Berita

Ilustrasi, Sejarah Konflik Iran dan Amerika Serikat (Sumber: Freepik)

Dunia

Sejarah Singkat Konflik Iran dan Amerika Serikat

KAMIS, 05 MARET 2026 | 18:54 WIB | OLEH: TIFANI

Rangkaian serangan udara di Timur Tengah memicu lonjakan tajam ketegangan geopolitik. Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). 

Situasi semakin memanas ketika Iran melancarkan serangan balasan dengan menargetkan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Salah satu target utama adalah Markas Armada Ke-5 Angkatan Laut AS di Bahrain.

Serangan juga dilaporkan menyasar pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), dan Irak sebagai respons atas operasi gabungan Israel–AS. Rangkaian aksi saling serang ini memperbesar kekhawatiran akan meluasnya konflik menjadi perang berskala global.


Konflik antara kedua negara ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari rangkaian peristiwa sejarah yang berlangsung selama puluhan tahun. Akar konflik Iran dan Amerika Serikat dapat ditelusuri hingga pertengahan abad ke-20. Sejak saat itu, hubungan kedua negara mengalami perubahan drastis, dari sekutu dekat menjadi rival geopolitik yang sering berada dalam posisi berseberangan. 

Berbagai peristiwa penting, seperti revolusi politik, krisis diplomatik, hingga konflik militer tidak langsung, semakin memperdalam ketegangan di antara keduanya. Hingga kini, konflik Iran dan Amerika Serikat masih menjadi salah satu isu geopolitik paling penting di dunia. 

Ketegangan ini tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral kedua negara, tetapi juga memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah dan keamanan global.

Sejarah Konflik Iran dan Amerika Serikat

Salah satu titik awal ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat terjadi pada peristiwa 1953 Iranian coup d'état. Kudeta ini menggulingkan Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadegh yang saat itu berupaya menasionalisasi industri minyak Iran.

Amerika Serikat bersama Inggris mendukung operasi rahasia untuk menggulingkan Mossadegh. Setelah kudeta berhasil, kekuasaan Mohammad Reza Pahlavi sebagai Shah Iran semakin kuat. 

Kedekatan pemerintah Shah dengan Barat memicu ketidakpuasan di kalangan masyarakat Iran dan menjadi salah satu akar sentimen anti-Amerika. Ketegangan memuncak saat terjadi Iranian Revolution pada 1979. 

Revolusi ini menggulingkan pemerintahan Shah dan mendirikan Republik Islam Iran di bawah pimpinan ulama revolusioner Ruhollah Khomeini. Perubahan sistem pemerintahan tersebut mengakhiri hubungan baik Iran dengan Amerika Serikat. 

Pemerintah baru Iran menilai Washington sebagai pihak yang mendukung rezim Shah yang dianggap represif. Hubungan kedua negara semakin memburuk setelah peristiwa Iran hostage crisis pada November 1979. 

Kelompok mahasiswa revolusioner Iran menyerbu Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran dan menyandera puluhan diplomat serta warga Amerika. Sebanyak 52 warga Amerika ditahan selama 444 hari. 

Peristiwa ini menyebabkan Amerika Serikat memutus hubungan diplomatik dengan Iran serta menjatuhkan berbagai sanksi ekonomi.

Ketegangan Iran dan AS di Era Modern

Konflik Iran dan Amerika Serikat kembali memanas pada awal 2000-an terkait program nuklir Iran. Washington menuduh Teheran mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran menyatakan bahwa program tersebut bertujuan untuk energi sipil.

Pada 2015, Iran dan sejumlah negara dunia menandatangani kesepakatan nuklir bernama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Namun pada 2018, pemerintahan Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan tersebut dan kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran.

Ketegangan meningkat tajam pada 2020 ketika Amerika Serikat melancarkan serangan drone di Baghdad, Irak, yang menewaskan jenderal Iran Qassem Soleimani. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat di Irak. 

Insiden ini memicu kekhawatiran dunia terhadap kemungkinan pecahnya perang terbuka antara kedua negara.


Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya