Berita

Erwan Widyarto. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

Sampah Saya, Tanggung Jawab Saya

SENIN, 30 MARET 2026 | 06:40 WIB

DI Indonesia, persoalan sampah kerap dipandang sebagai masalah “mereka”--pemerintah, petugas kebersihan, atau dinas lingkungan hidup. Padahal, jika ditarik ke hulu, sampah selalu berawal dari “saya”. Dari dapur saya, dari kebiasaan belanja saya, dari gaya hidup saya. Maka, ketika kita berbicara tentang krisis atau bahkan darurat sampah, sejatinya kita sedang berbicara tentang akumulasi dari 270 juta “saya” yang belum sepenuhnya bertanggung jawab.
 
Bayangkan jika setiap individu di negeri ini benar-benar menghayati satu prinsip sederhana: sampah saya, tanggung jawab saya. Maka, persoalan sampah tidak lagi menjadi beban kolektif yang berat di hilir, melainkan terselesaikan secara ringan di hulu. Tidak ada lagi tumpukan sampah menggunung di tempat pembuangan akhir (TPA), tidak ada lagi sungai yang tersumbat, dan tidak ada lagi lingkungan yang tercemar oleh perilaku abai. Tak ada lagi TPA longsor. Tidak ada TPA meledak.
 
Masalahnya, selama ini kita cenderung memutus hubungan antara konsumsi dan konsekuensinya. Kita merasa urusan selesai ketika sampah sudah keluar dari rumah. Kita tidak peduli ke mana sampah itu pergi, bagaimana ia diproses, atau dampak apa yang ditimbulkannya. Padahal, “membuang“ sampah bukan berarti menghilangkan masalah. Ia hanya memindahkannya.
 

 
Dalam kerangka hukum di Indonesia, pengelolaan sampah sebenarnya sudah diatur dengan cukup jelas. Undang-undang menegaskan bahwa pengelolaan sampah mencakup dua aspek utama: pengurangan dan penanganan. Pengurangan dilakukan melalui prinsip 3R--reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (mendaur ulang). Sementara itu, penanganan mencakup pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, hingga pemrosesan akhir.
 
Namun, regulasi tidak akan berarti tanpa partisipasi aktif masyarakat. Di sinilah peran “saya” menjadi krusial. Sebab, titik awal pengelolaan sampah ada di rumah tangga. Pemilahan, misalnya, tidak mungkin efektif jika tidak dilakukan sejak dari sumbernya. Ketika sampah organik, anorganik, dan residu tercampur, maka seluruh sistem pengelolaan menjadi lebih rumit, mahal, dan tidak efisien.
 
Sebaliknya, jika setiap “saya” disiplin memilah sampah, maka proses selanjutnya akan jauh lebih mudah. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos, sampah anorganik dapat didaur ulang, dan hanya residu yang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan lagi yang berakhir di TPA. Dengan demikian, volume sampah yang harus ditimbun dapat ditekan secara signifikan.
 
Lebih jauh lagi, tanggung jawab individu juga tercermin dalam pilihan konsumsi. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tas belanja sendiri, memilih produk dengan kemasan ramah lingkungan, semua itu adalah bentuk nyata dari reduce. Menggunakan kembali wadah atau barang yang masih layak pakai adalah praktik reuse. Sementara mengembalikan kemasan produk ke pabrik atau industri daur ulang adalah bagian dari recycle.
 
Kita sering menunggu solusi besar: teknologi canggih, kebijakan revolusioner, atau investasi besar-besaran. Padahal, solusi paling mendasar justru ada pada perubahan perilaku sehari-hari. Krisis sampah bukan semata-mata persoalan teknis, melainkan persoalan budaya. Selama budaya kita masih permisif terhadap sampah, maka seberapa pun besar upaya pemerintah akan selalu tertinggal.
 
Bayangkan jika 270 juta penduduk Indonesia masing-masing mengurangi satu kantong plastik per hari. Tidak menggunakan sedotan plastik, tidak memakai tisu. Dampaknya akan luar biasa. Jika setiap rumah tangga mengomposkan sampah organiknya, maka beban TPA akan berkurang drastis. Jika setiap individu memilah sampahnya, maka rantai daur ulang akan hidup dan bernilai ekonomi.
 
Dalam konteks ini, sampah bukan lagi sekadar limbah, tetapi cermin dari kesadaran. Ia menunjukkan sejauh mana kita bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masa depan. Sampah juga menjadi indikator kedewasaan sosial: apakah kita masih mengandalkan pihak lain untuk menyelesaikan masalah kita, atau sudah siap mengambil peran sebagai bagian dari solusi.
 
Akhirnya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Tidak perlu menunggu orang lain. Tidak perlu menunggu sistem sempurna. Cukup mulai dari diri sendiri. Dari “saya”.
 
Karena ketika “saya” berubah, “kita” akan mengikuti. Dan ketika 270 juta “saya” bergerak bersama, maka persoalan sampah bukan lagi ancaman, melainkan peluang untuk membangun Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. 
 
Erwan Widyarto 
Sekretaris Paguyuban Bank Sampah DIY dan Pengurus Departemen Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat ICMI Orwil DIY. 


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Sambut Wacana Revisi UU Tipikor, Komisi III DPR: Perlu Dikaji Lebih Mendalam

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:32

Mahasiswa Bentangkan Poster Raksasa Tolak Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:27

Asta Cita Sulit Berjalan Tanpa Stabilitas Keuangan dan Pemerintahan Bersih

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:22

Sahroni Minta Polisi Jaga Adik-adik Mahasiswa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:11

Mahasiswa Demo Mabes Polri, Jangan Kriminalisasi Pegawai PLN

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:57

Nasdem Bedah Pemikiran Bung Hatta untuk Perkuat Etika Politik

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:51

Koperasi Sawit Didorong Bangun Pabrik CPO hingga Kilang Minyak Goreng

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:45

Massa Tertahan di Depan Gedung UOB, Desak Polisi Buka Jalan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:41

IHSG Menguat Tipis Usai RUPSLB BEI Setujui Dividen Rp1,56 T

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:24

Massa Berbaju Hitam Lewat Kantor KPU RI Menuju Bundaran HI

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:14

Selengkapnya