Berita

Direktur Namarin, Siswanto Rusdi (Foto: YouTube Forum Keadilan)

Politik

Direktur Namarin Bongkar Deretan Kekecewaan Iran terhadap Indonesia

JUMAT, 27 MARET 2026 | 17:58 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Direktur National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, membeberkan sejumlah kekecewaan Iran terhadap Indonesia yang dinilai telah menggerus hubungan persahabatan kedua negara. 

Dari pertemuannya dengan duta besar dan atase pertahanan Iran di Jakarta, Siswanto mengatakan Iran menyimpan kekecewaan mendalam karena Indonesia tidak menunjukkan sikap tegas terhadap serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Minab yang menewaskan sedikitnya 168 orang.

“Iran itu sangat kecewa dengan Indonesia sebetulnya. Ada beberapa hal. Indonesia itu tidak mengecam pembunuhan anak-anak sekolah yang masih kecil-kecil. Tidak ada. Sementara banyak pemimpin lain itu dikecam," ujarnya dalam wawancara podcast di kanal Youtube Forum Keadilan, dikutip Jumat, 27 Maret 2026.


Kemudian keterlambatan Presiden RI Prabowo Subianto untuk mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei juga mencederai hubungan emosional kedua negara.

“Putin saja itu sudah duluan. Anwar Ibrahim juga duluan. Kita empat hari setelah itu. Itu pun surat. Apa susahnya, Prabowo, kalau memang dia masih melihat Iran sebagai sesama anggota OKI, gerakan non-blok, atau D8, apa susahnya?" kata Siswanto. 

Lebih lanjut, menurut Siswanto, kedekatan dengan AS membuat Iran meragukan independensi Indonesia. Khususnya saat RI memutuskan bergabung dalam inisiatif yang dicetuskan Presiden Donald Trump, Board of Peace (BoP).

“Apalagi Indonesia kan belakangan sudah berada di dalam grupnya Amerika Serikat. BoP. Jadi agak sulit bagi Iran menawarkan kesempatan kepada Prabowo," ungkapnya. 

Berkaca pada kejadian tahun lalu, Iran merasa diperlakukan tidak pantas setelah keikutsertaannya dalam ajang Multinational Naval Exercise Komodo (MNEK) di Bali (15?"22 Februari 2025) tiba-tiba dibatalkan. 

Siswanto mengatakan, kejadian itu begitu membekas karena kapal perang Iran sempat berkomunikasi dan memperoleh izin melintas, namun mendadak ditolak saat hampir tiba di perairan Indonesia.

"Bergeraklah kapal ini dari Bandar Abbas menuju perairan Indonesia. Nah itu ada 2 kali terjadi komunikasi. Pertama diizinkan, terus setengah jalan tidak diizinkan. Tiba-tiba ketika sudah sedikit lagi masuk ke perairan kita, bang nggak bisa. Ditolak sama sekali. Izinnya dicabut," ungkapnya. 

Siswanto menilai keputusan pencabutan izin mendadak itu tidak lepas dari tekanan AS yang dikabarkan akan hengkang jika Iran turut bergabung.

"Presiden Prabowo ditekan oleh Amerika untuk tidak membolehkan kapal Iran terlibat dalam komodo Exercise? Kalau tetap dibiarkan ikut, Amerika akan angkat kaki bersama sekutunya dari latihan gabungan itu," paparnya. 

Terakhir, terkait penangkapan dan rencana pelelangan tanker MT Arman 114 berisi 1,25 juta barel minyak mentah di dalamnya. Kasus ini menjadi sumber kekecewaan serius karena dinilai tidak lazim dalam praktik internasional. 

“Kenapa kapal ini dilelang? Kami (Iran) saja yang biasa menangkap kapal di Selat Hormuz, kami tidak melelang kapal orang," kata Siswanto mengutip pernyataan pihak Iran.

MT Arman 114 disita otoritas Indonesia setelah tertangkap melakukan transfer minyak ilegal antar kapal pada Juli 2023.

Proses hukum berlanjut hingga pengadilan kemudian menginstruksikan penjualan kapal, menyusul vonis bersalah secara in absentia terhadap kaptennya yang merupakan warga negara Mesir dalam perkara pencemaran.

Sebagai tindak lanjut putusan tersebut, Kejaksaan Agung RI sejak Desember 2025 mulai melelang MT Arman 114 dengan nilai Rp 1,17 triliun serta menetapkan uang jaminan sebesar Rp 118 miliar.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Kejagung Periksa 6 Saksi Kasus Korupsi BGN

Selasa, 25 Agustus 2026 | 04:12

Karhutla Tak Cukup Dipadamkan, Harus Dicegah dan Diusut

Selasa, 25 Agustus 2026 | 04:00

Bung Karno Sang Orator

Selasa, 25 Agustus 2026 | 03:38

Tangis Megawati Pecah saat Wajah Bung Karno Muncul di Langit Gelora Bung Tomo

Selasa, 25 Agustus 2026 | 03:20

Jangan Takut, tapi Tetap Waspada soal Isu Rusuh Agustus Jilid II

Selasa, 25 Agustus 2026 | 03:07

15 Saksi Dugaan Penyalahgunaan Pelimpahan Nomor Porsi Haji 2026 Diperiksa

Selasa, 25 Agustus 2026 | 02:33

Tim Hukum Hukum Ungkap 30 Pelanggaran Penanganan Kasus Febrie Adriansyah

Selasa, 25 Agustus 2026 | 02:20

DSI Resmi Beroperasi, Ini Jajaran Direksi dan Komisarisnya

Selasa, 25 Agustus 2026 | 02:02

Soekarno Cup 2026 Libatkan 400 Talenta Muda

Selasa, 25 Agustus 2026 | 01:31

Mustahil Sjafrie Larang Mahasiswi Unhan Berjilbab

Selasa, 25 Agustus 2026 | 01:21

Selengkapnya