Berita

Ekonom Bright Institute Awalil Rizky. (Foto: tangkapan layar YouTube)

Politik

Ekonom: Jangan Sepelekan Bahaya Krisis Energi Akibat Konflik Timteng

JUMAT, 27 MARET 2026 | 13:23 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Eskalasi konflik di Timur Tengah tidak bisa dipandang remeh. Bagi Indonesia, konflik tersebut berpotensi memicu krisis energi global yang dampaknya bisa menjalar ke berbagai negara mengingat Timur Tengah merupakan pusat produksi dan distribusi minyak dunia.

“Jangan sepelekan bahaya krisis energi akibat konflik Timur Tengah,” kata Ekonom Bright Institute Awalil Rizky dikutip Jumat, 27 Maret 2026.

Menurut Awalil, ketegangan geopolitik di wilayah tersebut dapat mengganggu rantai pasok energi global, terutama jika konflik berdampak pada jalur distribusi minyak internasional.


Salah satu jalur paling strategis adalah Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur distribusi utama minyak dunia. Gangguan pada jalur tersebut dapat menimbulkan guncangan besar terhadap pasar energi global.

Para analis energi bahkan menyebut krisis di Selat Hormuz sebagai salah satu gangguan terbesar terhadap pasokan energi dunia dalam beberapa dekade terakhir. Gangguan distribusi minyak di jalur tersebut dapat memengaruhi sekitar 20 persen perdagangan minyak global.

Awalil menjelaskan, lonjakan harga energi hampir selalu menjadi konsekuensi dari konflik geopolitik yang melibatkan negara-negara produsen minyak. Ketika pasokan global terganggu, pasar akan merespons dengan kenaikan harga minyak mentah.

Kondisi ini kemudian memicu efek berantai terhadap ekonomi global, mulai dari kenaikan biaya produksi, transportasi, hingga inflasi. Negara-negara yang masih bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia, menurut Awalil, akan menjadi pihak yang paling rentan terdampak.

Indonesia sendiri masih harus mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak untuk memenuhi konsumsi domestik. Ketergantungan ini membuat perekonomian nasional cukup sensitif terhadap fluktuasi harga minyak dunia.

Jika harga minyak terus meningkat, tekanan terhadap APBN berpotensi meningkat, terutama pada sektor subsidi energi. Namun demikian, pemerintah Indonesia memastikan kondisi pasokan energi nasional masih aman.

"Kami bersyukur hari ini BBM di negara kita tercinta, baik bensin, solar, LPG terpenuhi dengan baik," tegas Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis, 26 Maret 2026.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Bali Disiapkan Jadi “Dubai Baru”, Duit Asing Bebas Pajak

Jumat, 08 Mei 2026 | 20:07

DPR Minta Pemerintah Cepat Terbitkan Aturan Turunan UU PPRT

Jumat, 08 Mei 2026 | 20:01

Dugaan Korupsi Dana APBD untuk Unsultra Dilaporkan ke KPK

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:57

DPR: Kode Etik Media Arus Utama Lebih Jelas Dibanding New Media

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:38

Tarumajaya Raih Paritrana Award Bukti Desa Berpihak kepada Rakyat

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:26

Polisi Sudah Periksa 39 Saksi Terkait Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:15

Ekonomi Tumbuh (Tidak) Disyukuri

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:11

Ombudsman RI Bentuk Majelis Etik untuk Tegakkan Integritas dan Profesionalisme

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:10

Sejarah Erupsi Gunung Dukono Masa ke Masa

Jumat, 08 Mei 2026 | 19:06

PLN Bedah Mitigasi Risiko Pidana dalam Penerapan KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 08 Mei 2026 | 18:42

Selengkapnya