Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Nasib Minyak Dunia Kini Bergantung pada Iran

SENIN, 16 MARET 2026 | 09:15 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perang antara Amerika Serikat (AS dan Israel melawan Iran kini tidak hanya berdampak pada situasi militer, tetapi juga mengguncang pasar energi global. 

Saat ini banyak pelaku industri menilai bahwa masa depan pasokan minyak dan gas dunia sangat bergantung pada keputusan Iran, terutama setelah jalur pengiriman energi utama di Timur Tengah terganggu.

Situasi ini terlihat ketika perusahaan minyak raksasa Arab Saudi, Saudi Aramco, mengirim surat kepada para pembeli minyaknya di seluruh dunia. 


Dikutip dari Reuters, Senin 16 Maret 2026, dalam suratnya, Aramco mengaku belum bisa memastikan dari pelabuhan mana ekspor minyak pada April akan dilakukan. Minyak bisa saja dikirim melalui Laut Merah, tetapi juga masih mungkin lewat Teluk Persia.

Ketidakpastian ini membuat para pembeli minyak kebingungan. Seorang pembeli minyak bahkan menyindir situasi tersebut dengan mengatakan, “Mungkin saya harus menelepon Iran untuk mengetahui kapan perang ini berakhir agar saya bisa mendapatkan minyak.” 

Pernyataan ini menunjukkan bahwa banyak pihak kini melihat Iran sebagai pihak yang menentukan kapan pasar energi global bisa kembali normal.

Konflik memanas setelah Iran menutup jalur pelayaran penting di Selat Hormuz. Jalur sempit ini biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Iran menargetkan kapal-kapal di wilayah tersebut menggunakan drone dan rudal sebagai balasan atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel.

Akibatnya, produksi energi di Timur Tengah langsung anjlok. Para analis memperkirakan penurunan produksi minyak mencapai 7 hingga 10 juta barel per hari, atau sekitar 7-10 persen dari total permintaan global. Produksi gas alam cair dunia juga terpukul setelah Qatar menghentikan seluruh produksi LNG-nya yang biasanya menyumbang sekitar 20 persen pasokan global.

Serangan Iran juga memaksa beberapa kilang minyak di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Israel menghentikan operasi sementara. Dampaknya, harga minyak dan gas melonjak tajam hingga sekitar 60 persen di pasar global.

Para analis menilai bahwa bahkan jika perang berhenti sekalipun, pemulihan pasar energi tidak akan terjadi dengan cepat. 

"Jika konflik dihentikan tanpa kesepakatan dengan Iran, Teheran kemungkinan tetap akan mengganggu jalur pelayaran untuk menunjukkan bahwa mereka tidak kalah dalam konflik tersebut," menurut analis dari lembaga pemikir Chatham House.

Krisis ini membuat kepercayaan terhadap jalur pasokan energi Timur Tengah runtuh. Seorang sumber industri energi mengatakan alasan utama penghentian pengiriman sangat sederhana: “Ini soal keselamatan. Kami tidak bisa mempertaruhkan nyawa.”

Bahkan jika konflik mereda dalam waktu dekat, para analis memperkirakan gangguan pada pasar energi dunia akan berlangsung selama beberapa minggu hingga berbulan-bulan. Banyak perusahaan energi global juga diperkirakan akan menunda kembali beroperasi di kawasan Teluk sampai keamanan benar-benar terjamin.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Protelindo Masuk BTEL, Kuasai 10,86 Persen Saham Bakrie Telecom

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:26

Prabowo ke NTT Hari Ini, Pastikan Penanganan Korban Gempa Berjalan Baik

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:17

Pengamat: Rekam Jejak Mumpuni Bikin KH Marsudi Syuhud Unggul di Bursa Ketum PBNU

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:13

Presiden Prabowo Dijadwalkan Buka Muktamar ke-35 NU Besok

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:12

Emas Antam Merosot Rp18.000, Satu Gram Jadi Segini

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:03

DEEP Ingatkan Percepatan Pemilu Harus Punya Alasan Konstitusional

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:55

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Rupiah Menguat ke Rp17.690 per Dolar AS

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:44

SHOW Token Dorong Transformasi Industri Hiburan Global lewat Teknologi AI dan Blockchain

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:21

Bursa Asia Variatif, Investor Pantau Pergerakan Timur Tengah

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:06

THMP Bantah Pertemuan Jokowi-Relawan Bahas Pemilu 2029

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:03

Selengkapnya