Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Trump Tahan Serangan, Indeks DXY Langsung Terjun ke Level 99

SELASA, 24 MARET 2026 | 08:00 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dominasi Dolar AS mulai goyah pada perdagangan Senin 23 Maret 2026 waktu setempat. 

Indeks Dolar (DXY), yang melacak kekuatan mata uang AS terhadap enam mata uang utama lainnya, tercatat turun 0,4 persen ke level 99,08. Penurunan ini melanjutkan tren negatif setelah pekan lalu DXY membukukan pelemahan mingguan pertamanya sejak konflik Timur Tengah pecah.

Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menunda serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari mempengaruhi pergerakan DXY.


Langkah de-eskalasi ini meredam kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan minyak global dan mendorong investor beralih ke aset berisiko.

Merosotnya indeks DXY mencerminkan penguatan signifikan pada mata uang rivalnya. Euro (EUR) melesat 0,4 persen ke posisi 1,1616 Dolar AS, level tertinggi sejak 11 Maret.

Poundsterling (GBP) juga menguat tajam 0,71 persen menjadi 1,3436 Dolar AS.

Terhadap Yen Jepang (JPY) Dolar melemah 0,6 persen ke level 158,30 Yen, menjauhi ambang intervensi psikologis di 160 Yen.

Pasar merespons positif sinyal komunikasi antara Washington dan Teheran, meskipun Kementerian Luar Negeri Iran sempat menepis adanya pembicaraan formal. 

Laporan mengenai pertemuan utusan khusus AS, Steve Witkoff, dengan Menlu Iran Abbas Araghchi tersebut turut menekan DXY lebih dalam. Seiring dengan jatuhnya harga minyak Brent sebesar 12 persen ke level 98,65 Dolar AS per barel, tekanan inflasi global sedikit mereda, yang pada gilirannya mengurangi daya tarik Dolar sebagai aset safe haven.

Meski DXY menunjukkan tren menurun, para analis memperingatkan agar pelaku pasar tetap waspada. 

Elias Haddad, Kepala Strategi Pasar Global Brown Brothers Harriman, menilai situasi masih sangat cair.

"Sampai ada kejelasan lebih lanjut, terlalu dini untuk menyebut puncak ketakutan atau de-eskalasi konflik Iran," ujar Haddad, dikutip dari Reuters. 

"Namun pasar mulai menangkap sinyal prospek yang lebih positif. Asumsi kita belum mencapai de-eskalasi, risiko besar yang saya lihat adalah guncangan energi ini bisa berubah menjadi guncangan fiskal."

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Analisis di Balik Penerimaan Eksepsi Dokter Tifa

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:52

Legislator PDIP Desak Pemerintah Benahi Infrastruktur Hulu Migas

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:34

Panglima TNI: Perang Narasi Salah Satu Ancaman Paling Berbahaya Saat Ini

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:17

PABPDSI Kawal Program Nasional Hingga ke Desa Lewat 8 Satgas Asta Cita

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:55

MBG dan Peluang Besar Bangun Ekonomi Desa

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:30

Pemerintah Buka Opsi Biayai Utang Proyek Whoosh Pakai Panda Bond

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:05

Korupsi Pakan Satwa Rp10,2 Miliar, DPR Minta Eks Dirut KBS Dihukum Berat

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:45

Lulus S2 Hukum, Mikael Saragih Ungkap PR Hukum Indonesia Tak Lagi soal Kekurangan UU

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:37

BEM Kristiani Se-Indonesia Desak Kejagung Segera Tangkap Febrie Adriansyah

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:16

Polri dan FBI Sepakat Perkuat Kerja Sama Penanganan Kejahatan Transnasional

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:03

Selengkapnya