Berita

Veda Ega Pratama. (Foto: Instagram @veda_54)

Publika

Veda Pratama, Bocah 17 Tahun Naik Podium Moto3 Grand Prix Dunia

SELASA, 24 MARET 2026 | 03:20 WIB

BOCAH asal Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sukses mengguncang dunia. Usianya baru 17 tahun, sukses naik podium Moto3. 

Namanya Veda Ega Pratama. Alias VP9. Alias anak muda yang membuat satu negara mendadak lupa debat, lupa buzzer, lupa survei elektabilitas. Semua fokus ke satu hal, “Ini beneran Indonesia di podium?”

Lahir 23 November 2008 di Wonosari. Bapaknya mantan pembalap Supersport 600 yang sekarang lebih sering ngurus bisnis dari pada ngebut. 


Ini bukan kisah “anak tiba-tiba jago tanpa sebab”. Ini anak yang dari kecil sudah dicekoki bensin, secara harfiah hampir begitu. 

Umur lima tahun sudah naik mini GP. Umur enam tahun sudah lebih hafal racing line dari jalan ke sekolah. 

Hero-nya Casey Stoner, target hidupnya sederhana, jadi pembalap MotoGP pertama Indonesia dan juara dunia. Sederhana… seperti janji politik yang kalau direalisasikan bikin dunia kiamat kecil.

Kariernya bukan jalur instan ala konten viral. Ini jalur berdarah-darah. Mulai dari motocross 50cc, lanjut Honda Dream Cup, One Prix, sampai Asia Talent Cup. 

Tahun 2023, dia tidak sekadar juara, dia mendominasi dengan gaya yang bikin kompetitor mikir mau pindah hobi. Sembilan kemenangan dari dua belas balapan. Total 256 poin. Itu bukan angka, itu tamparan halus ke satu benua.

Masuk Red Bull MotoGP Rookies Cup 2025, langsung runner-up. Tiga kemenangan, termasuk double win di Mugello dan Sachsenring, dua sirkuit yang kalau salah dikit, pembalap bisa pulang sambil mikir ulang hidupnya. 

Oktober 2025, Honda Team Asia langsung kasih kursi full-time Moto3 2026. Umur 17, aturan bilang minimal 18. Tapi kalau bakat sudah seperti cheat code, aturan kadang cuma jadi catatan kaki.

Debut di Buriram, Thailand: finis P5, sebelas poin. Netizen mulai gelisah, “Ini anak seriusan atau glitch sistem?” Lalu datang Brasil GP, 22 Maret 2026, Sirkuit Ayrton Senna di Goiânia. 

Kualifikasi P4. Balapan kacau, red flag, restart cuma lima lap, situasi yang biasanya bikin pembalap kehilangan arah, kayak kebijakan publik tanpa roadmap.

Veda sempat tercecer ke posisi 10. Di titik itu, banyak yang biasanya menyerah sambil menyalahkan cuaca, tim, atau nasib. Tapi ini anak beda. 

Lap terakhir, dia berubah jadi makhluk lain. Overtake-nya bukan sekadar manuver, itu deklarasi, “Saya tidak datang jauh-jauh cuma untuk jadi figuran.”

Finish P3. Podium. Di belakang Maximo Quiles dan Marco Morelli. Total poin 27, klasemen sementara posisi 3. Indonesia akhirnya berdiri di podium Grand Prix dunia. Bendera Merah Putih bukan lagi penonton, tapi pemain utama.

Lalu momen paling “nendang” tradisi mandi sampanye. Pembalap lain pesta, siram-siraman, euforia maksimal. Veda? Minggir sopan. Alkohol? Tidak, terima kasih. 

Dia tetap pegang prinsip sebagai Muslim. Di tengah dunia yang sering bilang “prinsip itu fleksibel”, satu anak Jogja justru membuktikan, konsisten itu lebih mahal dari sponsor.

Netizen langsung banjir hormat. Bukan karena dramanya, tapi karena integritasnya. Sementara di negeri sendiri, banyak yang prinsipnya berubah lebih cepat dari harga bahan pokok.

Perjalanan dari Mandalika Racing Series ke podium dunia cuma lima tahun. Didukung Red Bull Athlete dan Astra Honda Motor, tapi yang paling mahal itu mentalnya, bukan mental pencitraan, tapi mental tempur.

Dia baru 17 tahun, yang lain masih sibuk debat panjang tanpa hasil, dia sudah bikin sejarah tanpa banyak pidato. Ini bukan akhir. Ini baru trailer.

Kalau nanti dia naik Moto2, lanjut MotoGP, bahkan jadi juara dunia, jangan kaget. Yang harus kaget itu kalau kita masih meragukan anak bangsa sendiri. Gaspol terus, Veda. Indonesia akhirnya punya bukti, bukan sekadar janji.

“Hebat juga anak Gunungkidul, mengguncang dunia. Ini baru generasi emas. Apakah ia juga makan MBG, Bang?”

“Sepakat, ini yang dinamakan generasi emas. Soal apakah ia makan MBG juga, ente tanya aja bapaknya, wak.”

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Pajak Karbon Motor Bensin Bisa Tekan Emisi dan Ketergantungan Impor BBM

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:25

Istana Sampaikan Duka Cita atas Gempa NTT, Gerak Cepat Lakukan Penanganan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:19

Gempa NTT: Gudang Bulog Hancur, Manggarai Butuh 30 Ton Beras

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:02

Akses Jalan Rusak, Komisi V DPR Minta Evakuasi Via Udara Jangkau Korban Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:00

Gempa NTT, Komisi V DPR Minta BMKG-Basarnas Konsolidasikan Bantuan SAR dari Provinsi Terdekat

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:55

Persiapan HUT ke-81 RI di Istana Merdeka Capai 99 Persen

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:52

Update Gempa NTT: 14 Warga Meninggal Dunia

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:41

Purbaya Sebut Dana Transfer ke Daerah Naik Jadi Rp735 Triliun Tahun Depan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:38

Komisi V DPR Minta BMKG Aktif Update Situasi Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:32

Terkuak! Alasan Kapal Pesiar Mewah Haji Isam Dipasangi Logo Kemhan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:17

Selengkapnya