lewat akun X miliknya, Senin, 30 Maret 2026.


Ia menjelaskan, pemicu utama gelombang protes tersebut adalah perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang diluncurkan Presiden Donald Trump pada akhir Februari 2026 tanpa persetujuan Kongres yang memadai.

Didik menilai, langkah tersebut memicu dampak luas, mulai dari jatuhnya korban sipil di Iran, termasuk anak-anak, hingga eskalasi konflik kawasan. Selain itu, lonjakan harga minyak juga berimbas langsung pada masyarakat Amerika.

“Hasilnya tragis: korban sipil Iran termasuk anak-anak sekolah, eskalasi regional, dan bisa menimbulkan lonjakan harga minyak yang menyengat dompet rakyat Amerika. Harga bensin naik tajam, inflasi melanda, dan ekonomi rumah tangga biasa akan tertekan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kebijakan tersebut bahkan mulai menggerus dukungan dari basis pendukung Trump sendiri. Slogan “America First” dinilai bergeser menjadi kepentingan pribadi.

Lebih jauh, Didik menilai narasi perubahan rezim yang digaungkan Trump terhadap Iran justru berbalik arah. Rakyat Amerika, kata dia, kini menyerukan perubahan dari dalam negeri sendiri.

“Trump membuat narasi #regimechange untuk Iran, tapi rakyat Amerika membaliknya, kalau mau ubah rezim di luar, lihat dulu di rumah sendiri,” ujarnya.

Ia juga menilai perang tersebut tidak membawa kebebasan, melainkan memperburuk kondisi global. Kredibilitas Amerika Serikat sebagai pemimpin dunia disebut semakin tergerus.

Menurut Didik, aksi #NoKings dapat menjadi peringatan keras bagi elite politik di Amerika Serikat. Ia mengingatkan, jika konsentrasi kekuasaan tidak dibendung, demokrasi bisa mengalami kemunduran serius.

“Protes No Kings bisa jadi akan menjadi benteng terakhir sekaligus peringatan: rakyat masih melawan. Tapi jika elite politik dan institusi gagal membendung konsentrasi kekuasaan ini, demokrasi Barat bisa benar-benar runtuh,” paparnya.

Ia menilai, momentum politik ke depan, termasuk pemilu paruh waktu 2026, dapat menjadi titik penting perubahan jika gerakan publik terus berlanjut secara damai dan terorganisir.

“Perubahan rezim sejati di AS melalui kotak suara, pengawasan Kongres, dan tekanan publik yang tak henti,” jelasnya.

Didik pun menegaskan bahwa posisi presiden bukanlah kekuasaan absolut. Ia menilai, gelombang protes menunjukkan meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap kepemimpinan saat ini.

“Trump, bukan raja. Presiden terpilih yang sekarang dihadapkan pada realitas. Jutaan orang muak dengan kekacauan yang terjadi. Jika terus seperti ini, vonis rakyat akan semakin keras, Trump Must Go. Amerika dan dunia pantas lebih baik dari ego satu orang,” pungkasnya.


Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Usai Raup Dana Jumbo, Danantara Diminta Transparan Soal Penyaluran Investasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:13

SLA Lampaui Target, Helita jadi Andalan Baru Layanan Digital Tangsel

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:09

Garda Bangsa: Program Pemerintah Dirasakan Masyarakat, Harus Dikawal

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:37

TVRI Jelaskan Proses, Cakupan, dan Distribusi Hak Siar FIFA hingga 2027

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:06

AMMSI: Penyesuaian Operasional MBG Perkuat Efisiensi Anggaran dan Tata Kelola Program

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:00

Ace Hasan Dorong Alumni UIN Jakarta Terus Berkontribusi untuk Bangsa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:24

Program 3 Juta Rumah Dipercepat, Pemerintah dan Danantara Bahas Meikarta hingga Inpres Baru

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:08

Tiga Besar Fortune Southeast Asia 500, Pertamina: Motivasi Perkuat Ketahanan Energi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03

Saham Intel Melesat Usai Pernyataan Trump

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:32

Polisi Ungkap Rekayasa Perampokan di Menteng, Pelaku Dendam ke Korban Sejak 2020

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:05

Selengkapnya