Berita

Sekretaris Pendiri IAW, Iskandar Sitorus. (Foto: RMOL)

Politik

IAW Apresiasi Prabowo Bongkar Inefisiensi APBD, Sentil Kinerja Kemendagri

RABU, 25 MARET 2026 | 08:25 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW) Iskandar Sitorus mengapresiasi pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait inefisiensi anggaran daerah (APBD).

Menurutnya, dari delapan Presiden RI, baru Prabowo yang secara terbuka menyinggung persoalan penggunaan anggaran hingga ke pelosok daerah.

“Ini patut diapresiasi luar biasa. Baru kali ini Presiden menyentuh uang negara sampai ke daerah yang jauh dari Jakarta,” ujar Iskandar.


Ia menduga pernyataan Presiden tidak muncul tanpa dasar. Kemungkinan besar merujuk pada temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), baik dari laporan tahunan maupun Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS).

Iskandar menjelaskan, inefisiensi dalam pengelolaan anggaran mencakup berbagai aspek, mulai dari pemborosan, markup pengadaan, hingga program yang tidak efektif.

“Inefisiensi itu bisa berarti tidak hemat, tidak efisien, dan tidak efektif. Misalnya harga barang lebih mahal, output kecil tapi biaya besar, atau program tidak mencapai tujuan,” jelasnya.

Mengacu pada data BPK, ia menyebut potensi inefisiensi pemerintah daerah pada 2023 mencapai Rp141 triliun, dengan tingkat ketidakefektifan program hingga 53 persen.

Sementara pada 2022, total temuan inefisiensi dan ketidakefektifan secara nasional mencapai Rp25,85 triliun.

Namun demikian, Iskandar juga menyoroti peran pengawasan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Dalam Negeri.

Menurutnya, Kemendagri memiliki kewenangan dalam regulasi tata kelola APBD, sehingga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemerintah daerah.

“Pertanyaannya, pengawasannya selama ini bagaimana? Jangan sampai daerah disalahkan, tapi pembinaan dan monitoring dari pusat tidak maksimal,” tegasnya.

Ia menambahkan, lemahnya sistem monitoring menjadi salah satu penyebab masih maraknya inefisiensi anggaran di daerah.

Lebih lanjut, Iskandar menilai pernyataan Presiden Prabowo sejalan dengan temuan BPK dan tidak bisa dibantah.

“Ini bukan sekadar opini Presiden. Ini data BPK. Kalau bicara anggaran, tidak bisa asumsi,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut praktik “copy paste” anggaran masih terjadi, yang berkontribusi pada pembengkakan belanja tanpa diikuti hasil yang optimal.

“Anggaran besar, tapi output kecil. Program bantuan terus naik, tapi angka kemiskinan tidak turun. Itu fakta,” pungkasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Siapa di Balik Penyadapan Presiden Prabowo?

Kamis, 05 November 2026 | 06:29

Mengendus Pasal Makar

Kamis, 05 November 2026 | 06:14

DPRD Dukung Roadshow Pramono Anung ke 44 Kecamatan

Kamis, 05 November 2026 | 06:04

Mengenal Listyo Sigit, Eks Kapolri yang Jadi Raja Oknum

Kamis, 05 November 2026 | 05:57

Penyadapan Presiden Prabowo Bukan Kasus Biasa

Kamis, 05 November 2026 | 05:43

BPOM Buka Suara soal Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin

Kamis, 05 November 2026 | 05:10

Intelektualisme Pemuda Kunci Memperkuat Persatuan Bangsa

Kamis, 05 November 2026 | 04:44

Kasus Listyo Sigit Imbas Sistem UUD 2002 yang Memproduksi Kegaduhan

Kamis, 05 November 2026 | 04:26

PAM Jaya Raih Penghargaan Pembayar Pajak Terbesar di Jakpus

Kamis, 05 November 2026 | 04:22

MUI: Penyadapan Presiden Kategori Tajassus dan Berdosa

Kamis, 05 November 2026 | 04:08

Selengkapnya