Berita

Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib, atau yang akrab disapa Gus Salam. (Foto: Istimewa)

Politik

Gus Salam Serukan Hentikan Perang Iran-AS Demi Kemanusiaan

MINGGU, 29 MARET 2026 | 16:39 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur (Jatim), KH Abdussalam Shohib menyerukan agar perang Iran Vs AS didukung zionis Israel segera dihentikan demi kemanusiaan dan perdamaian dunia. 

"PBB harus segera mengakhiri perang zionis Israel-Amerika Serikat vs Iran demi kemanusiaan dan perdamaian dunia. Karena, tidak ada keuntungan yang didapat dari keangkuhan kecuali kehancuran," katanya, Minggu, 29 Maret 2026.

Gus Salam sapaan akrab KH Abdussalam Shohib melihat dibalik perang ini, termasuk konflik Ukraina vs Rusia dan ketegangan lainnya adalah masalah klasik, yakni persaingan (kompetisi) atas berbagai motif. 


"Kepentingan untuk memenuhi hasrat (nafsu), terutama para pemimpinnya yang mendorong sikap dan tindakan untuk menguasai, mendominasi dan melemahkan yang lain dengan berbagai cara," kata dia.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim periode 2018-2023 itu menyebut, sejarah panjang peradaban manusia telah membentuk karakter negara-bangsa. Mulai dari peradaban Persia, Yahudi, Romawi, Yunani, Mesir, Babilonia, Byzantium, Mongol hingga Nusantara. Lompatan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya dan perubahan kompleks dalam struktur sosial telah mendasari kemajuan peradabannya.

Namun, lompatan kemajuan itu kerap digunakan untuk ambisi menundukkan yang lain secara segregatif dalam kategori kawan dan lawan. Berkawan atas ragam dasar-pertimbangan, mulai agama, ideologi, orientasi hingga kesamaan strategi dan kepentingan. Serta menempatkan yang lain pada posisi pesaing (kompetitor) hingga menjadi lawan yang diwaspadai, dicurigai dan dilucuti kemampuannya.

"Keangkuhan, keserakahan dan ambisi berkuasa yang melekat pada kepemimpinan kerap menjadi penyebab terjadi tragedi kemanusiaan. Dan bila itu terjadi, dunia dipaksa untuk mencari keseimbangan baru demi kelangsungan dan keteraturan," ucap Gus Salam.

Menurut Gus Salam, Iran diremehkan dan dianggap lemah karena embargo dan tekanan politik global selama 47 tahun. Namun fakta, Iran tidak hanya bertahan (resilience), tapi sumbu perlawanan (axis of resistance) dengan membangkitkan ideologi bangsa, ilmu pengetahuan dan teknologinya. Iran mampu menegaskan kemandiriannya.

"Iran menjadi negara maju secara teknologi militer di kawasan timur tengah, sekaligus membangkitkan sejarah kecerdasan dan kebesaran persia. Dan dengan kecerdikan strateginya, Iran memblokade selat hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia, dan memicu krisis global. Iran mampu menegaskan kedaulatannya," katanya.

Berbeda dengan Israel, keangkuhan memanipulasi kebesaran ras Yahudi, membangkitkan zionisme menjadi negara ambisius yang cenderung ekspansif di kawasan timur tengah, bahkan dunia. Sejalan dengan dan atas pengaruh Israel, Amerika yang congkak ala preman, ingin mengontrol timur tengah dan dunia agar tetap tunduk dalam skema dan pengaruhnya.

"Arogansi keduanya menjadi sumber gejolak dunia. Keduanya bernafsu, terdorong, serta berkehendak untuk memastikan dunia terwarnai atas dasar kreasi imajinatifnya, baik ekonomi, militer, teknologi maupun politik. Klaim dunia terasa miliknya, dan kelangsungan negara-bangsa yang lain tidak lebih karena keberadaan posisi dan peran keduanya," tuturnya.

Pada konteks ini, lanjut Gus Salam, keseimbangan dunia menjadi labil karena ketidak setaraan hubungan didalamnya. Perang pada akhirnya hanya menjadi jalan terburuk mencapai keseimbangan, karena tidak ada warga suatu negara yang menghendakinya. Sedangkan dialog atau permusyawaratan yang seimbang dan beradab tetap diharap menjadi jalan terbaik menuju perdamaian abadi demi kemanusiaan.

"Namun semua itu, tetap kembali kepada para pemimpinnya. Pemimpin yang baik tidak akan mengorbankan aspek kemanusiaan dan keadilan demi ambisi personal, kelompok atau jejaring kepentingannya," katanya.

Mustasyar PCNU Kabupaten Jombang priode 2017- 2022 itu berkata, gejolak geopolitik global memberi pelajaran kepada Indonesia untuk konsisten pada tujuan bernegara dan berserikat dalam hubungan internasional. 

Praktik dan perilaku politik bernegara dan berserikat diorientasikan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan perdamaian dunia yang abadi demi kemanusiaan dan keadilan.

"Geoposisi dan geoekonomi Indonesia adalah keunggulan yang tidak ditemukan di negara lain. Terletak di persilangan dua samudera, yakni Hindia dan Pasifik yang penting bagi lalu lintas perdagangan dunia. Dan, Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah untuk memperkuat ekonomi nasional dalam mewujudkan kemakmuran bagi rakyat," ujar Gus Salam.

Namun, dua keunggulan itu menjadi sumber perebutan dua kekuatan adidaya dunia, yakni Amerika mewakili blok barat dan China mewakili blok timur. Alih-alih menjadi makmur, keunggulan itu semakin rapuh dan tidak bisa menopang ketahanan nasional. 

"Karena, dua keunggulan itu belum bisa secara mandiri dikendalikan manfaatnya untuk kemajuan bangsa. Indonesia belum berdaulat secara ekonomi dan terhadap sumber daya alamnya," ucapnya.

Faktanya, lesu ekonomi saat ini menjebak Indonesia tanda tangan ART Charter dengan Amerika yang isi kesepakatannya bisa melemahkan pondasi ekonomi bangsa. Termasuk, liberalisasi ekonomi yang mengancam ketahanan ekonomi, mata uang dan fiskal. Dan, Indonesia masuk BoP Trump juga potensial menumpulkan dasar konstitusi dan prinsip politik luar negeri.

"Banjirnya barang impor dan ketergantungan produk luar negeri untuk kebutuhan rakyat dan pelayanan publik, justru menjadikan Indonesia dominan sebagai pasar-konsumtif, bukan produktif. Hal itu bisa membekukan kreatifitas dan inovasi yang efek dominonya mengancam stabilitas ekonomi hingga krisis nasional. Dan perilaku instan ini telah memicu sikap dan tindakan koruptif dalam bernegara," kata dia lagi.

Padahal, bila belajar dari sejarah, kejayaan peradaban di masa lalu, telah menempatkan nusantara dikenal dengan poros kekuatan maritim. Memiliki ketangguhan secara militer, bangsa yang maju dan kaya sumber alam serta peradaban unggul. Itu dikarenakan kemampuan menyerap dan mengolah pengetahuan menjadi kebijaksanaan untuk memajukan kehidupan.

Pada konteks ini, sepatutnya sumber-sumber kekayaan strategis negara yang memenuhi hajat rakyat banyak harus kembali dikuasai, dikelola dan dikendalikan secara mandiri oleh negara supaya tidak ada monopoli, manipulasi hingga terbentuk oligarki. 

"Ekonomi berbasis gotong royong dan kreatifitas inovatif diarus utamakan dan diarahkan agar terjadi pemerataan; tidak konglomerasi pada segelintir orang," tandasnya.

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Strategi Perang Laut Iran Miliki Relevansi dengan Indonesia

Minggu, 19 April 2026 | 05:59

Inflasi Pengamat dan Ilusi Kepakaran di Era Digital

Minggu, 19 April 2026 | 05:45

Relawan MBG Kini Wajib Didaftarkan BPJS Ketenagakerjaan

Minggu, 19 April 2026 | 05:23

PB HMI Ajak Publik Pakai Rasionalitas Hadapi Polemik JK

Minggu, 19 April 2026 | 04:55

Perlawanan Iran: Prospek Tatanan Dunia Baru

Minggu, 19 April 2026 | 04:35

PDIP Setuju Parpol Wajib Lapor soal Pendidikan Politik Pakai Uang Negara

Minggu, 19 April 2026 | 04:15

JK: Rismon Mau Ketemu Saya dengan Tujuh Orang, Saya Tolak!

Minggu, 19 April 2026 | 03:53

Komnas HAM Desak Panglima TNI Evaluasi Operasi Militer di Papua

Minggu, 19 April 2026 | 03:30

Belajar dari Era Jokowi, PDIP Ingatkan Partai Koalisi Pemerintah Jangan Antikritik

Minggu, 19 April 2026 | 03:14

Indonesia Harus Belajar Filsafat dan Strategi dari Perang Laut Iran 2026

Minggu, 19 April 2026 | 02:55

Selengkapnya