Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Politik

RI Harus Antisipasi Gejolak Sosial Akibat Krisis Energi

RABU, 11 MARET 2026 | 03:04 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat-Israel mulai memunculkan kekhawatiran baru bagi stabilitas ekonomi dan sosial di Indonesia. 

Konflik yang terus memanas dinilai berpotensi memicu krisis energi global yang pada akhirnya berdampak langsung pada negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah mengingatkan bahwa pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi sejak dini. 


Menurutnya, gangguan pada jalur distribusi energi dunia dapat memicu efek berantai, mulai dari lonjakan harga energi hingga potensi gejolak sosial di dalam negeri.

“Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah," kata Amir, dikutip Rabu 11 Maret 2026. 


Jika konflik Iran dan Amerika Serikat-Israel terus meningkat, maka distribusi energi global akan terganggu. 

"Dampaknya bukan hanya ekonomi, tetapi juga bisa berujung pada tekanan sosial di dalam negeri,” ujar Amir.

Salah satu titik paling strategis dalam konflik ini adalah Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur ini setiap harinya.

Jika eskalasi konflik membuat jalur tersebut terganggu, maka distribusi minyak dunia akan mengalami hambatan serius. Hal itu juga berdampak langsung pada Indonesia yang sebagian pasokan minyaknya berasal dari kawasan tersebut.

Amir mengungkapkan bahwa beberapa kapal tanker milik Pertamina dilaporkan masih tertahan di sekitar kawasan Selat Hormuz akibat meningkatnya risiko keamanan di perairan tersebut.

“Jika kapal tanker tertahan atau jalur distribusi terganggu, maka pasokan energi akan terhambat. Dalam kondisi seperti itu, harga minyak global hampir pasti melonjak tajam,” kata Amir.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya