Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Publika

Minyak Iran Pilihan Strategis di Tengah Antrean Panjang Minyak Rusia

MINGGU, 29 MARET 2026 | 05:20 WIB

KETIKA negara-negara Asia berlomba mengamankan pasokan minyak Rusia, Indonesia justru masih bergerak setengah hati.

Di tengah gejolak global akibat konflik Timur Tengah dan gangguan jalur distribusi energi, banyak negara memilih langkah cepat dengan mengunci pasokan dari sumber yang tersedia, bahkan jika itu wilayah abu-abu geopolitik.

Indonesia, sayangnya, masih tampak ragu -- padahal waktu adalah faktor paling mahal dalam krisis energi.


Fenomena antrean minyak Rusia menunjukkan bahwa pasar sedang panik, dan dalam kepanikan, harga akan mengikuti arah permintaan.

Diskon yang selama ini menjadi daya tarik utama minyak Rusia perlahan akan terkikis seiring meningkatnya pembeli.

Artinya, strategi “ikut membeli karena murah” hanya efektif jika dilakukan lebih cepat dari negara lain. Jika tidak, Indonesia hanya akan menjadi pembeli terakhir yang membayar lebih mahal.

Pemerintah sebenarnya sudah mendapat sinyal penting melalui adanya relaksasi dari Amerika Serikat yang memberi ruang pembelian minyak dari sumber yang sebelumnya sensitif secara politik.

Ini bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan indikator bahwa geopolitik energi global sedang bergeser ke arah yang lebih pragmatis. Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan kehati-hatian berlebihan, melainkan keberanian membaca peluang.

Masalahnya, Indonesia tampak berhenti di Rusia. Padahal jika logika yang digunakan adalah kepentingan nasional dan ketersediaan energi, maka tidak ada alasan rasional untuk menutup mata terhadap Iran. Justru di sinilah letak peluang yang lebih besar dan lebih strategis.

Iran selama ini berada di posisi unik. Produsen besar dengan cadangan melimpah, tetapi dibatasi oleh sanksi sehingga harus menjual dengan harga diskon untuk tetap menjaga arus ekspor. 

Dalam banyak kasus, harga minyak Iran bisa lebih kompetitif dibanding Rusia, terutama ketika permintaan terhadap minyak Rusia melonjak. Ini bukan sekadar alternatif, melainkan peluang arbitrase energi yang nyata.

Mengabaikan Iran berarti mengabaikan opsi yang secara ekonomi lebih menguntungkan. Dalam konteks Indonesia yang masih terbebani subsidi energi dan tekanan fiskal, keputusan ini bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga soal keberpihakan pada kepentingan domestik.

Setiap dolar yang bisa dihemat dari impor minyak adalah ruang fiskal yang bisa digunakan untuk program sosial, infrastruktur, atau stabilisasi harga dalam negeri.

Risiko sanksi barat sering dijadikan alasan untuk berhati-hati. Namun realitas global hari ini menunjukkan bahwa banyak negara besar telah lebih dulu mengambil jalur pragmatis.

India dan China tetap membeli minyak dari negara yang terkena sanksi tanpa kehilangan pijakan ekonomi mereka. Bahkan Amerika Serikat sendiri mulai menunjukkan fleksibilitas melalui berbagai relaksasi terbatas. Dunia tidak lagi beroperasi dalam logika hitam-putih, melainkan dalam spektrum kepentingan.

Indonesia seharusnya tidak terus menempatkan diri sebagai pengikut dalam dinamika ini. Sebagai negara besar dengan kebutuhan energi tinggi, Indonesia memiliki legitimasi penuh untuk mengutamakan kepentingan nasionalnya.

Lebih jauh, membuka jalur dengan Iran bukan hanya soal harga, tetapi juga soal posisi tawar. Semakin banyak opsi yang dimiliki, semakin kuat posisi Indonesia dalam negosiasi dengan pemasok lain. Tanpa alternatif, Indonesia akan selalu berada di posisi lemah -- menerima harga, bukan menentukan.

Krisis energi selalu menghadirkan dua tipe negara. Ada yang bereaksi, dan ada yang mengambil kesempatan. Indonesia harus memilih menjadi yang kedua. Jika tidak, pola lama akan terulang -- datang terlambat, membeli mahal, lalu membebankan selisihnya kepada rakyat melalui harga atau subsidi.

Berebut minyak Rusia mungkin wajar dalam situasi sekarang. Tetapi mengabaikan Iran, di tengah peluang yang begitu terbuka, adalah kesalahan strategis yang tidak perlu.

R Haidar Alwi
Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Rakornas BEM KSI Bawa Misi Besar

Jumat, 21 Agustus 2026 | 20:08

BNPB Catat 8 Provinsi Terjadi Karhutla Selama 2 Hari, Wilayah IKN Jadi Prioritas

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:52

Menkop Dorong Anak Muda Malang Bentuk Koperasi untuk Perkuat Usaha

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:51

Gus Yaqut Seret Pemerintah Arab Saudi demi Bantah Dakwaan KPK

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:48

Kinerja Menhut Atasi Karhutla Dipertanyakan, Hukum Cuma Tajam ke Bawah?

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:34

BRI Group Kelola Ekosistem Emas 153 Ton melalui Ekosistem Ultra Mikro

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:23

Belajar dari Kehancuran Harappa

Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:09

Pertarungan Para King Maker dan Super-Konektor Belakang Layar Pilpres 2029

Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:29

Petinggi PT Pakuwon Jati Diperiksa KPK

Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:28

Semua Elemen Masyarakat Harus Jaga Jakarta Tetap Kondusif

Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:05

Selengkapnya