Berita

Pedagang di pasar tradisional. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

Rupiah Jebol Rp17.000, Masyarakat Dibayangi Krisis Biaya Hidup

SENIN, 09 MARET 2026 | 20:39 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menembus level Rp17.000 per Dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi menimbulkan dampak luas, mulai dari lonjakan biaya hidup hingga risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengatakan kombinasi pelemahan kurs dan kenaikan harga minyak dunia yang saat ini mencapai lebih dari 100 Dolar AS dapat memicu kenaikan harga barang di dalam negeri.

“Dampak ke masyarakat karena naiknya harga minyak dan pelemahan kurs Rupiah bisa buat biaya hidup naik, barang makin mahal karena cost of living crisis (krisis biaya hidup),” kata Bhima kepada RMOL pada Senin, 9 Maret 2026.


Ia menilai sektor energi akan menjadi yang paling cepat terdampak. Risiko kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG disebut semakin besar karena kedua komoditas tersebut sangat sensitif terhadap pelemahan kurs Rupiah mengingat porsi impor yang masih tinggi.

Selain itu, pelemahan Rupiah juga berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap dunia usaha, terutama karena naiknya biaya produksi perusahaan.

“PHK massal karena perusahaan naik biaya produksinya juga jadi konsekuensi berantai dari pelemahan kurs,” lanjutnya.

Di sisi lain, Bhima menilai ketegangan geopolitik antara Iran dan AS turut menambah tekanan terhadap perekonomian global dan domestik. Konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran akan lonjakan harga minyak dunia yang pada akhirnya dapat memicu tekanan inflasi di dalam negeri.

“Risiko perang Iran-AS yang masih berlanjut menimbulkan kekhawatiran kenaikan harga BBM dan inflationary pressure,” jelasnya.

Bhima menambahkan, apabila harga BBM meningkat akibat lonjakan harga minyak dan pelemahan Rupiah, maka defisit APBN berpotensi melebar. Kondisi ini pada gilirannya dapat mempengaruhi inflasi, kinerja emiten, serta pasar surat utang pemerintah.

Ia juga menilai lembaga pemeringkat internasional mulai memperhitungkan risiko tersebut di pasar.

“Peringatan dari Moody’s dan Fitch Ratings mulai price in di pasar, termasuk warning dari S&P Global Ratings soal situasi fiskal,” ungkapnya.

Dalam skenario terburuk, Bhima mengingatkan kemungkinan Indonesia masuk ke jurang resesi pada kuartal II tahun ini. "Yang terburuk probabilitas Indonesia masuk resesi di kuartal II meningkat," tutupnya.

Populer

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Usai DPR, Guru Besar IPB Desak BPK Evaluasi WTP Kemenhut

Rabu, 28 Oktober 2026 | 08:24

HLN ke-81: PLN Perkuat Listrik sebagai Penggerak Kehidupan dan Kemandirian Bangsa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:47

IKA FH Undip Gelar Konsolidasi, Ini yang Dibahas

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:55

Tolak Usul Luhut, PKS Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:25

Telkom Perkuat Transparansi Ekosistem Pengadaan Digital Nasional Lewat SPSE V5

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:57

Konser Andrea Bocelli Turut Serukan Solidaritas Palestina Tuai Apresiasi

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:28

Menanti Negarawan di Tengah Oase Pragmatisme

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:55

InfraNexia Perkuat Kesiapan Infrastruktur Dukung Pertumbuhan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:25

Revitalisasi Intisab Siapkan Kepemimpinan Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:59

Kemerdekaan yang Belum Selesai: Dari Cita-Cita 1945 ke Amarah Gen Z

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:30

Selengkapnya