Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Politik

PKS Minta DPR dan Pemerintah Rombak APBN 2026

JUMAT, 20 MARET 2026 | 04:55 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS, Mulyanto minta Pemerintah dan DPR segera merombak APBN 2026 untuk merespons perubahan geopolitik yang berdampak pada ekonomi nasional. 

Mulyanto menilai sekarang saat yang tepat bagi Pemerintah untuk merekonstruksi kembali secara menyeluruh APBN 2026.  

Pasalnya, dalam konstelasi geopolitik hari ini, asumsi makro yang digunakan sebelumnya sudah sangat berubah. Selain perlunya merombak ulang prioritas belanja negara, di tengah kondisi tekanan fiskal yang ada.


Ia menyebut program-program sosial yang memiliki beban fiskal besar seperti program subsidi/kompensasi energi, pembangunan IKN, program MBG, Koperasi Merah Putih, dll perlu ditinjau ulang dan ditajamkan.

"Pilihan kebijakan yang diambil tidak boleh reaktif dan bersifat jangka pendek. Diperlukan langkah korektif yang terukur, menyeluruh, dan berpihak pada kepentingan nasional jangka panjang dan kepentingan rakyat secara langsung," ucap Mulyanto dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Jumat, 20 Maret 2026.

Lanjut dia, beberapa bulan terakhir, perekonomian Indonesia menghadapi tekanan yang tidak ringan.

Menurut Anggota DPR RI periode 2019-2024, tekanan fiskal tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh dinamika global seperti perang Iran-AS, melainkan disebabkan oleh kondisi fundamental ekonomi nasional, khususnya stabilitas fiskal yang telah menunjukkan tanda-tanda kerentanan sejak sebelum krisis geopolitik terjadi.

"Penilaian berbagai lembaga global terhadap outlook ekonomi Indonesia, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya premi risiko menunjukkan adanya penurunan kepercayaan terhadap pengelolaan fiskal nasional," ujarnya. 

"Apalagi Defisit anggaran  mendekati batas 3 persen PDB, meningkatnya beban utang dan pembayaran bunga, serta ekspansi belanja negara menjadi faktor utama yang perlu mendapat perhatian serius," tegasnya.

Situasi ini semakin diperberat oleh konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur energi global, khususnya Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak dunia memberikan tekanan langsung terhadap APBN melalui meningkatnya subsidi dan kompensasi energi, sehingga mempersempit ruang fiskal yang memang sudah terbatas.

Dalam kondisi seperti ini, pemerintah dihadapkan pada dilema pilihan kebijakan antara menjaga disiplin fiskal atau mempertahankan stabilitas sosial. 

"Saya memandang bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan review menyeluruh terhadap APBN 2026, dengan merevisi asumsi makro dan menata ulang prioritas belanja negara," jelas Mulyanto.

Dalam waktu yang sama, perlindungan terhadap masyarakat harus tetap menjadi prioritas. Oleh karena itu, kebijakan subsidi perlu diarahkan menjadi lebih tepat sasaran kepada kelompok rentan, sehingga lebih efektif menjaga daya beli tanpa membebani fiskal secara berlebihan.

Selain penghematan, Pemerintah perlu segera menetapkan Kebijakan Darurat Energi Nasional, mengingat tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak dan LPG, serta terbatasnya cadangan energi domestik. Penguatan cadangan energi, diversifikasi sumber impor, dan efisiensi konsumsi energi harus menjadi agenda prioritas.

"Saya yakin bahwa dengan langkah korektif yang tepat, Indonesia tidak hanya mampu keluar dari tekanan saat ini, tetapi juga dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional ke depan," tegasnya lagi. 

Untuk diketahui harga minyak Brent sekarang di atas 111 Dolar AS per barel. Sebelumnya bahkan pernah menyentuh angka 120 Dolar AS per barel. Tanpa ada upaya khusus harga minyak yang tinggi ini akan memperlebar defisit fiskal melebihi batas Undang-Undang yang 3 persen PDB.
    
Presiden Prabowo sendiri sudah menginstruksikan jajarannya untuk melaksanakan program penghematan energi.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

IPW Desak Transparansi Penegakan Hukum Kasus 1.048 Ton Udang Impor di Jatim

Minggu, 01 November 2026 | 01:50

Langkah Polisi Tangani Kasus Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo Diapresiasi Warga

Minggu, 01 November 2026 | 01:24

Polda Metro Siap Dikritik Buntut Penyelenggaraan Deklarasi Sumpah Pemuda 29 Oktober

Minggu, 01 November 2026 | 00:43

Ramai Logo Muncul di TIME100 Next Gala, Danantara Bantah Bayar Dana Sponsorship

Minggu, 01 November 2026 | 00:16

Pengurus Baru SAPMA PP DKI Jakarta Siap Berkolaborasi dengan Pemprov

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:47

Polisi Tangkap Pelaku Penembakan di Kampung Ambon, Ini Motifnya

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:17

Winda Marfita Pastikan Tak Terlibat Kasus Investasi PT MBS yang Dilaporkan Nur Istianti

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:57

Asrul Haruna Terpilih Sebagai Koorpresnas BEM PTMA Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:43

Rembuk Pemuda Himpun Aspirasi dari 29 Provinsi, Kukuhkan DPP Pertama

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:32

PPP Maluku Tolak Pemberhentian Agus Suparmanto-Taj Yasin

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:44

Selengkapnya