Berita

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

RI Siapkan Tameng Hadapi Investigasi Dagang AS

RABU, 18 MARET 2026 | 02:08 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pemerintah Indonesia bersiap menghadapi penyelidikan dagang dari United States Trade Representative (USTR) dengan menyiapkan argumentasi hukum dan bukti pendukung secara komprehensif.

Hal tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyusul putusan USTR yang membuka penyelidikan terhadap sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia.

Langkah itu diambil di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump dengan menggunakan dasar hukum Section 301 of the Trade Act of 1974, yang memberi kewenangan USTR untuk menjatuhkan tarif tambahan atau tindakan balasan lain terhadap negara yang dianggap menerapkan praktik perdagangan tidak adil.


Penyelidikan tersebut menyasar dugaan praktik ekonomi tertentu, mulai dari kelebihan kapasitas produksi (excess capacity) di sektor manufaktur hingga isu penegakan larangan impor barang yang diproduksi menggunakan tenaga kerja paksa (forced labor).

Menurut Haryo, pemerintah tidak tinggal diam dan telah mengantisipasi sejak awal proses investigasi tersebut.

“Kedua hal ini sebenarnya sudah dibahas di dalam perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART), sehingga yang paling penting saat ini kita mempersiapkan argumentasi bahwa Indonesia sudah melaksanakan atau memiliki ketentuan yang akan mengamankan hal tersebut,” kata Haryo dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa malam, 17 Maret 2026.

Untuk memperkuat posisi, Kemenko Perekonomian bersama kementerian/lembaga serta asosiasi terkait, telah melakukan konsolidasi guna menyelaraskan seluruh masukan dalam menghadapi proses investigasi.

Pemerintah juga tengah menyiapkan pembentukan tim koordinasi lintas instansi yang akan fokus pada penyusunan pembelaan berbasis analisis hukum, regulasi, serta data pendukung.

“Kita harapkan proses konsultasi bisa berjalan lebih cepat dari jadwal dengan kita memberikan bukti bahwa kita telah melaksanakan regulasi yang sudah ditetapkan,” jelas Haryo.

Tim tersebut, lanjutnya, akan mengumpulkan bukti bahwa Indonesia telah memiliki dan menjalankan regulasi terkait praktik antidumping, countervailing, hingga larangan tenaga kerja paksa, sekaligus menunjukkan kepatuhan sektor manufaktur terhadap aturan perdagangan internasional.

Menurutnya,!kelebihan kapasitas produksi yang diekspor tidak melanggar aturan selama tidak disertai praktik dumping atau perdagangan tidak adil lainnya, seperti predatory pricing.

“Mengenai kelebihan kapasitas produksi sektor manufaktur yang diekspor itu tidak menyalahi aturan WTO apabila tidak terjadi praktik dumping maupun praktik perdagangan tidak adil lainnya,” pungkas Haryo.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya