Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Bitcoin Menguat di Tengah Lonjakan Harga Minyak

SENIN, 09 MARET 2026 | 12:50 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga Bitcoin menunjukkan pergerakan yang relatif stabil dalam 24 jam terakhir. Mata uang kripto terbesar ini tercatat naik tipis sekitar 0,32 persen dan diperdagangkan di kisaran 67.230,71 Dolar AS, menurut data CoinMarketCap, Senin 9 Maret 2026.

Sehari sebelumnya, Bitcoin sempat turun ke level terendah dalam sepekan pada awal perdagangan Asia, Senin. Penurunan tersebut terjadi ketika pasar global diguncang kekhawatiran akibat melonjaknya harga minyak yang dipicu meningkatnya konflik dengan Iran di kawasan Timur Tengah.

Lonjakan harga energi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi ini mendorong investor cenderung menghindari aset berisiko, termasuk kripto, sehingga sempat menekan harga Bitcoin dan aset digital lainnya.


Menurut Hayden Hughes, konflik di Timur Tengah kini telah berkembang dari sekadar peristiwa militer menjadi persoalan ekonomi yang lebih luas. "Situasi geopolitik di kawasan tersebut telah berubah menjadi gangguan ekonomi yang berkelanjutan dan berdampak pada pasar keuangan global," ujarnya.

Di sisi lain, investor juga tengah menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat melalui Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan keluar pekan ini. Data tersebut dinilai penting karena dapat memberikan gambaran terbaru mengenai tekanan inflasi di AS serta arah kebijakan suku bunga ke depan.

Pergerakan Bitcoin juga sejalan dengan kenaikan sekitar 0,70 persen pada total kapitalisasi pasar kripto. Hal ini menunjukkan pemulihan yang sebagian besar didorong oleh efek beta pasar, yakni ketika aset kripto utama bergerak naik dan diikuti oleh aset kripto lainnya.

Salah satu faktor yang turut membantu stabilisasi pasar adalah mulai meredanya volatilitas arus dana pada ETF Bitcoin spot. Setelah beberapa pekan mengalami fluktuasi besar, data menunjukkan adanya arus masuk bersih sekitar 568,45 juta dolar AS pada pekan yang berakhir 6 Maret. Angka tersebut mengindikasikan tekanan jual dari investor institusional mulai mereda.

Meski demikian, pelaku pasar kini masih mencermati apakah Bitcoin mampu menembus level resistensi penting di sekitar 67.600 Dolar AS. Selain itu, stabilitas arus dana ETF dalam 24 jam ke depan juga akan menjadi indikator penting apakah momentum pemulihan ini dapat berlanjut atau justru kembali dibayangi arus keluar dana.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya