Berita

Ilustrasi. (Foto: Web-Konten)

Publika

Takwa dan Ketaatan Hukum

MINGGU, 08 MARET 2026 | 04:35 WIB

LEGALITAS bukan sekadar soal administrasi. Ia adalah sistem pertanggungjawaban. Sejak manusia hidup dalam komunitas yang semakin kompleks, standar pembuktian terus meningkat: dari saksi lisan, dokumen tertulis, pengesahan pejabat, hingga pencatatan dalam sistem negara yang permanen dan dapat diaudit. Standar ini naik bukan karena formalitas, tetapi karena dampak tindakan manusia semakin luas.

Di dalam Al-Qur'an, perintah tentang pencatatan transaksi ditegaskan secara sangat rinci dalam Surah Al-Baqarah ayat 282. Transaksi berjangka harus ditulis. Harus ada penulis yang adil. Harus ada saksi. Jangan enggan mencatat meskipun nilainya kecil. Tujuannya jelas: lebih adil, lebih kuat sebagai bukti, dan mencegah sengketa.

Perintah ini bukan nasihat moral umum. Ini adalah instruksi administratif yang konkret. Artinya, takwa dalam muamalah bukan klaim batin, tetapi kepatuhan terhadap mekanisme yang bisa diuji dan dipertanggungjawabkan.


Masalahnya menjadi jelas ketika kita hidup dalam negara modern. Hari ini, pencatatan yang memiliki kekuatan pembuktian hanya efektif jika diakui oleh sistem hukum yang berlaku. Dokumen yang tidak memenuhi standar legal nasional tidak memiliki daya paksa. Perjanjian yang tidak tunduk pada hukum negara tidak bisa dieksekusi. Sengketa yang tidak masuk ke mekanisme resmi tidak memiliki putusan yang mengikat.

Di Indonesia, kontrak yang sah mengikat para pihak dan dapat ditegakkan melalui sistem peradilan nasional. Putusan pengadilan dapat dieksekusi. Inilah bentuk konkret dari “pencatatan yang kuat sebagai bukti” sebagaimana diperintahkan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah 282. Tanpa itu, transaksi kembali menjadi urusan informal yang rawan sengketa.

Di sinilah titik tegasnya: Allah memerintahkan pencatatan. Pencatatan efektif membutuhkan sistem hukum yang mengakui dan menegakkannya. Sistem tersebut hari ini adalah hukum negara.

Jika seseorang menolak menggunakan hukum negara untuk mencatat dan menegakkan transaksi, maka secara operasional ia menolak sarana pelaksanaan perintah Allah dalam muamalah. Ia membiarkan transaksi tanpa daya bukti dan tanpa mekanisme eksekusi. Ia kembali ke pola pra-sistem yang tidak lagi memadai dalam struktur masyarakat modern.

Takwa bukan retorika identitas. Takwa adalah kepatuhan yang teruji. Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 102 diperintahkan untuk bertakwa dengan sebenar-benar takwa. Itu berarti tunduk total pada aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk urusan transaksi dan hukum.

Jika hukum negara menyediakan mekanisme pencatatan, pembuktian, dan penyelesaian sengketa yang sah, maka menggunakannya adalah bagian dari realisasi takwa. Sebaliknya, mengabaikannya berarti melemahkan pelaksanaan hukum Allah dalam praktik. Konsekuensinya bukan hanya administratif, tetapi akidah.

Seseorang yang secara sadar menolak berhukum dalam sistem yang memungkinkan tegaknya perintah Allah tentang pencatatan, pada hakikatnya sedang melemahkan tauhidnya dalam ranah sosial. Tauhid bukan hanya pengakuan lisan bahwa Allah adalah Rabb, tetapi juga tunduk pada struktur aturan yang mewujudkan perintah-Nya. Ketika perintah pencatatan diabaikan dengan menolak sistem hukum yang tersedia, maka terjadi kontradiksi antara klaim takwa dan praktik nyata.

Lebih jauh lagi, pengabaian hukum negara merusak stabilitas kolektif. Tanpa kepastian hukum, kepercayaan turun. Tanpa kepercayaan, transaksi menyempit. Modal berhenti bergerak. Konflik meningkat. Reputasi komunitas ikut terdampak. Padahal ekonomi tumbuh dari kepastian hukum, dan kepastian hukum hanya lahir dari kepatuhan terhadap sistem yang berlaku.

Karena itu, dalam konteks negara modern, takwa dan kepatuhan pada hukum nasional tidak dapat dipisahkan dalam urusan muamalah. Barangsiapa menolak mengikuti hukum negara dalam transaksi—padahal hukum tersebut menjadi satu-satunya mekanisme pembuktian dan penegakan—maka ia tidak menjalankan perintah pencatatan sebagaimana diperintahkan Allah. Klaim takwanya gugur secara operasional. Akidahnya rusak dalam praktik. Tauhidnya lemah karena tidak tunduk secara nyata pada struktur yang memungkinkan hukum Allah berjalan.

Takwa bukan slogan. Takwa adalah kepatuhan yang dapat diuji. Dan dalam sistem hari ini, kepatuhan itu terwujud melalui ketaatan pada hukum negara yang sah dan berlaku.
 
Muchamad Andi Sofiyan
Penggiat literasi dari Republikein StudieClub
 

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya