Berita

Ilustrasi (Foto: Babbe)

Dunia

Amerika Salah Perhitungan dalam Perang Melawan Iran

SABTU, 14 MARET 2026 | 13:43 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) bersama Israel terhadap Iran dalam hampir dua pekan terakhir dinilai berkembang jauh lebih kompleks dari perkiraan awal Washington. 

Dalam ulasannya di media Rusia RT, analis geopolitik Farhad Ibragimov menilai strategi Amerika sejak awal didasarkan pada asumsi yang terlalu optimistis mengenai keruntuhan cepat sistem politik Iran.

Menurutnya, Washington semula memperkirakan serangan militer besar akan segera melemahkan Iran dan bahkan memicu runtuhnya pemerintahan hanya dalam satu atau dua hari pertama konflik. Asumsinya, pukulan telak terhadap kepemimpinan negara akan memicu efek domino berupa kekacauan di kalangan elite politik, lumpuhnya institusi negara, dan runtuhnya struktur pemerintahan.


Namun kenyataan di lapangan menunjukkan hal berbeda. Meski berada di bawah tekanan militer besar, Iran tidak menunjukkan tanda-tanda keruntuhan sistemik. Lembaga pemerintahan tetap berfungsi, proses pengambilan keputusan berjalan, dan struktur negara tetap terkendali meskipun Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan terbunuh pada hari pertama perang.

Sebagai bagian dari mekanisme politik negara tersebut, Majelis Pakar Iran kemudian menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Penunjukan ini menunjukkan bahwa sistem politik Iran memiliki struktur kelembagaan yang mampu menjaga kesinambungan kekuasaan bahkan dalam situasi krisis besar.

Ibragimov menilai ketahanan itu tidak terlepas dari pengalaman panjang Iran menghadapi tekanan eksternal, mulai dari Perang Iran-Irak hingga puluhan tahun sanksi internasional sejak Revolusi Islam Iran 1979. Model negara yang menggabungkan legitimasi religius, aparat keamanan kuat, serta struktur pemerintahan yang fleksibel dinilai memungkinkan Iran bertahan dalam tekanan ekstrem.

Di sisi lain, ia juga menyoroti inkonsistensi pernyataan pemerintah Donald Trump terkait tujuan perang. Awalnya Washington menyebut targetnya adalah perubahan rezim di Iran, namun kemudian narasi tersebut bergeser menjadi demiliterisasi Iran dan pembatasan kemampuan militernya. Ibragimov menilai perubahan retorika ini memperlihatkan ketidakjelasan strategi.

“Harapan awal Washington akan pelemahan Iran yang cepat tidak terwujud. Sebaliknya, situasi saat ini menunjukkan bahwa Republik Islam sedang menghadapi ujian berat dan siap menunjukkan ketahanannya terhadap tekanan eksternal,” tulis Ibragimov.

Menurutnya, perkembangan ini memperlihatkan bahwa konflik tersebut bukan hanya perang militer, tetapi juga ujian terhadap stabilitas politik Iran.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya