Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Publika

Mengenal Musaylimah al-Kadhab, Nabi Palsu dengan Wahyu Katak dan Gajah

KAMIS, 05 MARET 2026 | 14:11 WIB

SATU lagi tokoh antagonis dari sejarah Islam. Orangnya cerdas, hebat, memiliki pengaruh besar. Sayangnya ia pembohong. Dalam bahasa Dayak, “Pangalok” atau “Pak Ulak” dalam bahasa Sambas. 

Kalau ente baru pertama kali mendengar nama Musaylimah ibn Habib al-Hanafi, bersiaplah. Ini bukan sekadar kisah “nabi palsu” biasa. Ini drama politik abad ke-7 yang kalau difilmkan, rating-nya bisa menyalip serial intrik istana. 

Lahir sekitar 582 M dan tamat riwayatnya pada 632 M di Yamamah, wilayah yang kini kurang lebih sekitar Riyadh, Arab Saudi, Musaylimah tampil sebagai kombinasi unik antara orator, elite suku, dan politisi yang terlalu percaya diri.


Ia berasal dari Banu Hanifah, suku kuat penguasa lahan subur Najd. Dalam dunia Arab waktu itu, punya tanah subur berarti punya kuasa. 

Ini bukan sekadar petani biasa. Ini konglomerat agraria versi padang pasir. Fisiknya disebut kuat, lisannya fasih. 

Bayangkan tokoh yang bisa pidato berjam-jam tanpa teks, dengan gestur penuh wibawa, lalu pulang membawa tepuk tangan massa yang fanatik karena “dia orang kita”.

Menurut catatan klasik seperti Tarikh al-Tabari, Sirah Ibn Hisham, dan Tafsir Ibn Kathir, pada tahun 9 Hijriah atau sekitar 630 M, Musaylimah memimpin delegasi lebih dari sepuluh orang ke Madinah. 

Ia menyatakan masuk Islam di hadapan Nabi Muhammad SAW. Ia diberi hadiah, diperlakukan baik. Perannya saat itu hanya menjaga barang bawaan di luar masjid. 

Namun dalam politik, kadang jabatan kecil bisa ditafsirkan sebagai “sinyal besar”. Sepulangnya ke Yamamah, narasinya berubah. Tiba-tiba ia merasa punya “mandat langit”.

Sekitar akhir 10 Hijriah atau 631 M, ia mulai mengklaim diri sebagai nabi. Tidak tanggung-tanggung, ia menyebut dirinya juga menerima wahyu dan bahkan menggunakan gelar “Rahman”. 

Ia lalu mengirim surat kepada Rasulullah yang isinya luar biasa percaya diri. Ia mengaku sebagai mitra kenabian dan mengusulkan pembagian bumi. Setengah untuk Banu Hanifah, setengah untuk Quraisy. 

Proposal geopolitik ala abad ke-7 ini terdengar seperti negosiasi kursi kabinet. Bagi dua dulu, legitimasi belakangan. Jawaban Nabi tegas dan singkat, bumi milik Allah. Diterjemahkan ke bahasa Madura, “Tanah milik tohan.” 

Namun bagian paling epik, dan sekaligus membuat orang modern geleng-geleng kepala, adalah “wahyu” versinya. Ia mencoba meniru gaya saj’ Alquran. Dramatis, berima, penuh repetisi. Hasilnya?

Tentang katak, ia menggubah:

“Y? ?ifda?, y? binta ?ifda?ayn,
naq? m? tunnaq?n.
A?l?ki f? al-m?’,
wa asfaluki f? al-??n.
L? al-m?’a tukaddir?n,
wa l? al-sh?riba tamna??n.”


Wahai katak, anak dua katak, berkumurlah sesukamu. Bagian atasmu di air, bawahmu di lumpur. Engkau tidak mengeruhkan air dan tidak menghalangi orang minum. Dramatis? Ya. Revolusioner? Sulit dibuktikan. Lebih mirip lomba baca puisi tingkat RT dengan tema “Fauna Rawa”.

“Bang, katak di situ apakah sama dengan kodok?” 

“Sama-sama hewan amfibi. Berkaki empat, punya dua alam.” Ups.

Lalu, ada wahyu tentang gajah pula. Yang jelas ini bukan gajah yang itu ya!

Ayat tentang gajah:

“Al-f?l, wa m? al-f?l,
wa m? adr?ka m? al-f?l.
Lahu dhanabun wab?l,
wa khur??mun ?aw?l.”


Gajah. Apa itu gajah? Tahukah engkau apa itu gajah? Ia punya ekor besar dan belalai panjang. Struktur retoriknya jelas meniru pola Al-Qur-an. Namun isinya terdengar seperti deskripsi buku IPA kelas dasar. Jika ini kampanye, mungkin slogannya: “Kenali Gajah, Selamatkan Najd.”

Menariknya, program sosialnya sangat “populis”. Pengikutnya dibebaskan dari salat. Alkohol dibolehkan. Zina dilegalkan. Aturan dipermudah. Dalam setiap zaman, janji pelonggaran aturan selalu punya pasar. Ribuan orang bergabung. Beberapa riwayat menyebut pasukannya mencapai 40.000 orang. Identitas kesukuan ditambah janji kenyamanan hidup menjadi kombinasi memikat.

Setelah Rasulullah wafat, situasi politik Jazirah Arab memanas. Perang Riddah meletus. Musaylimah tampil sebagai tokoh utama pemberontakan. Ia bahkan beraliansi dengan Sajah bint al-Harith, sesama pengklaim kenabian. Koalisi duo “nabi” ini seperti merger dua partai yang sama-sama yakin elektabilitasnya paling tinggi.

Puncaknya adalah Pertempuran Yamamah pada Desember 632 M. Pertempuran brutal. Ribuan prajurit gugur. Banyak huffaz Alquran wafat di medan perang. 

Di tengah kekacauan itu, akhir Musaylimah datang melalui tombak Wahshi ibn Harb, orang yang sebelumnya pernah membunuh Hamzah dalam Perang Uhud sebelum masuk Islam. Ironi sejarah terasa kental. Satu tombak, dua babak sejarah.

Dampaknya tidak kecil. Karena banyak penghafal Alquran gugur di Yamamah, Khalifah Abu Bakar memerintahkan pengumpulan dan kodifikasi Al-Qur'an secara resmi agar tidak hilang. Dari tragedi lahir langkah monumental.

Kisah Musaylimah al-Kadhab bukan sekadar cerita masa lalu. Ia menunjukkan bagaimana retorika bisa dipoles menyerupai wahyu, bagaimana kekuasaan bisa dibungkus bahasa suci, dan bagaimana massa bisa terpesona oleh janji manis yang terdengar indah. 

Sejarah abad ke-7 ini terasa sangat modern. Bedanya hanya satu, dulu panggungnya padang pasir, sekarang mungkin layar gawai.

Nantikan kisah menarik selanjutnya, ditunggu ya!

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya