Berita

Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini (kiri) dalam Dialog Nasional DPP Persatuan Alumni GMNI di Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026. (Foto: RMOL/Alifia)

Politik

Perludem: Kita Tolak Pemusatan Kekuasaan!

RABU, 11 MARET 2026 | 22:19 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pemerintah diduga tengah berupaya memusatkan kekuasaan dalam sistem politik Indonesia. 

Dewan Pembina Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini mengatakan kecenderungan itu telah tercermin dari munculnya wacana pemilihan kepala daerah oleh DPRD.

Menurut Titi, gagasan Pilkada dipilih DPRD merupakan upaya untuk memperkuat konsentrasi kekuasaan.


“Sebagai bagian dari masyarakat sipil yang harus kita tolak betul itu adalah makin menguatnya pemusatan kekuasaan. Makanya kami menolak Pilkada oleh DPRD karena agenda itu sangat berkaitan dengan upaya pemusatan kekuasaan,” tegas Titi dalam Dialog Nasional DPP Persatuan Alumni GMNI di Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026.

Ia menjelaskan, cara mencegah kooptasi kekuasaan adalah dengan memecah pusat-pusat kekuasaan agar tidak terkonsentrasi di satu titik. Dengan demikian, kontrol terhadap kekuasaan masih tetap dapat berjalan.

Titi menilai kecenderungan pemusatan kekuasaan tersebut sudah terlihat sejak periode kedua pemerintahan Joko Widodo.

Menurutnya, kondisi politik saat ini tidak lagi sepenuhnya mencerminkan sistem multipartai yang sehat. Ia menilai dominasi satu kekuatan politik di parlemen membuat fungsi kontrol terhadap pemerintah melemah.

“Sebenarnya hari ini kita tidak lagi multipartai. Satu warna begitu. Satu warna banyak partai. Jadi lebih tepat bukan multipartai sederhana. Tetapi bagaimana kita bisa memfungsikan parlemen Sebagai kekuatan penyeimbang,” ujarnya.

Ia menyoroti pentingnya keberagaman pilihan politik di parlemen agar lembaga legislatif tetap memiliki kekuatan untuk mengawasi pemerintah dan mencegah penyalahgunaan kekuasaan.

Namun yang terjadi saat ini, kata Titi, parlemen justru lebih sering berperan sebagai pemberi legitimasi atas berbagai usulan dari eksekutif.

“Parlemen itu sekadar jadi stempel bagi proposal eksekutif. Dan itu sudah berjalan sejak periode kedua Pak Jokowi,” jelasnya.

Titi juga menyoroti wacana amandemen konstitusi. Ia mengakui perubahan konstitusi bisa dilakukan untuk tujuan demokratisasi atau untuk menjawab kegagalan sistemik dalam tata kelola negara.

Namun ia mengingatkan bahwa amandemen juga berpotensi ditunggangi kepentingan rezim yang ingin memperkuat kekuasaan secara berlebihan.

Karena itu, Titi menilai saat ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan perubahan konstitusi.

“Amandemen juga bisa ditumpangi oleh rezim otoriter untuk mengukuhkan kekuasaan dan kembali memusatkan kekuasaan. Kalau ditanya hari ini amandemen konstitusi, saya memilih untuk tidak,” pungkasnya.


Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

UPDATE

Kejagung Periksa PNS Pemprov Banten terkait Korupsi MBG

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:17

Ahli dari Polri Untungkan Febri Adriansyah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:03

Kinerja BUMD DKI Dituntut Lebih Terukur

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:53

Bayar Rp650 Juta tapi Gagal Lolos Kedokteran Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:41

KPK Bongkar Mahar Rp1,12 Miliar di Jalur Mandiri Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:29

Kiai Marsudi Dinilai Mampu Membangun Kemajuan NU Tanpa Kehilangan Jati Diri

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:17

Rektor Unsoed Diduga Terima Gratifikasi Rp680 Juta Lewat Mulyono

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:46

Ahli Praperadilan Febrie Sebut TPPU Perlu Tindak Pidana Asal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:29

Sjafrie Terima Menhan China: Perkuat Kerja Sama Militer

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:16

Mantan Dirdik Jampidsus Jasman Panjaitan Beberkan Kesaksian terkait Febrie

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:05

Selengkapnya