Berita

Ilustrasi/Net.

Hiburan

Raih Film Terbaik Oscar 2026, Inilah Fakta Mengejutkan One Battle After Another

SELASA, 17 MARET 2026 | 14:34 WIB | OLEH: ANANDA GABRIEL

Gemerlap malam penghargaan Academy Awards ke-98 yang digelar di Dolby Theatre, Amerika Serikat, pada Minggu, 15 Maret 2026, menjadi saksi bisu kejayaan film One Battle After Another.

Film arahan sutradara visioner Paul Thomas Anderson ini berhasil keluar sebagai pemenang utama dengan menyabet gelar paling bergengsi, yakni Film Terbaik (Best Picture).

Bagi para pencinta sinema yang telah menyaksikan penayangan perdananya di bioskop Indonesia sejak 24 September 2025, kemenangan besar ini mungkin sudah bisa diprediksi.


Mari kita bedah lebih dalam rekam jejak kemenangan dan fakta-fakta menarik di balik layar film yang mencetak sejarah baru di Hollywood ini.

Dominasi Penuh: Memborong 6 Piala Oscar Bergengsi

Dari total 13 nominasi yang didapatkan, One Battle After Another sukses membawa pulang enam piala Oscar.

Gelar yang berhasil disapu bersih meliputi Film Terbaik (Best Picture), Sutradara Terbaik untuk Paul Thomas Anderson (Piala Oscar keduanya), dan Aktor Pendukung Terbaik untuk penampilan brilian Sean Penn.

Kemudian, Skenario Adaptasi Terbaik yang juga dimenangkan oleh Paul Thomas Anderson, Penyuntingan Terbaik (Best Editing), serta Casting Terbaik (Best Casting) untuk Cassandra Kulukundis, yang sekaligus menjadi pemenang perdana untuk kategori baru ini.

Momen emosional mewarnai panggung saat Nicole Kidman dan Ewan McGregor menyerahkan piala Film Terbaik kepada Paul Thomas Anderson dan produser Sara Murphy.

Dalam pidatonya dengan mata berkaca-kaca, Murphy mengungkapkan bahwa pengalaman membuat film ini melampaui apa pun yang pernah ia bayangkan.

Tawa penonton justru pecah saat Anderson mengambil alih mikrofon.

Ia mengaku pernah melakukan kesalahan besar dengan melupakan ucapan terima kasih kepada para pemeran di masa lalu, lalu ia menebusnya malam itu dengan menyebut nama mereka satu per satu, dan menutup pidatonya dengan ajakan merayakan kemenangan lewat segelas Martini.

Fakta Menarik di Balik Layar One Battle After Another

Keberhasilan film ini tidak lepas dari proses kreatif yang sangat panjang dan kolaborasi level tertinggi di industri perfilman.

1. Kolaborasi Perdana DiCaprio dan Anderson

Film ini menandai kerja sama yang telah lama dinantikan antara Leonardo DiCaprio dan Paul Thomas Anderson.

Uniknya, kolaborasi ini nyaris terjadi puluhan tahun silam ketika DiCaprio ditawari peran utama dalam Boogie Nights (1997), namun ia kala itu lebih memilih untuk membintangi Titanic.

Dalam film ini, DiCaprio memukau penonton lewat perannya sebagai Bob Ferguson, seorang mantan militan yang hidup tenang namun terpaksa kembali terjun ke dunia gelap untuk menyelamatkan putrinya yang diculik oleh musuh lamanya, Kolonel Lockjaw.

2. Proyek Ambisius Rp2,9 Triliun dan Proses Naskah 20 Tahun

Ini bukanlah film biasa; One Battle After Another tercatat sebagai proyek dengan modal terbesar sepanjang karier Anderson.

Di bawah naungan Warner Bros. Pictures, estimasi anggaran film ini menembus US$130 juta hingga US$175 juta, atau sekitar Rp2,21 triliun hingga Rp2,97 triliun.

Ceritanya sendiri merupakan adaptasi bebas dari novel sastra kompleks berjudul Vineland karya Thomas Pynchon.

Dedikasi Anderson sangat luar biasa, di mana ia diketahui telah mengembangkan ide dan menyempurnakan naskah film ini selama hampir dua dekade (20 tahun) untuk menemukan bentuk penceritaan yang paling matang.

3. Sinergi Para Pemenang Oscar dan Bintang Baru

Kekuatan ensemble cast film ini tidak main-main karena diisi oleh tiga aktor peraih piala Oscar: Leonardo DiCaprio, Sean Penn (memerankan Kolonel Lockjaw), dan Benicio del Toro.

Di samping jajaran aktor veteran, film ini juga menjadi ajang debut layar lebar yang sangat menjanjikan bagi aktris muda Chase Infiniti.

Ia memerankan tokoh Willa Ferguson, anak dari Bob Ferguson dan Perfidia Beverly Hills (karakter yang diperankan oleh penyanyi sekaligus aktris, Teyana Taylor).

Kesuksesan One Battle After Another membuktikan bahwa dengan alokasi waktu yang matang, naskah yang digarap serius, serta kolaborasi akting kelas atas, sebuah adaptasi literatur yang rumit dapat bertransformasi menjadi mahakarya sinematik modern.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya