Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Setpres)

Publika

Paradoks Prabowo: Jangan Jadi Pasar, tapi Pintu Dibuka Lebar

SELASA, 24 MARET 2026 | 05:45 WIB

ADA anomali yang mencolok ketika seruan "jangan jadi pasar orang lain" diteriakkan dengan gagah, namun di saat bersamaan, gerbang domestik justru dibuka lebar bagi serbuan produk mancanegara.

Di sinilah paradoks itu bertahta. Retorika yang tegas berbenturan dengan praktik yang terlalu lemah.

Prabowo memang lihai merajut narasi nasionalisme ekonomi yang memikat. Indonesia, tegasnya, tak boleh sekadar menjadi pasar bagi industri otomotif dan produk global. 


Logikanya jernih sekaligus menohok. Bagaimana mungkin kita berproduksi jika terus-menerus membeli? Bagaimana mungkin kita berdaulat jika hanya mahir mengonsumsi hasil keringat bangsa lain?

Namun, kemegahan narasi itu seketika ambruk saat membentur realitas kebijakannya sendiri. 

Kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat justru melangkah ke arah yang berlawanan. 

Prabowo seakan lupa bahwa dirinyalah yang membukakan gerbang bagi produk asing khususnya Amerika Serikat.

Prabowo menggelar karpet merah bagi pasar impor. Tarif dipangkas, hambatan dihilangkan, dan instrumen proteksi—yang seharusnya menjadi perisai industrialisasi -- malah dilucuti.

Secara gamblang, Indonesia sedang diposisikan sebagai pasar yang "ramah" bagi dominasi asing.

Pada titik ini, antara janji dan aksi bukan lagi sekadar bersimpangan, melainkan saling bertentangan.

Kedaulatan ekonomi tidak pernah lahir dari pasar bebas tanpa syarat. Sejarah mencatat bahwa raksasa industri seperti Korea Selatan, China, bahkan Amerika Serikat, tidak memulai kejayaan mereka dari keterbukaan total.

Mereka tumbuh dari proteksi, keberpihakan, dan keberanian membendung arus barang luar demi memberi ruang napas bagi industri lokal. 

Mereka tidak hanya mengimbau untuk tidak menjadi pasar. Mereka secara sistematis membatasi diri agar tidak dieksploitasi sebagai pasar.

Indonesia hari ini justru melakukan kontradiksi. Merayakan nasionalisme di podium sambil melegitimasi liberalisasi di atas kertas perjanjian.

Dampaknya sangat nyata. Ketika pintu dibuka tanpa kendali, industri domestik dipaksa bertarung sebelum sempat berdiri tegak. 

Mimpi tentang mobil nasional, misalnya, sudah harus beradu dengan raksasa global yang unggul segalanya -- modal, teknologi, hingga efisiensi.

Ini bukan lagi kompetisi yang sehat, melainkan ketimpangan yang dilegalkan oleh kebijakan negara sendiri.

Akibatnya, ketergantungan menjadi tak terelakkan. Struktur ekonomi kita perlahan bergeser secara berbahaya. 

Dari basis produksi ke konsumsi, dari manufaktur ke distribusi, dari kemandirian menuju ketergantungan kronis. Kita tidak hanya kehilangan pasar, tapi kita juga kehilangan arah ekonomi.

Ironisnya, seluruh pelemahan ini dibungkus dengan label "nasionalisme".

Masalah fundamentalnya adalah nasionalisme hanya dijadikan komoditas slogan, bukan cetak biru strategi. 

Ia terhenti sebagai materi pidato yang memukau tanpa pernah mewujud dalam desain kebijakan yang protektif.

Padahal, dalam percaturan ekonomi politik, kedaulatan tidak ditentukan oleh apa yang diucapkan, melainkan oleh apa yang diatur dan dilindungi.

Jika pemerintah sungguh-sungguh ingin Indonesia berhenti menjadi pasar orang lain, langkah pertamanya bukanlah sekadar membangun pabrik, melainkan membatasi dominasi produk asing. 

Tanpa pembatasan itu, pabrik-pabrik lokal hanya akan menjadi monumen simbolis, bukan solusi ekonomi.

Pada akhirnya, kita patut bertanya apakah "nasionalisme ekonomi" ini adalah target nyata, atau sekadar penenang bagi kecemasan publik?

Selama kebijakan kita jauh lebih antusias membuka pasar ketimbang membangun kapasitas produksi, Indonesia tidak sedang berupaya keluar dari statusnya sebagai pasar. 

Kita justru sedang mempermanenkan status itu dengan cara yang lebih formal dan sistemik.

Hamdi Putra
Forum Sipil Bersuara (Forsiber)

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya