Berita

Ilustrasi/Net.

Tekno

Mengenal Fenomena El Nino Godzilla yang Bikin Kemarau 2026 Terasa Lebih Kering

JUMAT, 20 MARET 2026 | 21:27 WIB | OLEH: ANANDA GABRIEL

Fenomena alam El Nino dengan intensitas ekstrem yang dijuluki "Godzilla" diprediksi akan menghantam Indonesia pada 2026.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan bahwa anomali iklim ini berpotensi memicu musim kemarau yang jauh lebih panjang dan kering.

Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dapat mengancam berbagai sektor krusial, mulai dari ketahanan sumber daya air hingga sektor pertanian.


Dampak dari fenomena iklim ini diperkirakan akan menyelimuti Nusantara selama enam bulan, yakni mulai dari April hingga Oktober 2026.

Lantas, apa sebenarnya El Nino "Godzilla" itu dan mengapa dampaknya begitu mengkhawatirkan?

Kombinasi El Nino Ekstrem dan IOD Positif

Secara ilmiah, El Nino merupakan fenomena memanasnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang secara langsung memengaruhi pola cuaca global.

Ketika intensitas pemanasan ini mencapai titik yang sangat kuat, BRIN mengklasifikasikannya sebagai El Nino ekstrem atau "Godzilla".

Ancaman kemarau di Indonesia diprediksi akan semakin parah karena El Nino "Godzilla" ini kemungkinan besar terjadi bersamaan dengan fase Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

IOD positif adalah kondisi di mana suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian barat menghangat, sementara bagian timurnya mendingin.

Kombinasi kedua raksasa iklim ini menciptakan efek domino. Formasi awan dan hujan akan tersedot menjauh ke arah Samudra Pasifik, sementara lautan di sekitar Sumatera dan Jawa akan mendingin.

Akibatnya, pasokan awan hujan di wilayah Indonesia berkurang drastis.

Dampak yang Paradoksal: Kering di Selatan, Basah di Timur

Menariknya, efek dari Godzilla El Nino ini tidak akan dirasakan secara seragam di seluruh wilayah Indonesia.

Zona Kering: Wilayah selatan Indonesia, yang membentang dari Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT), diprediksi akan menjadi daerah yang paling menderita akibat kekeringan parah.

Kondisi kering kerontang ini juga secara otomatis melipatgandakan risiko bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Zona Basah: Sebaliknya, karena adanya dinamika atmosfer yang berbeda, wilayah timur laut Indonesia seperti Halmahera, Maluku, dan Sulawesi diprediksi justru masih akan diguyur hujan dengan intensitas tinggi.

Peralihan Musim yang Lebih Cepat

Datangnya musim kemarau yang lebih awal ini juga diamini oleh prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Berakhirnya fase La Nina Lemah pada Februari 2026 yang bergerak menuju fase netral, ditambah dengan peralihan angin Monsun Asia menjadi angin Monsun Australia, menjadi penanda kuat bahwa musim kemarau tahun ini datang lebih dini.

Melihat potensi ancaman yang tidak merata tersebut, Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Prof. Erma Yulihastin, mendesak pemerintah untuk segera menyiapkan mitigasi yang cerdas.

Langkah mitigasi tersebut harus dirancang spesifik sesuai wilayah, yakni mengatasi krisis air di selatan, mencegah karhutla di Sumatera dan Kalimantan, serta memitigasi potensi banjir di timur laut.

Di sisi lain, cuaca terik ini juga dapat dipandang sebagai peluang langka oleh pemerintah untuk menggenjot dan mengoptimalkan produksi garam nasional secara masif.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Sandy Rio Kuahaty Nakhodai GAMKI Jakut 2026-2029

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:26

Bawaslu Dorong Transformasi Digital dari Administrasi ke Pengawasan Berbasis Risiko

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:23

Kementerian HAM Perluas Akses Pendidikan Tak Hanya untuk ASN

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:14

Reformasi Kelistrikan Penting untuk Capai Ekonomi 8 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 18:01

Menkop Kukuhkan Yudi Azis sebagai Rektor IKOPIN Periode 2026–2031

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:44

Bahas Keamanan hingga Lapangan Kerja

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:42

Meracik Horor Komedi di Film Ghosthing, Ini Pandangan Peter Surya Wijaya

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:41

Tanggapi Survei Celios, Gibran Janji Kerja Lebih Baik

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:35

Mantan Pj Gubernur Sulsel Bantah Cawe-cawe Pengadaan Bibit Nanas

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:31

APBD DKI 2027 Diusulkan Rp82,89 Triliun, Naik 4,18 Persen

Selasa, 13 Oktober 2026 | 17:20

Selengkapnya