Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Wall Street Menguat Usai Trump Isyaratkan Perang Segera Berakhir

SELASA, 10 MARET 2026 | 08:07 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar saham Amerika Serikat ditutup menguat setelah sempat mengalami tekanan tajam di awal sesi, dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang memberi sinyal bahwa perang antara AS dan Israel melawan Iran kemungkinan mendekati akhir.

Harapan meredanya konflik tersebut membuat investor kembali masuk ke pasar saham pada menit-menit terakhir perdagangan. Sentimen ini membantu Wall Street membalikkan kerugian yang sebelumnya dipicu kekhawatiran inflasi dan lonjakan harga energi.

Dikutip dari Reuters, Selasa 10 Maret 2026, pada penutupan perdagangan Senin, indeks Dow Jones Industrial Average naik 239,25 poin atau 0,50 persen menjadi 47.740,80. Sementara S&P 500 menguat 55,97 poin atau 0,83 persen ke level 6.795,99. Adapun Nasdaq Composite mencatat kenaikan terbesar, melonjak 308,27 poin atau 1,38 persen menjadi 22.695,95.


Dari 11 sektor utama di S&P 500, sembilan sektor berakhir di zona hijau. Saham teknologi menjadi pendorong utama penguatan pasar, sementara sektor keuangan dan energi justru ditutup melemah. Saham perusahaan semikonduktor juga melonjak, dengan produsen chip seperti SanDisk, Broadcom, dan Nvidia mencatat kenaikan antara 2,7 persen hingga 11,7 persen.

Meski pasar akhirnya menguat, perdagangan sepanjang hari berlangsung sangat volatil. Di awal sesi, harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi sejak pertengahan 2022 akibat gangguan pasokan dan distribusi minyak selama konflik Iran yang sudah memasuki hari ke-10.

Lonjakan harga energi tersebut memicu kekhawatiran inflasi baru di Amerika, terutama ketika banyak konsumen masih menghadapi tekanan biaya hidup. Kekhawatiran semakin besar setelah laporan ketenagakerjaan AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan kondisi yang lebih lemah dari perkiraan.

Situasi ini memunculkan risiko stagflasi, yaitu kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Jika itu terjadi, Bank Sentral AS atau Federal Reserve akan menghadapi dilema antara menekan inflasi atau menjaga pertumbuhan dan lapangan kerja. 

Namun untuk sementara, pasar memperkirakan The Fed masih akan mempertahankan suku bunga acuannya hingga pertengahan tahun ini.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya