Berita

Ilustrasi, sejumlah kenderaan roda roda mengantri saat pembelian BBM bersubsidi. (Foto: RMOL)

Politik

Hati-hati, Kepanikan BBM Bisa Picu Konflik Horizontal

JUMAT, 06 MARET 2026 | 14:34 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pemerintah diminta segera memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait kondisi cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional. 

Permintaan ini disampaikan Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim, menyusul kepanikan di sejumlah daerah setelah pernyataan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia yang menyebut cadangan BBM Indonesia hanya cukup untuk sekitar 20 hari.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah memanasnya situasi geopolitik global, termasuk dampak konflik antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat, serta gangguan distribusi energi global di kawasan Selat Hormuz, salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia. Menurutnya, pernyataan tersebut justru memicu keresahan di masyarakat.


“Imbas dari pernyataan ini, di beberapa daerah justru menimbulkan kepanikan berlebih di masyarakat. Banyak SPBU mengalami antrean panjang dan masyarakat saling berebut BBM,” ujarnya di Jakarta, Jumat, 6 Maret 2026.

Politisi yang akrab disapa Gus Rivqy itu menjelaskan bahwa sistem pencadangan BBM di Indonesia pada dasarnya sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan Pertamina dalam menyediakan dana serta fasilitas penyimpanan.

“Sepemahaman saya, kapasitas pencadangan kita memang sangat bergantung pada kemampuan dana dan fasilitas untuk menyimpan. Jadi pernyataan tersebut tidak bisa dimaknai secara sederhana seolah cadangan BBM kita akan habis dalam waktu tertentu,” jelasnya.

Karena itu, ia menilai penting bagi Pertamina sebagai operator utama distribusi energi nasional untuk memberikan penjelasan yang lebih komprehensif kepada masyarakat mengenai skema ketersediaan BBM di Indonesia.

Rivqy menegaskan bahwa komunikasi publik yang jelas sangat dibutuhkan agar tidak menimbulkan kepanikan yang berpotensi memicu dampak sosial di tengah masyarakat.

“Saya berharap Pertamina juga ikut memberi penjelasan kepada masyarakat agar kepanikan ini tidak berkembang dan tidak menimbulkan konflik horizontal yang justru merugikan masyarakat luas,” pungkasnya.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya