Berita

Presiden AS Donald Trump. (Foto: Shutterstock)

Politik

Banyak Warga AS Nikmati Drama Perang Trump untuk Raup Cuan di Pasar

SABTU, 07 MARET 2026 | 13:20 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Kontroversi yang kerap diciptakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai tidak hanya berdampak pada politik, tetapi juga memicu peluang keuntungan di pasar keuangan.

Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky mengatakan berbagai pernyataan dan kebijakan Trump sering memicu volatilitas di pasar global, yang kemudian dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk mencari keuntungan dari selisih harga.

Ia mencontohkan kebijakan tarif impor yang sempat diumumkan Trump dan membuat pasar keuangan dunia bergejolak.


“Begitu dia mengumumkan tarif, semua pasar keuangan dunia bergejolak turun. Lalu di tengah-tengah dia bilang dipause, begitu dipause pasar kembali naik,” kata Yanuar dikutip Sabtu, 7 Maret 2026.

Menurutnya, situasi seperti itu menciptakan peluang besar bagi pelaku pasar yang mampu membaca momentum pergerakan harga. Yanuar juga menyinggung pertemuan Trump dengan sejumlah pengelola hedge fund di Oval Office yang sempat memicu tudingan dari kubu Partai Demokrat terkait dugaan insider trading.

“Dari kubu Partai Demokrat mengatakan insider trading dilakukan oleh Trump, karena Trump seolah-olah menciptakan informasi, lalu dia bertemu dan dipublish di X-nya dengan beberapa hedge fund. Tapi kemudian Kongres Amerika Serikat juga tidak membentuk pansus,” katanya.

Karena itu, ekonom menilai fenomena yang dilakukan Trump perlu dilihat secara lebih dalam, dengan membedakan antara drama politik dan realitas ekonomi yang berkembang di masyarakat.

Yanuar juga menjelaskan, berdasarkan data yang pernah ia olah hingga 2022, semakin banyak warga AS yang mengandalkan keuntungan dari transaksi aset keuangan atau capital gain.

Ia menyebut tren tersebut terlihat dari meningkatnya kepemilikan aset keuangan oleh masyarakat, baik melalui produk hedge fund maupun investasi langsung di pasar saham.

"Hitungan terakhir saya menghitung di data 2022 itu faktanya orang AS itu semakin mengandalkan pendapatannya dari cari selisih, capital gain, orang biasa ya residence. Jadi satu ada hedgefund, ada juga yang memang main saham sendiri sebagai investor," tuturnya.

Sebagian masyarakat bahkan, kata Yanuar menjadikan aktivitas perdagangan saham sebagai sumber penghasilan utama setelah mengumpulkan tabungan dari pekerjaan.

“Jadi misalnya punya pendapatan lalu ditabung. Setelah itu tidak lagi mengandalkan gaji, tapi menjadi pemain saham. Istilahnya trading for living. Jadi artinya menjadi trader untuk kehidupan,” jelasnya.

Menurut Yanuar, fenomena tersebut membuat banyak pelaku pasar di Amerika lebih mengandalkan analisis teknikal karena membutuhkan arus kas cepat dari pergerakan harga. Akibatnya, volatilitas pasar justru menjadi hal yang dinikmati oleh banyak pelaku ekonomi.

"Makanya saya juga mengatakan terlepas kontroversial Trump terhadap nilai-nilai orang Amerika. Tapi orang Amerika juga menikmati permainan isunya Trump,  karena tanpa isu tidak mungkin bisa volatilitas yang tinggi," tandasnya.

Baru-baru ini, Presiden AS itu secara tiba-tiba melakukan operasi gabungan dengan Israel untuk memborbardir Iran. Operasi tersebut menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan ratusan warga sipil Iran lainnya, mayoritas anak-anak sekolah.

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

UPDATE

Prabowo Akui Punya DNA India, Suka Bergoyang Kalau Ada Musik

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:09

Pansus DPR Desak Kemendagri Percepat Penyusunan DIM RUU Daerah Kepulauan

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:02

Kapolri Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau, Total Kini 110 Unit

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:50

KPK Harus Tegas, Pengembalian Amplop Raja Juli Tidak Hapus Dugaan Pidana

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:44

Kejagung Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Tambang PT PMM, Ada Pegawai Bea Cukai

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:43

Prabowo Peluk Erat Modi saat Antar Kepulangannya Menuju India

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:34

Kekuatan Jokowi cuma Uang, Bukan Ideologi

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:32

Memahami Aturan Paspor Diplomatik: Siapa Saja yang Berhak Memilikinya?

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:18

Rekor Baru Messi di Piala Dunia Lewati Maradona

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:17

Ketidakadilan Laga Argentina vs Mesir Bersifat TSM

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:00

Selengkapnya